Beauty Sunrise

Ulat Sumeh Agawe Renaning Wong Akeh.

Rapuhnya tiang saka Kraton

Orang yang SABAR itu memiliki pengetahuan yang luas adalah orang yang tidak akan terombang-ambing oleh keadaan.

Good Morning Flamingo

Lakonana Disik Dadi lan Becike.

Pagar Keraton

Sejatinya itu tidak ada apa-apa, yang ada itu bukan.

Red Sunset

PERCAYA itu ibarat tali yang menghubungkan Tuhan Yang Maha Esa kepada umatnya.

Showing posts with label Review Buku. Show all posts
Showing posts with label Review Buku. Show all posts

Wednesday, September 2, 2015

Mencari Abangan, Santri, dan Priyayi


reviewer by pandu pramudita

Abangan, Priyayi, dan Santri, adalah tiga kategori kelompok sosial yang berkembang di Jawa. Setidaknya itu yang dikatakan Clifford Geert saat ia melihat kondisi Jawa di tahun 70-an. Kondisi politik yang pada saat itu bergejolak juga menyeret penampakan tiga golongan ini dalam keberpihakan dalam arus politik praktis, yang dikenal sebagai politik aliran. Partai politik yang berideologi kedaerahan diduking oleh kelompok abangan, kaum santri mendukung partai politik yang berbasis ideologi agama, khususnya Islam, dan kelompok priyayi yang mendukung partai politik yang berbasis nasionalisme. Setidaknya itu yang kemudian dimengerti oleh kebanyakan dan yang diajarkan di sekolah-sekolah. Namun, apakah demikian? Kembali membaca buku yang berjudul Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyayi dalam Kebudayaan Jawa akan menyegarkan kembali pengetahuan yang selama ini bereda. Ini adalah buku yang pernah dicetak pada tahun 1985 oleh penerbit Pustaka Jaya, dan kini dicetak ulang oleh penerbit Komunitas Bambu.
...........................................................................................................................................................................................................................................................................
... Tipologi pola pekerjaan yang terkristalisasi mencerminkan dasar organisasi sistem ekonomi kota ini, yang darinya tipologi ini dihasilkan. Demikian juga penggolongan penduduk menurut pandangan mereka – menurut kepercayaan agama, preferensi etis dan ideologi politik mereka – menghasilkan tiga tipe utama kebudayaan yang mencerminkan organisasi moral kebudayaan Jawa sebagaimana terwujud di Mojokuto, ide umum tentang ketertiban yang dengannya petani, buruh, tukang, pedagang atau pegawai membentuk perilaku mereka dalam segala bidang kehidupan. Tiga tipe kebudayaan ini adalah abangan, santri dan priyayi.
Menurut hemat saya, rupanya terdapat tiga inti struktur sosial yang utama di Jawa pada masa ini; desa, pasar, dan birokrasi pemerintah ... Evolusi desa Jawa ampai kepada bentuknya yang sekarang, pada setiap tahapnya diatur dan diekspresikan oleh sistem keagamaan yang kurang lebih terpadu; sistem keagamaan itu sendiri tentu saja juga mengalami perkembangan; animisme, Hinduisme, dan juga Islam ... Tradisi keagamaan abangan, yang terutama sekali terdiri atas pesta keupacaraan yang disebut slametan, kepercayaan yang luas dan kompleks terhadap makhluk halus serta serangkaian teori dan praktik pengobatan, sihir serta magi, adalah subvarian pertama dalam sistem keagamaan umum orang Jawa. Sistem ini diasosiasikan dengan cara yang luas dan umum dengan desa orang Jawa.
Substruktur sosial yang kedua, pasar, harus dimengerti dalam arti yang luas hingga mencakup seluruh jaringan hbungan dagang dalam negeri di pulau itu ... Pengaitan elemen perdagangan orang Jawa dengan versi Islam yang lebih murni daripada yang lazim di Jawa, bisa ditarik ke belakang sampai ke saat masuknya agama Timur Tengah itu ke Pulau Jawa. Pasalnya, agama itu masuk sebagai bagian dari perluasan dagang besar-besaran di sepanjang Laut Jawa, yang pada akhirnya dirangsang oleh kemunculan Abad Eksplorasi di Eropa ... Islam yang lebih murni – yang tidak begitu terkontaminasi oleh animisme atau mistisisme – itu merupakan subtradisi yang saya sebut santri.
Ketiga adalah priyayi, yang pada mulanya hanya merujuk pada kalangan aristokrasi turun-menurun yang oleh Belanda dicomot dengan mudah dari raja-raja Pribumi yang ditaklukkan, untuk kemudian diangkat sebagai pegawai sipil yang digaji ... Mereka tidak menekankan eemen animistis dari sinkretisme Jawa yang serba melingkupi seperti kaum abangan, tetapi tidak pula menekankan elemen Islam sebagaimana kaum santri.  Di abad ini, posisi sosial dan politik yang diwariskan kelompok ini, sepanjang terkait dengan masyarakat asli Jawa, sudah makin lemah. Akses untuk masuk birokrasi sudah lebih mudah bagi kalangan tang sekalipun berketurunan rendahan, tetapi memiliki pendidikan yang baik dan pekerjaan “kerah-putih” non-pemerintah telah muncul dalam jumlah yang semakin banyak ... Sekalipun demikian, varian priyayi tidak saja tetap kuat bertahan di antara elemen konservatif tertentu dari masyarakat, tetapi juga memainkan peran dasar dalam membentuk pandangan dunia, etika dan tingkah laku sosial dari elemen yang bahkan paling terbaratkan dalam kelompok kerah-putih yang masih dominan. Sopan santun yang halus, seni tinggi serta mistisisme intuitif, semuanya masih menjadi karakteristik utama elite Jawa; dan sekalipun sudah semakin menipis serta mengalami penyesuaian dengan keadaan yang telah berubah, gaya hidup priyayi masih tetap menjadi model tidak hanya untuk kalangan elite, tetapi dalam banyak hal, juga untuk seluruh masyarakat.
..........................................................................................................................................
Jawa tak mudah dicirikan dengan satu label atau digambarkan di bawah satu tema yang dominan. Pulau itu lebih lama mengalami peradaban daripad Inggris yang selama dari 1500 tahun telah menyaksikan orang-orang India, Arab, Cina, Portugis serta Belanda, datang dan pergi. Dewasa ini, Jawa memiliki jumlah penduduk yang termasuk paling padat di dunia, pertumbuhan kesenian yang paling tinggi serta pertanian yang paling intensif. Karenanya, pada halaman-halaman berikut, saya mencoba menunjukkan betapa banyak variasi dalam upacara, pertentangan dalam kepercayaan dan konflik daam nilai-nilai, yang tersembunyi di balik pernyataan sederhana bahwa penduduk Jawa lebih dari 90% beragama Islam. Kalau saya, sebagai konsekuensinya, telah memilih penekanan pada keanekaragaman keagamaan di Jawa masa kini – atau lebih khusus lagi, di sebuah kompleks kota-desa di Jawa masa kini – maka maksud saya bukanlah untuk mengingkari dasar kesatuan keagamaan dari rakyat Jawa, atau lebih luas lagi, dari rakyat Indonesia pada umumnya. Namun, untuk membawa pulang, kenyataan tentang kompleksitas, kedalaman dan kekayaan spiritual mereka.
(Clifford Geertz, 2013)
...........................................................................................................................................................................................................................................................................

Untuk perkembangan Jawa pada masa kini (di abad 21) maka apa yang dikatakan Geertz sudah tidak lagi dengan mudah dilihat di masyarakat Jawa. Beberapa penulis buku atau peneliti, juga mengatakan ketidaksetujuannya mengenai pembagian golongan di masyarakat Jawa itu. Namun bagi saya, memanglah hal itu tidak akan mungkin dapat dilihat pada masyarakat Jawa masa kini, dan itu hanya muncul pada masyarakat Jawa pada masa itu, terlebih dalam kacamata Geertz sendiri. Hal yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana Geertz kemudian terjun dalam masyarakat Jawa, mecoba menyatu dalam kehidupan mereka sehingga memiliki pandangan yang tajam dan mendetail mengenai masyarakat Jawa. Selain itu juga, buku ini juga masih menjadi buku penting untuk studi antropologi khususnya untuk mempelajari masyarakat Jawa yang representatif mencerminkan kondisi Jawa pada waktu itu, dan untuk studi sosiologi, khususnya yang berkaitan dengan kelompok sosial. Selamat berburu buku.

Masuk Lewat Pintu Belakang


reviewer by pandu pramudita

Masuk lewat pintu belakang, lebih sering menjadi sebuah konotasi negatif di masyarakat, yan berarti sembunyi-sembunyi atau bermain curang. Namun kali ini pintu belakang yang dimaksud memiliki makna denotasi atau makna sesungguhnya, yaitu bagian rumah yang berfungsi untuk keluar masuk dari belakang. Apakah rumah anda memiliki pintu belakang? Mungkin saja ada yang mengatakan, “Mengapa harus ada pintu belakang, belakang rumah saya ada tembok besar berdiri kokoh menghimpit dinding belakang rumah”. Ya, mungkin kecuali rumah mereka yang bagian belakangnya harus berhimpitan dengan sebuah akses yang mati, seperti sungai, tembok, atau barangkali jurang. Saya sendiri tinggal di rumah yang memiliki tiga akses pintu, pintu depan sebagai pintu utama yang menghubungkan halaman dan ruang tamu, di bagian samping depan juga terdapat pintu garasi dimana kebanyakan penghuni rumah ini keluar masuk melewati pintu itu, dan sebuah pintu lagi di belakang yang menghubungkan ruang keluarga langsung ke akses jalan setapak. Dapat saya katakan bahwa pintu utama itu adalah pintu kehormatan, dimana kala tamu berkunjung pintu itu terbuka, pintu belakang adalag akses sosial, dan pintu garasi adalah akses ekonomi di rumah ini. Tapi hal ini membutuhkan penjelasan lebih lanjut, dan halaman ini tidak cukup untuk menjelaskan itu. Tapi setidaknya, rumah Anda saya harap memiliki pintu akses kedua setelah pintu depan atau pintu utama. Berikut saya akan menyajikan sebuah cuplikan buku yang melihat pentingnya pintu kedua, atau lebih dia tegaskan dengan Pintu Belakang.
...........................................................................................................................................................................................................................................................................
Kami sendiri sangat heran ketika kami kembali untuk pindah ke rumah tersebut dan melihat perubahannya. Sebelum rumah itu selesai, pintu belakang yang melewati tempat kamar mandi (dalam hal ini mencakup toilet) sebelumnya terbuka ke halaman luar sehingga orang dapat dengan mudah pergi ke halaman rumah keluarga Sae dan keluarga Cipto dan pintu belakangnya. Ketika kami kembali, seluruh halaman itu telah berdinding tembok, dan telah ada atap di separuh bagian yang kini menjadi dapur dengan tempat cuci piring, lantai keramik dan air yang disalurkan melalui pipa. Yang paling mencolok, bagian belakang itu kini putus hubungannya sama sekali dengan tetangga-tetangga oleh dinding setinggi lebih dari 2 meter. Bagi kami, ruang baru ini enak, sangat pribadi di belakang rumah, jauh dari intipan mata orang lain. Bagi tetangga-tetangga kami, dinding baru itu tidak saja menandai putusnya hubungan yang ada selama ini antara kampung dan keluarga, tetapi juga menyebabkan rumah kami tidak dapat berfungsi dalam masyarakat kampung.
Bagian dari keluarga itu yang keadaannya lebih baik dari sisi keuangan, Ibu dan Bapak Widodo, rupanya sengaja membangun rumah itu seperti itu agar tidak lagi berfungsi sebagai rumah keluarga. Rumah itu diputus dari kegiatan keluarga dan kegiatan masyarakat. Bu Sae sendiri mengeluhkan hal itu kepada saya. Dia tidak dapat lagi pergi ke rumah sepupunya dari pintu belakang rumahnya. Rumah baru itu berdinding tembok; blok kayu yang panjang menghalangi aliran udara yang sebelumnya mengalir melalui rumahnya. Rumah baru kami itu tidak saja menghambat aliran udara tetapi juga menghambat arus orang dan barang. Setelah bagian belakang rumah kami itu selesai, rumah itu merupakan bangunan yang kokoh dari gang di depan hingga ke dinding tembok belakang, dan secara efektif membentuk batas antara apa yang sebelumnya merupakan pekarangan keluarga yang lebih terbuka.
Namun, rumah itu memiliki sebuah pintu menuju ke halaman belakang, yang separuhnya menjadi bagian dari dapur. Pintu yang hilang adalah pintu keluar ke sebuah gang sempit yang merupakan jalan pintas ke jalan menuju barat. Tidak adanya pintu belakang tidak saja signifikan dari sisi arti pintu itu bagi hubungan kekerabatan, tetapi juga dari sisi pesan yang dikirimkannya mengenai keadaan sosio-ekonomi warga kampung yang berubah-ubah. Dan seperti ternyata kemudian, pintu depan dan pintu belakang sama pentingnya untuk hubungan sosial di kampung, tetapi dari segi yang sangat jauh berbeda.
Di Jawa menerima tamu sangat ditekankan. Untuk menerima tamu dengan baik, paling tidak dia harus disuguhi minum. Sangatlah buruk bila kita tidak siap siapapun yang datang atau berapa banyak tamu yang hadir. Saya berkali-kali menyaksikan etika ini dalam kehidupan sehari-hari, tetapi mungkin epiode yang paling banyak memberi pelajaran kepada saya ialah ketika saya kedatangan tamu dan tidak ada gula dan teh. Saya minta tolong kepada Mas Yoto, salah satu dari anak-anak yang selalu menemani kami di rumah, untuk pergi membeli gula, tanpa menyadari apa yang saya minta untuk dilakukannya. Baru ketika ia kembali dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan kantong gula tersembunyi di balik bajunya, yang terpaksa dilakukannya karena dia harus masuk dari pintu depan, menjadi jelas bagi saya tidak adanya pintu belakang di rumah kami sangat dirasakan sebagai kurangnya rasa soial, bahkan oleh seorang bocah laki-laki berusia sepuluh tahun.
...........................................................................................................................................................................................................................................................................

Dengan studi etnografinya, Newberry memberikan sentuhan yang detail mengenai kehidupan di kampung, terutama di masyarakat Jawa yang tersimpan dalam bagian rumah, yaitu pintu belakang. “Back Door Java: Negara, Rumah Tangga, dan Kampung Di keluarga Jawa” adalah judul buku itu, diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia (YOI) yang bekerja sama dengan KITLV-Jakarta. Buku ini dapat membantu anda yang sedang akan mempelajari etnografi. Penangkapan fenomena dan pengambilan makna dengan sentuhan etnografi tampak di setiap babaknya. Tidak heran jika Newberry adalah Ketua Jurusan Antropologi di University of Lethbridge, Kanada. Selamat berburu buku.

You should know her : Mari Belajar Mengenai Perempuan


reviewer by pandu pramudita

Salah satu gerakan perempuan, yang dikenal sebagai feminis, adalah menanamkan pengetahuan kepada mereka agra dapat mengeluarkan pendapatnya sendiri dan tidak menjadi manusia makhluk kedua setelah laki-laki. Hanya saja, penanaman ini tidak dapat hanya bergerak satu sisi. Agar sampai pada tujuan kesetaraan gender, maka harus ada sebuah penanaman pengetahuan bersama, saling mengerti dan memahami adalah tujuan utama agar mencapai kehidupan yang lebih baik. Antara laki-laki dan perempuan jika terjalin saling pengertian, maka tidak akan lagi terjadi sebuah perendahan salah satu gender dalam persamaan manusia. Berikut saya akan mencuplikkan sebuah chapter dalam buku yang selanjutnya saya rekomendasikan kepada Anda untuk membacanya lebih lanjut.

Ujung Payung Tidak Menghamili

“Dokter, istri saya berusia sembilan belas tahun mengharapkan punya anak dari saya,” kata seorang suami berusia 90 tahun, ketika mendatangi tempat seorang dokter ahli kandungan.

Si dokter ahli kandungan menanggapi dengan ramah dan manis, “Baik, tapi dengarkan dulu cerita saya ini.”

Lelaki berusia tua mendengarkan cerita dokter ahli kandungan yang duduk di hadapannya.

“Ada seorang pemburu,” dokter ahli kandungan memulai ceritanya, “pemburu itu membuat kesalahan. Ia tidak membawa senapan melainkan payung untuk berburu. Tiba-tiba seekor beruang menyerang si Pemburu. Dengan cekatan si pemburu mengarahkan payungnya dan menembakkan ke arah beruang tersebut. dan, beruang itu pun mati.”

“Mana mungkin? Pasti ada orang lain yang menembak beruang itu,” seru lelaki tua itu menanggapi cerita si dokter.

“Itulah, maksud saya!” kata si dokter ahli kandungan dengan tegas.
(Disadur dari Plato and a Platypus Walk into a Bar)

Lelucon yang baru Anda baca adalah analogi yang melukiskan bagaimana mungkin seorang kakek berusia uzur bisa menghamili perempuan berusia sangat muda? Tetapi seperti halnya perempuan pada umumnya, perempuan muda itu pun ingin punya anak.

Mengapa si perempuan ingin punya anak? Jawabannya, karena ia perempuan. Ada anggapan kuat dan diyakini masyarakat bahwa jika seorang perempuan punya anak, maka ia menjadi perempuan sempurna. Maka, tak usah heran apabila banyak perempuan yang merana, merasa hina dan tidak berguna jika tidak mempunyai anak. Di lain pihak, para perempuan penganut feminis radikal-liberal menolak punya anak. Atau, jika punya anak ingin hamil melalui sistem ekstogenesis (kehamilan di luar tubuh dengan menggunakan plasenta buatan). Alasan mereka, mejadi ibu biologis itu memeras perempuan baik secara fisik maupun psikologis (Tong, 1998).

Suka atau tidak suka, siapa pun yang telah lahir ke dunia ini sebagai perempuan tentulah tidak menolak. Mungkin, bisa saja mengingkarinya dengan cara operasi kehamilan. Tetapi gennya sebagai perempuan tidaklah bisa dihilangkan, yaitu terlahir dari bentukan sel sperma lelaki yang terdiri dari 44 buah kromosom inilah yang membedakan antara lelaki dan perempuan dalam bentuk fisik luar maupun organ di dalamnya, termasuk alat kelamin yang adalah alat reproduksi.

Alat kelamin perempuan disebut vagina. Bagian luar vagina disebut vulva. Inti vagina adalah sebuah tabung berlapis otot yang membujur ke atas dan condong ke belakang hingga ke dalam atau ujungnya yang disebut rahim (uterus). Panjang tabung vagina sekitar 9 cm, dan punya keistimewaan. Selain elastis (untuk menerima penis yang tegang dan membesar), juga bisa membersihkan dirinya sendiri untuk tetap steril.

Sedangkan rahim, sungguh menakjubkan. Ia merupakan kantong berlapis mirip buah pir, terletak di tengah kurungan pinggul, diapit oleh kandung kencing di depan dan di belakang usus. Panjang rahim kira-kira 9 cm, lebar 6 cm, dan beratnya hanya 60 gram. Fungsi rahim adalah sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya janin pada saat si perempuan mengandung. Rahim ini juga elastis, ukurannya berubah, menyesuaikan perkembangan janin (Jones, 2005). Dari rahimlah asal mula kehidupan manusia. hanya perempuanlah yang mempunyai rahim. Maka, perempuanlah disebut pula sebagai empu-an yang artinya yang dipertuan atau terhormat. Sungguh luhur sebutan itu dan memang seluhur itulah fungsi perempuan yang sesungguhnya.


Tetapi, bagaimana jika seseorang perempuan tidak mau punya anak? Menurut para tokoh feminis radikal-liberal itu merupakan hal pilih kaum perempuan dan harus dihormati. Sebab, perempuan yang mengutamakan kariernya (bekerja di luar rumah) akan repot jika harus mengurusi anak. Untuk menjadi superwoman (menjadi ibu rumah tangga/mengurusi anak dan punya karier) juga bukan hal mudah. Maka, sejak tahun 70-an, perempuan yang tidak mau punya anak (bahkan tidak juga mau menikah) jumlahnya cenderung bertambah. Ini dampak dari “kebangkitan perempuan” yang diilhami gerakan feminis liberal akhir tahun 60-an. Kebangkitan ini mendorong perempuan untuk ke luar rumah menjadi perempuan karier.

“Mengombinasikan antara perkawinan, menjadi ibu, dan berkarier bukanlah hal yang mudah!” tegas Betty Friedan, tokoh feminis, dalam bukunya berjudul The Second stage. Sebab, tidak semua perempuan bisa menjadi perempuan super yang mampu merawat anak-anaknya, mencintai suaminya, mengurus rumah tangganya dengan baik, dan membina kariernya di luar rumah. Kesimpulannya, perempuan harus mampu memilih dengan bijak: mana yang diprioritaskan?

Kemudian Friedan memberi contoh kasus nasib malang seorang perempuan yang memilih kariernya daripada perkawinan dan menjadi seorang ibu. Berikut penuturannya:

“Saya perempuan pertama di dalam manajemen di sini. Saya memberikan segala-galanya untuk pekerjaan. Mula-mula merasa menyenangkan, menerobos tempat yang tidak dimasuki oleh perempuan sebelumnya. Kini, pekerjaan itu hanyalah sekadar satu pekerjaan. Saya tidak tahan kembali ke apartemen saya sendiri setiap malam. Saya ingin mempunyai sebuah rumah, mungkin juga sebuah taman. Mungkin seharusnya saya mempunyai seorang anak, bahkan tanpa ayah sekalipun. Paling tidak, saya akan mempunyai sebuah keluarga. Seharusnya ada cara yang lebih baik untuk hidup.”

Dari kasus yang dipaparkan tersebut dapat disimpulkan bahwa “cara hidup yang lebih baik” adalah melakukan apa yang menjadi kodrat perempuan, yaitu memfungsikan rahimnya: mempunyai anak!

Bicara mengenai rahim, Simone de Beauvoir, seorang penulis, sastrawati dan filsuf Prancis memaparkan bahwa perempuan itu rahim dan sebutir telur (the woman is a womb and an ovary!). Paparannya itu ia tulis dalam bukunya yang berjudul The Second sex (Seks Kedua). Tulisnya, jika perempuan itu hanya sebagai rahim dan sebutir indung telur, ia tak lebih sebagai “betina” yang dianggap makhluk kelas dua oleh kaum lelaki karena hanya berfungsi sebagai “pabrik bayi”. Ia menolak keras anggapan tersebut dengan cara mengajak kaum perempuan menjadi perempuan modern.

Baginya, ciri-ciri perempuan modern adalah (harus) menjadi dirinya sendiri, punya pendapat, mampu melakukan sesuatu untuk mengatasi masalah yang dihadapinya, punya inisiatif dan kreatif dalam mengubah nasibnya. Perempuan modern juga punya kesadaran penuh untuk sejajar atau menjadi mitra kaum lelaki. Dengan demikian, fungsi perempuan tidak hanya sekadar sebagai “pabrik bayi”.
..........................................................................................................................................................................................................................................................................
Adalah cuplikan dari buku yang berjudul “Her Story: Sejarah Perjalanan Payudara” yang ditulis oleh Naning Pranoto. Buku ini akan menyajikan sebuah pengetahuan yang dapat membuka mata kita mengenai kesetaraan gender. Fokus pembicaraan adalah seputar perempuan, baik gender maupun seksualitas, namun pengetahuan ini justru diperuntukkan kaum laki-laki, yang dipertegas dalam sampulnya dimana terdapat bintang yang bertuliskan "Lelaki wajib memiliki". Keseteraan gender akan terwujud jika saling memahami. Oleh sebab itu, pengetahuan yang melingkupi perempuan juga sepatutnya dipahami juga oleh laki-laki. Bahasa yang digunakan oleh Naning ini sangat ringan. Diawali dengan cerita, baik yang bersifat jenaka maupun yang melegenda di masyarakat, kemudian disentuhnya dengan pengetahuan-pengetahuan kesetaraan gender. Pengetahuan Arkeologi - atau melihat juga dari sisi anatomi, khususnya bagian tubuh vital perempuan - menjadi salah satu hal yang disorotinya untuk mengungkap pengetahuan yang seharunya diketahui oleh masyarakat dan mencoba membongkar mitos-mitos dalam bagian-bagian vital itu. Maka buku terbitan Kanisius ini sangat disarankan sebagai daftar bacaan Anda untuk membuka cakrawala kesetaraan gender. Selamat berburu buku.

Mengingat Takdir Mengenang Diponegoro


reviewer by pandu pramudita

Pangeran Diponegoro, siapa yang tidak mengenal beliau, seorang Pahlawan Nasional, seorang putra Jawa, dan juga seorang Imam Masjid. Perang Jawa atau juga yang dikenal dengan perang Sabil, perang yang dikenang sepanjang masa, baik oleh Bangsa Indonesia maupun bangsa Belanda. Bagaimana tidak? Mungkin terhitung singkat, dari tahun 1825 hingga 1830. Tapi dari perang yang singkat itu, bangsa penjajah harus menguras dana mereka untuk peperangan itu, mengerahkan seluruh tenaga, hingga gubernur Belanda harus turun tangan, berhadapan langsung dengan diplomasi. Ketika Diponegoro lahir, dia sudah disertai dengan ramalan mengenai ketenarannya. Tepat pada bulan Jawa Sura, bulan pertama dalam tahun Jawa, ketika tradisional kerajaan-kerajaan baru didirikan dan siklus sejarah baru dimulai, adalah sebuah petanda waktu yang konon menandakan seseorang yang berbicara sangat lancar dan kuat, bermurah hati, dan berwatak bijaksana. Diponegoro mungil juga ikut diramal oleh kakeknya, ialah Sultan Hamengku Buwono I yang meramalkan bahwa Diponegoro kelak akan mendatangkan kerusakan Belanda yang lebih besar daripada yang pernah ia buat selama Perang Giyanti. Ramalan ini kemudian diperkuat kembali ketika Diponegoro melakukan pertapaan di pesisir pantai Selatan Jawa, dimana kemudian ia bertemu dua sosok, yang diyakini adalah Sunan Kalijogo dan Ratu Kidul.

Bahwa begitu banyak bahan penelitian diambil dari masa Perang Jawa memberi goncangan pada orang Belanda maupun orang Jawa, itu biasa dan tidak mengherankan. Namun masih ada satu sisi nuansa yang tak terhindarkan – jika bukan merupakan cacat – bila kita meninjaunya. Kenyataan bahwa sejak Indonesia merdeka, 1945, Diponegoro telah resmi menjadi Pahlawan Nasional pada 10 November 1973, namanya telah menghiasi jalan-jalan besar di berbagai kota di Indonesia, juga diabadikan dalam tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai Divisi Kodam di Jawa Tengah, membuat tugas para sejarawan masa kini makin sulit. Seorang Pangeran dengan sosok manusia biasa yang jauh dari sempurna dan penggemar perempuan, tentulah tidak cocok dengan “sejarah nasional”. Namun, buku ini menampilkan realitas sejarah abad awal ke-19 dan bukan pembuatan mitos zaman kini.
Sekaranglah waktunya untuk kembali ke masa sketsa awal tadi, kepada kisah yang diceritakan Pangeran sendiri ketika ia memulai serangkaian peralanan hidup yang paling bermakna, ziarahnya ke Pantai Selatan sekitar 1805, dan perjumpaannya secara mistik dengan roh-roh penjaga Tanah Jawa dan penguasa-penguasa besar di masa lalu. Semua perjumpaan ini memberikan pemahaman perspektif ramalan lebih ke masa depan Pangeran sebagai pemimpin yang dilahirkan dalam dunia yang berubah, pemimpin yang akan terbilang di antara para leluhur, sekalipun hanya untuk masa yang singkat dan tragis.
(Peter Carey, 2015)

Buku yang berjudul “Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro (1785-1855)” ini menyajikan historiografi dari Pangeran diponegoro, dari masa kanak-kanaknya hingga pengasingannya. Di tulis oleh Peter Carey yang memiliki ketertarikan dengan riwayat Pangeran Diponegoro. Ia menuliskan dengan runut dan begitu jelas menggambarkan keadaan dan situasi pada waktu itu. Diterbitkan oleh penerbit Kompas, buku ini sangat disarankan bagi Anda yang memiliki ketertarikan mengenai sejarah, khususnya sejarah Indonesia, Jawa, dan Islam. Selamat berburu buku.

Tuesday, September 1, 2015

Menuju Emansipatoris Ilmu-Ilmu Kritis


reviewer by pandu pramudita

~Penyakit dari dalam, maka harus disembuhkan dari dalam~
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Jurgen Habermas ketika menanggapi adanya pemisahan teori dari praxis, yang dikenal sebagai objektivisme. Habermas berpendapat bahwa ilusi objektivisme tidak dapat disingkirkan dengan memulihkan epistemologi Kant. Positivisme dan saintisme hana dapat diatasi melalui refleksi-diri dari metodologi ilmu pengetahuan itu sendiri. Berikut, akan tampil Peirce dengan pragmatismenya dan Dilthey dengan historisismenya, yang muncul pada abad ke-19 dan 20. Dengan menggunakan metakritik Marx, Habermas menafsirkan pandangan Pierce dan Dilthey, dimana Pierce merefleksikan ilmu-ilmu alam yang sebenarnya termask dalam bidang tindakan instrumental dan Dilthey merefleksikan ilmu-ilmu budaya yang termasuk dalam bidang interaksi atau tindakan komunikatif.
Kepentingan Teknis Ilmu-ilmu Empirs-Analisis
Habermas menyatakan bahwa Pierce memiliki konsep tertentu mengenai kenyataan. Kenyataan, dalam pandangan Pierce adalah sesuatu yang independen terhadap pikiran aktual kita masing-masing. Kenyataan itu dapat diketahui oleh pikiran kita, tetapi bukan secara subjektif, melainkan secara intersubjektif seperti tampak pada konsensus ilmiah yang dicapai dalam proses ilmiah.
Habermas mengatakan bahwa bagi Pierce kebenaran bersifat publik karena kenyataan subjektif tidak mengacu pada “yang nyata”. Sejauh pengalaman pribadi diangkat ke dalam kesimpulan dan sejauh diekspresikan secara simbolis, pernyata-an yang memuat pengalaman itu memiliki isi kognitif, maka ia bisa benar atau salah, nyata atau tidak. Jika “yang nyata” diungkapkan secara simbolis dalam proposisi dan disimpulkan secara intersubjektif melalui proses penelitian, maka totalitas pernyataan yang benar tentang “yang nyata” itulah yang disebut kenyataan.
Ketika Pierce membagi tiga bentuk kesimpulan, yaitu deduksi, induksi, dan abduksi, Habermas berpendapat bahwa hanya abduksilah yang merupakan bentuk argumen yang memperluas pengetahuan kita. Yang penting bagi logika penelitian terletak pada abduksi dan induksi. Baik induksi maupun abduksi ditarik dari penelitian dan pengalaman. Karena disimpulkan dari pengalaman, abduksi dan induksi merupakan bentuk kesimpulan sintesis.
Habermas mempermasalahkan pendapat Pierce mengenai konsensus inter-subjektif di antara para ahli dalam proses penelitian. Bukankah bahasa yang dipakai untuk mengungkapkan hasil penelitian itu merupakan silogisme. Habermas tidak menolak bahwa untuk mencapai kebenaran ilmiah perlu dicapai konsensus untuk memetakan proses belajar manusia, tetapi ia menolak bahwa konsensus ini dapat dicapai dalam logika penelitian.
Komunikasi antarpeneliti ini berada di luar sistem acuan tindakan instrumental. Sistem acuan bagi konsensus intersubjektif itu, menurut Habermas, adalah tindakan komunikatif. Menurut Habermas, tindakan komunikatif akan menjadi akar pengetahuan yang menghasilkan ilmu-ilmu historis-hermeneutis.
Kepentingan Teknis Ilmu-ilmu Hostoris-Hermeneutis
Pada bagian ini, Habermas ingin menunjukkan hasil refleksi diri dari ilmu-ilmu budaya yang ditangani oleh Wilhelm Dilthey. Dilthey memandang tindakan instrumental yang merupakan wilayah pengelolaan ilmu-ilmu alam termasuk dalam konteks kehidupan. Konteks kehidupan inilah yang menjadi bidang kajian ilmu-ilmu budaya. Berbeda dengan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu budaya mengobjektivasikan pengalaman seutuhnya, tanpa pembatasan. Pengalaman itu lebih-lebih dialami dari dalam. Menurut Dilthey, perbedaan kedua kelompok ilmu itu terletak pada orientasi dari subjek pengetahuan: sikapnya terhadap objeknya. Perbedaan itu bukanlah perbedaan ontologis, melainkan perbedaan epistemologis.
Menurut Dilthey, teori dalam ilmu-ilmu budaya hanyalah merupakan wahana untuk membangkitkan kembali pengalaman secara reproduktif. Jika ilmu-ilmu alam meng-konstruksi pengalaman, yakni menyusun teori untuk mengantisipasi peristiwa alamiah, maka ilmu-ilmu budaya mentransposisi pengalaman, yaitu memindahkan objektivasi mental kembali ke dalam pengalaman reproduktif. Ilmu-ilmu budya bermaksud membangkitkan kembali pengalaman secara sama.
Dengan istilah Dilthey sendiri, metode ilmu-ilmu alam itu Eklaren (menjelaskan), sedang metode ilmu-ilmu budaya adalah verstehen (mengerti). Dengan verstehen kita terutama tidak ingin menerangkan hukum, melainkan ingin menemukan makna dari produk manusiawi, seperti sejarah, masyarakat, candi, dan interaksi.
Objek ilmu-ilmu budaya tidak terpisahdari subjeknya. Fakta kebudayaan tampak pada kesadaran sebagai sesuatu yang datang dari dalam subjek sendiri. Ini menunjukkan, ilmu-ilmu budaya berada di dalam kategori “pengalaman” (Erlebnis).
Pengalaman, ekspresi, dan pemahaman adalah tiga pokok penting yang menurut Dilthey menjadi pokok kajian ilmu-ilmu budaya. Ketiganya juga merupakan ciri ekstensial manusia sendiri dan merupakan satu-satunya cara untuk melukiskan manusia.
Menurut Dilthey, dalam ilmu-ilmu budaya, baik subjek maupun objek mempunyai kodrat yang sama, yaitu makhluk historis. Sebagai makhluk historis, manusia tidak terpaku pada keadaan hic et nunc. Ia dapat melampaui keterbatasan sejarahnya, karena itu ia bersifat transendental. Objektivitas dalam ilmu-ilmu budaya makin terjamin jika subjek makin mampu meninggalkan situasi sejarahnya sendiri.
Di sini Dilthey mengejar objektivitas sebagaimana dipahami ilmu-ilmu alam. Habermas mengatakan seharusnya Dilthey tidak mengejarobjektivitas untuk mencari kesahihan ilmu-ilmu budaya. Untuk tujuan Objektivitas itu, Dilthey memakai pengalaman, ekspresi, dan pemahaman sebagai metode hermeneutis.
Relasi kehidupan yang terintegrasi dalam pengalaman membentuk identitas ego. Identitas terbentuk bila ego menafsirkan makna bagi sejarah hidupnya sendiri. Menurut Dilthey, makna terungkap dalam struktur simbolis, dan karenanya tidak lagi merupakan makna privat, dan karena itu pula memiliki kesahihan intersubjektif. Pengalaman hidup seseorang dapat dikomunikasikan dengan pengalaman hidup orang lain dan membentuk pengalaman bersama. Dalam lingkup “bersama” itu juga kita memahami orang lain dalam objektivasinya, yaitu lewat produk budaya. Dalam hal ini pun, autobiografi pun berada pada taraf intersubjektif dan merupakan produk proses intersubjektif. Dasar dari intersubjektivitas ini adalah bahasa. Habermas mengatakan,
“Bahasa adalah dasar intersubjektivitas dan setiap orang harus sudah mulai dari bahasa sebelum ia dapat mengobjektivasikan dirinya sendiri dalam ungkapan hidupnya yang pertama, apakah itu lewat kata-kata, sikap atau tindakan.”
Melalui perantara bahasa, makna dialami bersama tidak hanya secara kognitif, tetapi juga afektif dan normatif.
Menurut Habermas, pemahaman hermeneutis atas makna berlawanan dengan pemahaman monologal atas makna yang dipraktikan ilmu-ilmu alam. Setiap proposisi teoretis merupakan rumusan pemahaman yang bersifat monologal. Setiap proposisi teoretis itu berbentuk bahasa yang telah diformalisasikan atau, katakanlah, bahasa “murni”. Dengan bahasa murni ini pula ilmuwan menyingkirkan interaksi simbolis yang biasanya terungkap dalam kata-kata. Interaksi simbolis ini dianggap bukan fakta. Menurut Habermas, justru pada bidang inilah hermeneutika bekerja.  Pemahaman hermeneutis menganggap interaksi simbolis sebagai fakta, dan pemahaman hermeneutis tidak memisahkan pernyataan tentang fakta dan fakta yang diamati. Menurut ungkapan Habermas sendiri, hermeneutika adalah bentuk pengalaman sekaligus analisis gramatikal. Pemahaman hermeneutis, menurut Habermas, terkait dengan kekuatan bahasa sehari-hari dalam mengungkapkan makna. Dari sini, Habermas ingin menunjukkan bagaimana pemahaman hermeneitis memahami makna atas produk budaya.
Dilthey menunjukkan bahwa konteks kehidupan konkret itu dapat diungkapkan melalui apa yang disebut “ekspresi kehidupan”, dan bahasa sehari-hari termasuk di dalamnya. Ekspresi kehidupan terdiri dari tiga macam, yaitu ekspresi linguistik, tindakan, dan ekspresi pengalaman. 
Menurut Habermas, untuk menafsirkan struktur bahasa sehari-hari, kita harus mengaitkan ketiga macam ekspresi kehidupan di atas secara integral. Karena komunikai dalam bahasa sehari-hari tak pernah terpisahkan dari interaksi ataupun ekspresi pengalaman. Dalam kehidupan sehari-hari jika tindakan dan bahasa ini kurang memadai, kita akan memakai ekspresi pengalaman. Dengan demikian, bahasa sehari-hari bukanlah sintaksis lengkap seperti bahasa murni. Sintaksisnya dilengkapi dengan interaksi dan ekspresi pengalaman. Oleh Habermas sifat ini disebut “refleksivitas”.

Refleksivitas tidak terdapat pada bahasa murni karena bahasa yang diformalisasikan hanya mampu merumuskan kenyataan secara padat lewat bahasa itu sendiri. Bahasa ini justru menyingkirkan dimensi nonverbal. Jika dimensi nonverbal ini dilenyapkan, maka bahasa sehari-hari menjadi fragmentasi dan tak dapat ditafsirkan secara hermeneutis. Tugas hermeneutika, menurut Habermas, adalah menafsirkan refleksivitas ini.
Jika pemahaman hermeneutis sebagai metode ilmu-ilmu budaya dapat memperoleh kemajuan dengan mengaitkan bahasa dan praxis, analisis bahasa dan pengalaman, lingkaran hermeneutis itu sejajar dengan proses belajar kumulatif dari logika penelitian Pierce. Karena dengan lingkaran hermeneutis itu diperoleh pemahaman baru tentang kenyataan sosiohistoris. Seperti logika Pierce, dalam hal ini pun tampak jelas bahwa hermeneutika berakar pada konteks kehidupan praktis manusia.
Seperti Pierce, Dilthey juga tidak berhasil memahami objektivitas dalam konteks kepentingan kognitif. Menurut Habermas, meskipun mereka menunjukkan keterkaitan ilmu pengetahuan dengan konteks kehidupan konkret, mereka tetap cenderung jatuh pada objektivisme positivistik.
Kepentingan Emansipatoris Ilmu-ilmu Kritis
Di sini Habermas berbicara tentang bentuk pengetahuan yang mendasari bentuk pengetahuan tentang alam maupun tentang masyarakat, yakni bentuk pengetahuan tentang  proses pembentukan-diri kita sebagai makhluk individual dan makhluk sosiohistoris. Bentuk pengetahuan ini hanya dicapai lewat refleksi atas proses pembentukan-diri itu dan dengan cara itu pengetahuan reflektif itu bersifat emansipatoris. Karena itu, proses refleksi-diri ini dibimbing oleh kepentingan kognitif ketiga yang disebut “kepentingan emansipatoris”.
Kepentingan emansipatoris bersifat derivatif dan mendasar. Untuk menguraikan kepentingan emansipatoris, Habermas mengambil kelompok ilmu lain yang sebenarnya belum dikembangkan secara memadai, yaitu apa yang disebut “ilmu-ilmu kritis”.
Habermas membangun dua tahap pembahasan, yaitu mengenai kesatuan pengetahuan dan kepentingan emasipatoris dalam refleksi-diri, dan psikoanalisis dalam pandangan Habermas menjadi kritik atau refleksi-diri metodis.
- Kesatuan Rasio dan Kepentingan dalam Refleksi-Diri
Habermas memahami pencerahan sebagai usaha keras dari rasio untuk membebaskan dirinya dari mitos yang terjadi sepanjang sejarah pemikiran, maka tidak terbatas hanya pada masa Aufklarung. Dalam Filsafat Kant, menurut Habermas, kepentingan rasio dipahami sebagai sesuatu yang berkaitan dengan eksistensi kita karena suatu kepentingan mengungkapkan kaitan antara objek kepentingan itu dengan kemampuan kehendak kita. Secara umum, kepentingan adalah kepuasan yang kita hubungkan dengan suatu objek atau suatu tindakan. Suatu kepentingan mengandaikan adanya suatu kebutuhan dan sebaliknya, menghasilkan suatu kebutuhan. Kepentingan yang dimaksudkan Habermas, adalah kepentingan konstitutif-pengetahuan.
Tindakan mengubah hidup adalah tindakan emansipatoris. Karena dalam refleksi-diri, kesadaran dan tindakan emansipatoris itu menyatu, maka dalam kegiatan refleksi, rasio kita langsung menjadi praktis. Habermas menulis, “refleksi-diri adalah intuisi sekaligus emansipasi, pembebasan dari ketergantungan dogmatis”.
Dengan demikian, refleksi-diri adalah kegiatan kognitif yang memuat kekuatan emansipatoris karena kegiatan ini didorong oleh kepentingan yang inheren dalam rasio kita sendiri, aykni kepentingan emansipatoris. Habermas mengungkapkan, “... dalam kekuatan refleksi-diri, pengetahuan dan kepentingan adalah satu”.
- Psikoanalisis sebagai kritik dan Kritik Ideologi Marx
Kepentigan emansipatoris, pada taraf metodologis, membimbing seluruh refleksi sistematis, termasuk filsafat, serta apa yang disebut Habermas “ilmu-ilmu kritis”. Tujuan ilmu-ilmu kritis itu adalah memudahkan proses refleksi-diri manusia sebagai makhluk sosial maupun individual. Dalam konsepsi Habermas, ilmu-ilmu kritis ini menyatukan kepentingan teknis dan praktis dari kedua kelompok ilmiah lain dalam satu kerangka kerja, sesuai dengan sifat dasariah dari kepentingan emansipatoris. Di sini, ilmu-ilmu kritis hermeneutika interaksi, membeku menjadi penindasan yang menghambat proses pembentukan-diri. Yang oleh Habermas ditunjuk seagai contoh nyata dari ilmu yang menjadian refleksi-diri sebagai metod adalah psikoanalisis Freud dan kritik ideologi Marx.

Bacalah lebih lanjut uraian dan penjelasan Hubermas dalam Kritik Ideologi tulisan F. Budi Hardiman, dengan penerbit Kanisius. Buku ini sangat disarankan untuk mengantarkan Anda ke Teori Kritis.

Pemikiran Karl Marx : Suatu Pengantar


reviewer by pandu pramudita

 “Simbolisasi namanya [Karl Marx] berdampak pada campur adukya pemahaman kita terhadap ide-idenya ... Dia sering dikritik, 
sebagaimana dia juga sering dipuji, oleh orang yang 
pada dasarnya tidak pernah membaca karyanya”
(Ritzer dan Goodman, 2013)

Membaca kalimat yang diungkapkan oleh George Ritzer dan Douglas J. Goodman dalam terjemahannya Teori Marxis dan Berbagai Teori Neo-Marxian (2013), memberikan suatu dorongan untuk membaca lebih lanjut karya-karya Marx yang melegenda. Tidak seperti filsuf lain, Marx dikenals ebagai filsuf yang emansipatoris, berpihak dalam pembebasan. Bagi Marx, sebuah teori tentang bagaimana masyarakat bekerja akan bersifat khsus karena terutama dilihatnya adalah tentang bagaimana mengubah masyarakat (Ritzer dan Goodman, 2013: 7). Dalam penulisan ini, akan mereview karya Franz Magnis-Suseno tentang bukunya yang berjudul Pemikiran Karl Marx: dari Utopis ke Perselisihan Revisionisme.
Hal pertama akan dimulai dengan kata “marxisme”. Kata “marxisme”, tidak sama dengan “komunisme”. “Komunisme” yang juga disebut “komunisme internasional” adalah nama “gerakan kaum komunis”. Komunisme adalah gerakan dan kekuatan politik “partai-partai komunis” yang sejak revolusi Oktober 1917 di bawah pimpinan W.I. Lenin menjadi kekuatan politis dan ideologis internasional. Istilah komunis juga dipakai untuk “ajaran komunisme” atau “Marxsisme-Leninisme” yang merupakan ajaran ideologi resmi komunisme. Istilah Marxisme sendiri adalah sebutan bagi pembakuan ajaran resmi Karl Marx yang terutama dilakukan oleh temannya, Friedrich Engels dan oleh tokoh teori Marxis Karl Kautsky.
Menurut Marx, agama hanyalah tanda keterasingan manusia tetapi bukan dasarnya. Keterasingan manusia dalam agama adalah ungkapan keterasingan yang lebih mendalam. Agama hanyalah sebuah pelarian karena realitas memaksa manusia untuk melarikan diri. Agama adalah realisasi hakikat manusia dalam angan-angan karena hakekat manusia tidak mempunyai realitas yang sungguh-sungguh. Maka, menurut Marx, agama adalah candu rakyat.
Kemunculan negara dilihat Marx dalam runtutan bahwa dalam keterasingan manusia dari sifatnya sosialnya menghasilkan agama, sehingga manusia dipandang sebagai individu. Sebagai individu, manusia itu egois, dan ia hanya sosial karena harus taat pada negara. Bagi Marx, adanya negara membuktikan bahwa manusia terasing dari kesosialannya karena andaikata manusia sosial dengan sendirinya, tidak perlu ada negara memaksanya agar mau bersifat sosial. Jadi keterasingan dasar manusia adalah keterasingan dari sifatnya yang sosial. Tanda keterasingan itu adalah eksistensi negara sebagai lembaga yang dari luar dan atas memaksa individu-individu untuk bertindak sosial, sedangkan individu itu sendiri semata-mata bertindak egois.
Marx memahami bahwa keterasingan manusia dari kesosialannya siproduksi dalam pekerjaan di bawah sistem ekonomi kapitalis. Keterasingan dalam pekerjaan adalah dasr segala keterasingan manusia, karena menurut Marx, pekerjaan adalah tindakan manusia paling dasar: dalam pekerjaan, manusia membuat dirinya menjadi nyata. Marx memperlihatkan pekerjaan sebagai pembeda manusia dengan binatang, karena manusia bekerja secara bebas dan universal. Bebas karena ia dapat bekerja meskipun tidak merasakan kebutuhan langsung. Universal karena di satu pihak ia dapat memakai pelbagai cara untuk tujuan yang sama, di lain pihak ia dapat menghadapi alam tidak hanya dalam kerangka salah satu tujuan. Bekerja berarti bahwa manusia mengambil bentuk alami dari objek alami dan memberikan bentuknya sendiri. Pekerjaan adalah jembatan antar manusia. Tampak bahwa manusia pada hakikatnya bersifat sosial, dan hakikat itu terbukti dalam pekerjaan. Karena itu pekerjaan menggembirakan.
Bagi kebanyakan orang, dan khususnya bagi buruh industri dalam sistem kapitalis, pekerjaan tidak merealisasikan hakikat mereka melainkan justru mengasingkan mereka.  Jadi pekerjaan tidak mengembangkan manusia, melainkan mengasingkan manusia, baik dari dirinya sendiri maupun dari orang lain. Kete-rasingan dari dirinya sendiri mempunyai tiga segi, yaitu pekerja merasa asing dari produknya, tindakan bekerja itu sendiri pun kehilangan arti bagi si pekerja, dan dengan memperalat pekerjaannya semata-mata demi tujuan memperoleh nafkah. Konsekuensi langsung dari keterasingan manusia dari prosuk pekerjaannya dari kegiatan kehidupannya, dari hakektanya sebagai manusia, adalah keterasingan manusia dari manusia. Manusia tidak agi bertindak demi kebutuhan sesama, emlainkan hanya sejauh tindakannya menghasilkan uang. Maka uang menandakan keterasingan manusia dari alam dan dari sesama manusia.
Sistem hak milik pribadi telah memisahkan antara pemilik dan pekerja, antara yang menguasai alat produksi dan yang menguasai tenaga kerja. Menurut Marx, hubungan hak milik pribadi juga mengasingkan majikan dari hakikatnya. Perbedaan keterasingan majikan dan buruh adalah, jika majikan mengalami sudut madu keterasingan, maka buruh mengalami sudut pahit dari keterasingan itu. Pada akhirnya segala keterasingan manusia akibat dari sistem hak milik pribadi.
Marx membedakan tiga tahap manusia, yaitu masyarakat purba sebelum pembagian pekerjaan dimulai, tahap pembagian kerja sekaligus tahap hak milik pribadi dan tahap keterasingan, dan tahap kebebasan, yaitu apabila hak milik pribadi sudah dihapus. Marx mengungkapkan bahwa komunisme adalah peng-hapusan positif milik pribadi sebagai keterasingan diri manusia dan karena itu pemilikan nyata hakikat manusia oleh dan bagi manusia.
Karl Marx tidak menjelaskan secara definitid apa itu yang disebut kelas sosial. Marx langsung menggambarkan kelas sosial dan pertentangannya. Menurut Marx, pelaku-pelaku utama perubahan sosial bukanlah individu-individu tertentu, melainkan kelas-kelas sosial. Akan terlihat bahwa dalam setiap masyarakat terdapat kelas-kelas yang berkuasa dan kelas-kelas yang dikuasai. Tiga dalam masyarakat kapitalis, meurut Marx terdapat tiga kelas, yaitu kaum buruh, kaum pemilik modal, dan para tuan tanah. Kelas buruh melakukan pekerjaan, tetapi karena mereka sendiri tidak memiliki tempat dan sarana kerja, mereka terpaksa menjual tenaga kerja. Buruh hanya dapat bekerja apabila pemilik membuka tempat kerja baginya, dan majikan hanya beruntung dari pabrik dan mesin-mesin yang dimilikinya apabila ada buruh yang mengerjakannya. Dengan demikian kelas pemilik adalah kelas yang kuat dan para pekerja adalah kelas yang lemah. Dalam hubungan produksi, yang berkuasa adalah para pemilik sedangkan yang dikuasai adalah para pekerja.
Pertentangan antara kelas buruh dan kelas majikan tidak ada hubungannya dengan moralitas, melainkan karena kepentingan dua kelas itu secara objektif berlawanan satu sama lain. Menurut Marx, setiap kelas sosial bertindak sesuai dengan kepentingannya dan kepentingannya ditentukan oleh situasinya yang objektif. Ada beberapa unsur dalam teori kelas Marx yang perlu diperhatikan, yaitu pertama, tampak betapa besar peran segi struktural dibandingkan segi kesadaran dan moralitas, dan kedua, karena kepentingan kelas pemilik dan kelas buruh secara objektif bertentangan, mereka juga akan mengambil sikap daasr yang berbeda terhadap perubahan sosial. Ketiga, begitu kepentingan kelas bawah yang sudah lama ditindas mendapat angin, kekuasaan kelas penindas mesti dilawan dan digulingkan. Namun kelas atas pastinya tidak akan ungkin merelakan perubahan sistem kekeuasaan, karena perubahan itu niscaya mengakhiri peranannya sebagai kelas atas. Oleh karena itu, sebuah perubahan sistem sosial hanya dapat tercapai dengan jalan kekerasan, melalui revolusi. Marxisme yakin bahwa semua reformasi dan usaha perdamaian antara kelas atas dan bawah hanya menguntungkan kelas atas karena mengerem perjuangan kelas bawah untuk membebaskan diri.
Menurut Marx, bahwa negara secara hakiki merupakan negara kelas, artinya negara dikuasai secara langsung atau tidak langsung oleh kelas yang menguasai bidang ekonomi. Karena itu, menurut Marx, negara bukanlah lembaga di atas masyarakat yang mengatur masyarakat tanpa pamrih, melainkan merupakan alat dalam tangan kelas-kelas atas untuk mengamankan kekuasaan mereka. Negara memungkinkan kelas atas untuk memperjuangkan kepentingan khusus mereka “sebagai kepentingan umum”.
Mengajukan sesuatu sebagai kepentingan umum yang sebenarnya merupakan kepentingan egois pihak yang berpamrih itulah inti ideologis yang dimaksudkan Marx. Ideologi adalah ajaran yang menjelaskan suatu keadaan, terutama kekuasaan, sedemikian rupa, sehingga orang menganggapnya sah, padahal jelas tidak sah.
Kalau diandaikan bahwa sekelompok orang bertindak berdasarkan kepentingan primer untuk mempertahankan diri, maka kelas-kelas atas tentu selalu berkepentingan untuk mempertahankan kedudukan mereka, sedangkan kelas-kelas bawah sebaliknya berkepentingan untuk mengubah situasi dimana mereka tertindas. Dibelakang semua perang dan pemberontakan, akhirnya terdapat kelas-kelas sosial yang memperjuangkan kepentingan mereka, yang satu tetap menindas segala ancaman terhadap kedudukan mereka, dan yang lain membebaskan diri dari ketertindasan itu.
Menurut Marx, bahwa pembebasan manusia dari keterasingannya hanya dapat dilaksanakan lewat sebuah revolusi, revolusi yang sesungguhnya. Marx menegaskan bahwa tidak mungkin revolusi itu disulut oleh filsafat semata. Revolusi membutuhkan unsur pasif, dasar material. Rakyatlah yang harus merasakan kebutuhan akan emansipasi, abru kemudian dia terbuka bagi kritik teoretis sang filosof. Dan jika rakyat betul-betul tertindas maka tentu ingin berrevolusi, sedang-kan apabila rakyat tidak mau berrevolusi, kondisina memang belum matang. Kelas yang dicari Marx adalah kelas yang tidak hanya mengalami macam-macam penghinaan, melainkan mesti kehilangan kemanusiaannya. Masyarakat yang melakukan pembubaran masyarakat telah membentuk golongan-golongan atas kelas-kelas yang radikal. Salah satu golongan yang muncul, dan yang dicari oleh Marx adalah Proletariat. Proletariat dipahami sebagai kelas total karena tertindas total, yang bertentangan dengan struktur masyarakat yang ada tidak secara parsial, melainkan total, dan oleh karena itu, apabila ia berrevolusi akan berrevolusi secara total, artinya akan membebaskan masyarakat dari kelas-kelas, akan membebaskan manusia sebagai manusia.
Materialis sejarah dapat dirumuskan sebagai berikut: “bukan kesadaran manusia yang menentukan keadaan mereka, tetapi sebaliknya keadaan sosial merekalah yang menentukan kesadaran mereka. Keadaan sosial adalah produksinya, pekerjaannya. Manusia ditentukan oleh produksi mereka, baik apa yang mereka produksikan, maupun cara merka berproduksi. Jadi individu-individu tergantung pada syarat-syarat material produksi mereka. Manurut Marx, kesadaran tidak mungkin lain dari keadaan yang disadari dan keadaan manusia adalah proses manusia yang sungguh-sungguh.
Marx membagi lingkup kehidupan manusia dalam dua bagian besar, yaitu “basis” adalah produksi kehidupan material, dan “bangunan atas” yaitu proses kehidupan sosial, politik, dan spiritual. Marx mengatakan bahwa perubahan masyarakat merupakan akibat dinamika dalam basis dan bukan dalam bangunan atas. Sedangkan bangunan atas baru berubah apabila struktur hak milik berubah.
Mars berpendapat bahwa setiap perubahan sosial mesti bersifat revolusioner. Perubahan baru dapat terjadi apabila kelas-kelas bawah cukup kuat untuk dapat memaksakannya ke kelas-kelas atas, dan itulah revolusi. Maka perjuangan kelas adalah motor kemajuan sejarah. Revolusi itu pada permulaannya akan bersifat politis: proletariat merebut kekuasaan negara dan mendirikan “kedikatatoran proletariat”. Artinya, proletariat menggunakan kekuasaan negara untuk menindas kaum kapitalis untuk mencegah mereka memakai kekayaan dan fasilitas luas yang masih mereka kuasai untuk menggagalkan revolusi proletariat dan mengembalikan keadaan lama.
Sosialisme dan komunisme yang dipahami pada dewasa ini janganlah dipahami sebagai suatu hal yang diusung oleh Marx. Komunisme yang diusung Marx berbeda dengan komunisme yang diusung oleh Lenin. Yang dimaksudkan Marx dengan komunisme bukanlah sebuah kapitalisme negara. Marx mengatakan bahwa hanya pada permulaan, sosialisasi berarti nasionalisasi. Tetapi setelah kaum kapitalis tidak merupakan ancaman lagi, negara kehilangan fungsinya dan menghilang.
Pemikiran Marx selama hidupnya terbagi menajdi dua periode, yaitu yang biasa dikenal sebagai Marx Muda dan Marx Tua. Marx muda lebih memfokuskan pada bidang humanis sedangkan dalam karyannya Marx tua lebih memfokuskan pada sisi ilmiah. Kedua periode itu ditandai dengan kecambuknya Revolusi Perancis pada tahun 1848. Dalam karya-karyanya, filsuf pada masa itu meyakini bahwa karya-karya Marx sebagian dipengaruhi oleh pemikiran Hegel, namun yang menjadi ciri khas seorang marx adalah keberpihakannya, bahwa ketika banyak filsuf yang sibuk mendefinisikan manusia, masyarakat dan dunia, maka yang terpenting adalah mengubahnya. Dalam perkembangannya, Marx Muda akan dibahas dalam lingkungan akademik yang selanjutnya akan melahirkan Neo-Marxian. Sedangkan karya-karya Marx Tua berkembang menjadi pandangan dunia kaum buruh atau ideologi di beberapa negara.
Pemikiran Karl Marx: dari Utopis ke Perselisihan Revisionisme adalah buku pengantar yang baik bagi anda yang ingin memahami dasar-dasar pemikiran Karl Marx. Dengan bahasa yang mudah dipahami, Franz Magnis-Suseno, seorang filsuf besar di Indonesia, menurunkan sepenggal ilmunya untuk anak Bangsa Indonesia. Silahkan pembaca yang budiman membaca lebih lanjut buku yang berjudul Pemikiran Karl Marx: dari Utopis ke Perselisihan Revisionisme dengan penulis Franz Magnis-Suseno penerbit Gramedia. Selamat berburu buku.

Membaca Filsafat seperti halnya membaca Novel


reviewer by pandu pramudita

Siapakah kamu? Dari mana datangnya dunia? Dua pertanyaan yang terngiang dalam otak Sophie Admundsend, gadis 14 tahun yang serba ingin tahun, yang kemudian mengawali jalannya menuju filsafat. Pertanyaan-pertanyaan itu ia pikirkan karena berawal dari surat misterius, yang sebenarnya ditulis oleh Alberto Knox, seorang tentara baret biru yang dikemudian adalah orang yang mengahantarkan Sophie ke filsafat. Seorang filosof mengetahui bahwa dalam kenyataannya hanya sedikit yang diketahuinya. Itulah sebabnya dia selalu berusaha untuk merai pengetahuan sejati. “Orang yang paling bijaksana adalah yang mengetahui bahwa dia tidak tahu” Alberto Knox. Socrates sendiri berkata, “Hanya satu yang aku tahu, yaitu bahwa aku tidak tahu apa-apa”. Dan mungkin Sophie akan atau telah menjadi filsafat, karena ketika Alberto sedang menjelaskan filsafat-filsafat yang dikemukakan oleh tokoh-tokoh, Sophie selalu atau banyak menyela meski Alberto terkadang menanggapi tapi lebih banyak meneruskan penjelasannya. Saya akan mencuplik satu babak ketika Roberto menjelaskan pemikiran Marx kepada Sophie.

Marx
... hantu sedang membayangi Eropa ...
...........................................................................................................................................................................................................................................................................

Sophie sekali lagi berdiri sendirian, sementara nyala api terus membakar rumput kering itu dengan semakin hebat. Agak lama baru dia berhasil mematikan api dengan menginjak-injaknya hingga padam.
Syukurlah! Sophie melihat selintas ke arah rumput yang menghitam. Dia memegang sekotak korek api di tangannya.
Tidak mungkin dia sendiri yang menyalakan api itu, bukan?
Ketika bertemu dengan alberto di luar gubuk, Sophie menceritakan padanya apa yang telah terjadi.
“Scrooge adalah kapitalis pelit dalam A Christmas Carol, karya Charles Dickens. Kamu mungkin ingat si Gadis Korek Api dari dongeng Hans Cristian Andersen.”
“Aku tidak menduga dapat bertemu dengan mereka di sini di hutan ini.”
“Mengapa tidak? Ini bukan hutan biasa, dan kini kita akan membicarakan Karl Marx. Sangat tepat bahwa kamu telah menyaksikan satu contoh mengenai perjuangan kelas yang sangat hebat pada pertengahan abad kesembilan belas. Tapi marilah masuk ke dalam. Kita agak lebih terlindungi dari campur tangan sang mayor di sana.”
Sekali lagi mereka duduk di meja kecil dekat jendela yang menghadap danau. Sophie masih dapat merasakan di seluruh tubuhnya bagaimana pemandangan danau kecil itu setelah dia minum dari botol biru.
Hari ini, kedua botol itu berdiri pada papan di atas tungku. Ada model miniatur dari sebuah kuil Yunani di atas meja.
“Apakah itu?” tanya Sophie.
“Semua ada waktunya, anakku.”
Alberto mulai berbicara: “Ketika Kierkegaard pergi ke Berlin pada 1814, dia mungkin duduk bersebelahan dengan Karl Marx pada kuliah-kuliah Schelling.Kierkegaard telah menulis sebuah tesis master mengenai Socrates. Pada saat yang hampir bersamaan, Marx telah menulis sebuah tesis doktor mengenai Democritus dan Epicurus – dengan kata lain, mengenai materialisme zaman Yunani Kuno. Dengan demikian, mereka berdua memulai aliran filsafat mereka sendiri.”
“Karena Kierkegaard menjadi seorang eksistensialis dan Marx menjadi materialis?”
“Marx menjadi apa yang dikenal sebagai seorang materialis historis. Tapi kita akan kembali ke situ nanti.”
“Teruskan.”
“Masing-masing dengan caranya sendiri, Kierkegaard dan Marx mengambil filsafat Hegel sebagai titik tolak.keduanya dipengaruhi oleh cara pikir Hegel, tapi keduanya menyangkal ‘ruh dunia’-nya, atau Idealismenya.”
“Itu barangkali terlalu muluk bagi mereka.”
“Pasti. Secara umum, kita biasanya mengatakan bahwa era sistem filsafat besar berakhir dengan Hegel. Setelah dia, filsafat arah baru. Bukannya sistem spekulatif yang hebat, kita mendapatkan apa yang kita sebut filsafat eksistensial atau filsafat aksi. Inilah yang dimaksudkan Marx ketika dia mengamati bahwa hingga kini, ‘para filosof hanya menafsirkan dunia dengan berbagai cara; yang penting adalah mengubahnya.’ Kata-kata ini menandai adanya titik balik yang penting dalam sejarah filsafat.”
“Setelah bertemu dengan Scrooge dan Gadis Korek Api itu, aku tidak kesulitan memahami apa yang dimaksudkan Marx.”
“Pemikiran Marx mempunyai tujuan praktis – atau politis. Dia bukan hanya seorang filosof; dia juga seorang ahli sejarah, ahli sosiologi, dan ahli ekonomi.”
“Dan dia menjadi pelopor dalam semua bidang itu?”
“Jelas tidak ada filosof lain yang mempunyai pengaruh lebih besar terhadap politik praktis. Di lain pihak, kita harus waspada dalam menyamakan segala sesuatu yang menyebut dirinya Marxisme dengan pemikiran Marx sendiri. Konon Marx mengatakan bahwa dia baru menjadi seorang Marxis pada pertengahan 1940-an, tapi bahkan setelah itu pun dia kadang-kadang merasa perlu menegaskan bahwa dia bukan seorang Marxis.”
“Apakah Yesus seorang Kristen?”
“Itu pun, tentunya, dapat diperdebatkan.”
“Lanjutkan.”
“Sejak awal mula, kawan dan koleganya Friedrich Engels memberikan sumbangan pada apa yang kemudian dikenal sebagai Marxisme. Di abad kita sendiri, Lenin, Stalin, Mao, dan banyak tokoh lainnya juga memberikan sumbangan pada Marxisme, atau Marxisme-Leninisme.”
“Kusarankan kita membicarakan Marx sendiri saja. Anda katakan dia seorang materialis hostoris?”
“Dia bukan seorang filosof materialis seperti para pendukung teori atom dari zaman Yunani Kuno, dia pun tidak mendukung materialisme mekanis dari abad ketujuh belas dan kedelapan belas. Tapi dia beranggapan bahwa cara kita berpikir sebagian besar ditentukan oleh faktor-faktor material dalam masyarakat. Faktor-faktor material semacam itu jelas sangat menentukan perkembangan sejarah.”
“Itu sangat berbeda dari ruh dunia Hegel.”
“Hegel telah mengemukakan bahwa perkembangan sejarah ditentukan oleh ketegangan antara dua kekuatan yang bertentangan – yang kemudian dicairkan oleh suatu perubahan mendadak. Marx mengembangkan gagasan ini lebih jauh. Tapi menurut Marx, Hegel berdiri di atas kepalanya.”
“Tidak sepanjang waktu, kuharap.”
“Hegel menyebutkan kekuatan yang menggerakkan sejarah itu ruh dunia atau akal dunia. Ini, kata Marx, justru terbalik. Dia ingin membuktikan bahwa perubahan-perubahan material itulah yang mempengaruhi sejarah. ‘Hubungan ruhaniah’ tidak menciptakan perubahan material, tetapi sebaliknya. Perubahan material menciptakan hubungan-hubungan ruhaniah yang baru. Marx secara khusus menekankan bahwa kekuatan ekonomi dalam masyarakatlah yang menciptakan perubahan dan karenanya menggerakkan sejarah ke depan.”
“Apakah Anda punya contoh?”
“Filsafat Yunani Kuno dan ilmu pengetahuan mempunyai tujuan yang benar-benar teoritis. Tak seorang pun benar-benar tertarik untuk menerapkan penemuan-penemuan baru dalam praktik.”
“Benarkah?”
“Itu karena cara kehidupan ekonomi masyarakat telah diatur. Produksi terutama didasarkan pada tenaga kerja budak, warga negara tidak perlu meningkatkan produksi dengan inovasi-inovasi praktis. Inilah contohnya bagaimana hubungan material dapat membantu mempengaruhi refleksi filsafat dalam masyarakat.”
“Ya, aku mengerti.”
“Marx menyebut hubungan material, ekonomi, dan sosial ini dasar masyarakat. Cara masyarakat berpikir, jenis lembaga politik apa yang ada, hukum mana yang punyai dan, yang tidak kalah penting, apa yang terdapat dalam agama, moral, seni, filsafat, dan ilmu pengetahuan, disebut oleh Marx sebagai superstruktur masyarakat.”
“Dasar dan superstruktur, baiklah.”
“dan kini kamu mungkin mau berbaik hati mengambilkan kuil Yunani itu untukku.”
Sophie melakukannya.
“Inilah model kuil Parthenon di Acropolis. Kamu juga pernah melihatnya dalam kehidupan nyata.”
“Dalam video, maksud Anda.”
“Kamu dapat melihat bahwa konstruksi itu mempunyai atap yang anggun dan rumit. Barangkali atap dengan ujung muka segitiga yang menonjol itulah yang pertama-tama menarik perhatian orang. inilah yang kita sebut superstruktur.”
“Tapi atap itu tidak dapat melayang di udara.”
“Ia ditunjang oleh tiang-tiang.”
“Bangunan itu mempunyai fondasi yang sangat kuat – sebagai dasarnya – yang mendukung seluruh konstruksi. Dengan cara yang sama, Marx percaya bahwa hubungan material mendukung segala sesuatu sesuai dengan pemikiran dan gagasan dalam masyarakat. Superstruktur masyarakat itu sesungguhnya merupakan cerminan dasar masyarakat tersebut.”
“Apakah itu berarti bahwa teori Plato mengenai ide merupakan cerminan produksi pot bunga dan penanaman anggur?”
“Tidak, tidak sesederhana itu, sebagaimana dikemukakan oleh Marx. Itu adalah efek interaksi yang terjadi di dasar masyarakat terhadap superstrukturnya. Jika Marx menyangkal interaksi ini, dia pasti sudah menjadi seorang materialis mekanis. Tapi Marx menyadari bahwa ada suatu hubungan interaktif atau dialektis antara dasar dan superstruktur, kita katakan bahwa dia seorang materialis dialektis. Ngomong-ngomong, kamu mungkin sempat mencatat bahwa Plato itu bukan tukang pot dan bukan pula penanam anggur.”
“Baiklah. Apakah masih ada yang akan Anda katakan tentang kuil itu?”
“Ya, sedikit. Dapatkah kamu menggambarkan dasar kuil tersebut?”
“Tiang-tiangnya berdiri di atas dasar yang terdiri dari tiga tingkat – atau undakan.”
“Dengan cara yang sama, kita akan menemukan tiga tingkatan dalam masyarakat. Tingkatan yang paling dasar adalah apa yang dapat kita sebut syarat-syarat produksi masyarakat. Dengan kata lain, syarat-syarat alamiah atau sumber-sumber yang tersedia bagi masyarakat itu. Di sini aku mengacu pada syarat-syarat yang berkaitan dengan hal-hal semacam iklim dan bahan mentah. Semua ini merupakan fondasi dari setiap masyarakat, dan fondasi ini sangat menentukan jenis produksi dalam masyarakat dan dengan cara yang sama, hakikat masyarakat itu serta kebudayaannya secara umum.”
“Kita tidak dapat menemui perdagangan ikan herring di Sahara, atau menanam kurma di Norwegia Utara.”
“Kamu menangkap maksudnya. Dan cara pikir dalam kebudayaan nomadik itu sangat berbeda dari cara pikir di sebuah desa nelayan di Norwegia Utara. Tingkat selanjutnya adalah sarana produksi masyarakat. Dengan ini yang dimaksudkan Marx adalah berbagai jenis perlengkapan, peralatan, dan mesin, serta bahan mentah yang dapat ditemukan di sana.”
“Pada zaman dahulu, orang-orang mendayung menuju lahan pemancingan. Belakangan ini mereka menggunakan pukat besar untuk menangkap ikan.”
“Ya, dan di sini kita membicarakan tingkat selanjutnya dalam dasar masyarakat, yaitu mereka yang memiliki sarana-sarana produksi. Pembagian tenaga kerja, atau penyebaran pekerjaan dan pemilikan, itulah yang dinamakan Marx ‘hubungan produksi’ masyarakat.”
“Aku mengerti.”
“Sejauh ini kita dapat menyimpulkan bahwa cara produksi dalam suatu masyarakat itulah yang menentukan kondisi politik atau kondisi ideologi mana yang dapat ditemukan di sana. Bukan kebetulan bahwa sekarang ini kita berpikir dengan cara yang agak berbeda – dan memiliki aturan moral yang agak berbeda – dari masyarakat feodal lama.”
“Jadi Marx tidak percaya pada hak alamiah yang selamanya sah.”
“Tidak, masalah mengenai apa yang secara moral benar, menurut Marx, adalah produksi dasar masyarakat. Misalnya, bukan kebetulan bahwa dengan siapa anaknya harus kawin. Itu menyangkut masalah siapa yang akan mewarisi tanah pertanian. Di dalam masyarakat kota modern, hubungan sosialnya berbeda. Kini kamu dapat bertemu dengan calon pasanganmu di sbuah pesta atau disko, dan jika kalian sudah saling mencintai, kalian akan menemukan suatu tempat untuk hidup bersama.”
“Aku pasti tidak akan tahan hidup bersama orang tua yang akan memutuskan dengan siapa aku harus kawin.”
“Tidak, itu karena kamu adalah anak zamanmu sendiri. Marx menekankan lebih jauh bahwa terutama kelas masyarakat penguasalah yang menentukan norma-norma mengenai yang benar dan yang salah. Sebab ‘sejarah dari seluruh masyarakat yang ada sekarang merupakan sejarah perjuangan kelas.’ Dengan kata lain, sejarah pada prinsipnya adalah masalah siapa yang memiliki sarana produksi.”
“Tidakkah pikiran dan gagasan orang-orang dapat membantu mengubah sejarah?”
“Ya dan tidak, Marx memahami bahwa kondisi dalam superstruktur masyarakat mungkin memiliki interaktif terhadap dasar masyarakat, tapi dia menyangkal bahwa superstruktur masyarakat mempunyai sejarah tersendiri yang mandiri. Apa yang telah mendorong perkembangan sejarah dari masyarakat budak pada zaman modern menuju masyarakat industri masa kini sebelumnya telah ditentukan oleh perubahan-perubahan di dalam dasar masyarakat.”
“Begitu kata Anda.”
“Marx percaya bahwa dalam seluruh tahap sejarah selalu ada pertentangan antara dua kelas masyarakat yang berkuasa. Dalam masyarakat budak pada zaman kuno, pertentangan itu adalah antara warga bebas dan budak. Dalam masyarakat feodal dari Abda Pertengahan, pertentangan terjadi antara para tuan tanah feodal dan para hamba pengelola tanah; di kemudian hari, antara kaum bangsawan dan warga negara biasa. Tapi pada masa hidup Marx sendiri, di dalam apa yang dinamakannya masyarakat borjuis atau kapitalis, pertentangan itu pertama-tama dan terutama terjadi antara para pemodal dan para pekerja, atau kaum proletar. Jadi pertentangan itu berlangsung antara mereka yang memiliki sarana produksi dan mereka yang tidak. Dan, karena ‘kelas atas’ tidak dengan sukarela melepaskan kekuasaan mereka, perubahan hanya dapat dilancarkan melalui revolusi.”
“Bagaimana dengan masyarakat komunis?”
“Marx sangat tertarik pada tradisi masyarakat kapitalis menuju masyarakat komunis. Dia juga mengemukakan suatu analisis terperinci mengenai cara produksi kapitalis. Tapi sebelum membahas itu, kita harus mengetahui lebih dahulu pandangan Marx tentang tenaga kerja manusia.”
“Teruskan.”
“Sebelum dia menjadi seorang komunis, Marx muda sibuk memperhatikan apa yang terjadi pada manusia ketika dia bekerja. Itu adalah sesuatu yang juga pernah dianalisis oleh Hegel. Hegel percaya bahwa ada hubungan interaktif, atau dialektis, antara manusia dan alam. Jika manusia mengubah alam, dia sendiri ikut berubah. Atau, jika kita kemukakan dengan cara sedikit lain, ketika manusia bekerja, dia berinteraksi dengan alam dan mengubahnya. Tapi dalam proses itu, alam juga berinteraksi dengan manusia dan mengubah kesadarannya.”
“Katakan padaku apa yang kamu lakukan dan akan kukatakan padamu siapa kamu.”
“Itulah, ringkasnya, maksud Marx. Bagaimana kita bekerja mempengaruhi kesadaran kita, tapi kesadaran kita juga mempengaruhi cara kita bekerja. Kamu dapat mengatakan itu merupakan suatu hubungan interaktif antara tangan dan kesadaran. Jadi kamu berpikir terkait erat dengan pekerjaan yang kamu lakukan.”
“Jadi pastilah sangat menyedihkan jika kita menganggur.”
“Ya. Seseorang yang menganggur, dalam satu pengertian, merasa hamba. Hegel sudah mengetahui ini sebelumnya. Baik bagi Hegel maupun Marx, bekerja adalah sesuatu uang positif, dan terkait erat dengan esensi kemanusiaan.
“Jadi pastilah positif juga jika kita menjadi pekerja?”
“Ya, pada awalnya. Tapi inilah tepatnya sarana kecaman Marx terhadap metode produksi kapitalis.”
“Apakah itu?”
“Di bawah sistem kapitalis, pekerja bekerja untuk orang lain. Oleh karena itu, pekerjaannya merupakan sesuatu yang ada di luar dirinya – atau sesuatu yang tidak dimilikinya. Pekerja menjadi asing dengan pekerjaannya – tapi pada saat yang sama dia juga menjadi asing dengan dirinya sendiri. dia kehilangan sentuhan dengan realitasnya sendiri. marx mengatakan, dengan cara pengungkapan Hegel, bahwa pekerja itu menjadi terasing.”
“Aku mempunyai seorang bibi yang bekerja di sebuah pabrik, mengepak permen selama lebih dari dua puluh tahun, jadi aku dapat dengan mudah memahami apa yang Anda maksudkan. Dia berkata bahwa dia benci pergi bekerja, setiap pagi.”
“Tapi jika dia membenci pekerjaannya, Sophie, dia pasti membenci dirinya sendiri juga, sedikit banyak.”
“Dia benci permen, itu jelas.”
“dalam masyarakat kapitalis, pekerjaan diatur dengan cara sedemikian rupa sehingga pekerjaan sebenarnya menjadi budak bagi kelas sosial yang lain. Dengan begitu, pekerja menyerahkan tenaganya kerjanya sendiri – dan dengan itu seluruh kehidupannya – kepada kaum borjuis.”
“Apakah memang seburuk itu?”
“Kita sedang membicarakan Marx, dan karenanya kita harus mengambil titik tolak dari kondisi-kondisi sosial pada pertengahan abad yang lalu. Jadi jawabannya pastilah ya. Pekerja mungkin bekerja 12 jam sehari di dalam ruang produksi yang dingin membeku. Bayarannya sering kali begitu sedikit sehingga anak-anak dan ibu-ibu yang sedang hamil pun harus bekerja. Ini mendorong timbulnya kondisi sosial yang sangat buruk. Di banyak tempat, bagian dari upah itu dibayarkan dalam bentuk minuman keras murahan, dan kaum wanita terpaksa menambah penghasilan mereka dengan melacur. Pelanggan mereka para warga terhormat di kota itu. pendeknya, dalam situasi yang mestinya merupakan kehormatan bagi umat manusia, yaitu bekerja, pekerja justru diubah menjadi hewan pengangkut beban.”
“Itu menyulut kemarahanku!”
“Itu menyulut kemarahan Marx juga. Dan sementara hal itu berlangsung, anak-anak kaum borjuis memainkan biola di ruang keluarga yang hangat dan luas setelah mandi dalam kesegaran. Atau mereka duduk di depan piano, sementara menunggu makan malam dengan emoat jenis hidangan. Biola dan piano itu mungkin juga berfungsi sebagai hiburan setelah sebelumnya mereka lama berkuda.”
“Uh! Betapa tidak adilnya!”
“Marx pasti setuju. Bersama Engels, dia menerbitkan Comunist Manifesto pada 1848. Kalimat pertama dalam manifesto ini berbunyi: Hantu sedang membayangi Eropa – hantu komunisme.”
“Itu kedengarannya menakutkan.”
“Itu menakutkan kaum borjuis pula. Sebab kini kaum proletar mulai melancarkan revolusi. Maukah kamu mendengar bagaimana akhir manifesto itu?”
“Ya, tolong.”
“Warga Komunis itu merasa hina jika menyembunyikan pandangan dan tujuan mereka. Mereka dengan terbuka menyatakan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan mengahancurkan seluruh kondisi sosial yang ada. Biarkan kelompok penguasa gementar melihat revolusi Komunis. Kaum proletar tidak akan kehilangan apa-apa kecuali rantai mereka. Mereka punya dunia yang dapat dimenangkan. Buruh di seluruh negeri, bersatulah!”
“Jika kondisi memang seburuk yang Anda ceritakan, kukira aku akan menandatangani Manifesto itu. tapi tentunya keadaan sudah jauh berbeda sekarang?”
“Di Norwegia memang, tapi tidak demikian di tempat-tempat lain. Banyak orang masih hidup di bawah taraf kehidupan yang manusiawi, sementara mereka terus menghasilkan barang yang membuat pemodal semakin lama semakin kaya. Marx menyebut ini pemerasan.”
“Dapatkah Anda menjelaskan kata itu?”
“Jika seorang pekerja menghasilkan suatu barang, barang ini mempunyai nilai tukar tertentun.”
“Ya.”
“Jika kini kamu mengurai upah pekerja dan biaya produksi dari nilai tukar, akan selalu ada jumlah yang tersisa. Jumlah inilah yang dinamakan Marx keuntungan. Dengan kata lain, pemodal mengantongi suatu nilai yang sesungguhnya diciptakan oleh pekerja. Itulah yang dimaksud dengan pemerasan.”
“Aku mengerti.”
“Jadi kini pemodal menanamkan sebagian keuntungannya ke dalam modal baru – misalnya, dengan memodernkan pabrik ke dalam produksi dengan harapan dapat menghasilkan barang dengan harga yang lebih murah lagi, dan dengan demikian menambah keuntungannya pada masa mendatang.”
“Itu kedengarannya logis.”
“Ya, bisa jadi kelihatan logis. Tapi dalam bidang ini dan dalam bidang lain, dalam jangka panjang keadaanya tidak berjalan seperti yang dibayangkan pemodal.”
“Bagaimana maksud Anda?”
“Marx yakin ada sejumlah kontradiksi yang melekat dalam metode produksi kapitalis. Kapitalisme adalah suatu sistem ekonomi yang dapat menghancurkan dirinya sendiri, sebab ia tidak mempunyai kontrol rasional.”
“Itu bagus bukan, bagi yang ditindas?”
“Ya; sudah melekat dalam sistem kapitalis bahwa ia jalan menuju kehancurannya sendiri. Dalam pengertian itu, kapitalisme bersifat ‘progresif’, sebab ia berada satu tahap menuju komunisme.”
“Bisakah Anda memberi contoh kapitalisme yang dapat menghancurkan dirinya sendiri?”
“Kita katakan bahwa pemodal mendapatkan kelebihan uang yang sangat banyak, dan dia menggunakan bagian dari kelebihan ini untuk memodernkan pabriknya. Tapi dia juga membelanjakan uang untuk pelajaran biola. Lagi pula, istrinya telah menjadi terbiasa dengan gaya hidup mewah.”
“Tidak diragukan lagi.”
“Dia membeli mesin baru dan karenanya tidak lagi memerlukan banyak tenaga kerja. Dia melakukan ini untuk meningkatkan daya saingnya.”
“Aku mengerti.”
“Tapi dia bukan satu-satunya orang yang berpikir seperti ini, yang berarti bahwa produksi secara keseluruhan terus-menerus dibuat makin efektif. Pabrik makin lama menjadi makin besar, dan lambat laun terpusat di tangan yang jumlahnya makin sedikit. Apa yang terjadi kemudian, Sophie?”
“Anu...”
“Semakin sedikit pekerja yang dibutuhkan, yang berarti semakin banyak jumlah pengangguran. Oleh karena itu, masalah sosial semakin meningkat dan krisi semacam ini merupakan tanda bahwa kapitalisme sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri. tapi kapitalisme juga mempunyai sejumlah unsur penghancur-diri yang lain. Setiap kali keuntungan harus dimanfaatkan untuk sarana produksi tanpa menyisakan kelebihan yang cukup banyak untuk menjaga agar produksi berjalan dengan harga bersaing ...”
“Ya?”
“Apa yang dilakukan pemodal kemudian? Dapatkah kamu katakan padaku?”
“Tidak, aku kira aku tidak tahu jawabannya.”
“Bayangkan jika kamu seorang pemilik pabrik. Kamu tidak dapat mencukupi kebutuhan. Kamu tidak dapat membeli bahan mentah yang kamu butuhkan untuk terus berproduksi. Kamu sedang menghadapi kebangkrutan. Kini pertanyaanku adalah, apa yang dapat kamu lakukan untuk menghemat?”
“mungkin aku dapat menurunkan upah?”
“Cerdik! Ya, itu benar-benar pemecahan paling cerdik yang dapat kamu lakukan. Tapi jika semua pemodal secerdik kamu – dan memang begitulah mereka – para pekerja akan menjadi demikian miskinya sehingga mereka tidak mampu membeli barang lagi. Dapat kita katakan bahwa daya beli jatuh. Dan kini kita benar-benar berada dalam lingkaran setan. Lonceng telah berbunyi bagi kekayaan pribadi sang pemodal, kata Marx. Kita sedang melangkah cepat mendekati situasi revolusi.”
“Ya, aku mengerti.”
“Singkat cerita, pada akhirnya kaum proletar bangkit dan mengambil alih sarana produksi.”
“Dan sesudah itu apa?”
“Selama periode tertentu, terbentuklah ‘masyarakat kelas’ baru yang di dalamnya kaum proletar menekan kaum borjuis dengan paksa. Marx menyebut ini kediktatoran kaum proletar. Tapi setelah melewati masa transisi, kediktatoran kaum proletar itu digantikan oleh ‘masyarakat tanpa kelas’, yang di dalamnya sarana produksi dimiliki ‘oleh semua’ – yaitu, rakyat sendiri. dalam masyarakat semacam ini, kebijakan yang diambil adalah ‘dari setiap orang sesuai kemampuannya, untuk setiap orang sesuai kebutuhannya’. Pada saat ini, tenaga kerja menjadi milik para pekerja sendiri dan keterasingan kapitalisme sudah tidak ada lagi.”
“Semua itu kedengarannya indah, tapi apa yang sesungguhnya terjadi? Apakah memang ada revolusi?”
“Ya dan tidak. Kini, para ahli ekonomi menyatakan bahwa Marx keliru dalam sejumlah masalah penting, terutama analisinya mengenai krisi kapitalisme. Dan dia tidak terlalu memperhatikan perusakan lingkungan hidup – akibat serius yang kita rasakan sekarang. Sekalipun demikian ... “
“Sekalipun demikian?”
“Marxisme mendorong timbulnya pemberontakan-pemberontakan besar. Tak pelak lagi bahwa sosialisme telah banyak berhasil memerangi masyarakat yang tidak manusiawi. Di Eropa, paling tidak, kita hidup dalam masyarakat yang lebih adil – dan lebih menghargai rasa setia kawan – dibanding ketika Marx hidup. Ini terutama berkat jasa Marx sendiri dan seluruh gerakan sosialis.”
“Apa yang terjadi?”
“Setelah Marx, gerakan sosialis terbagi ke dalam dua aliran utama, Demokrasi Sosial dan Leninisme. Demokrasi Sosial, yang mengambil jalan damai dan dibangun secara lambat laun ke arah sosialisme, adalah cara yang diambil Eropa Barat. Kita dapat menyebut ini revolusi jalur lambat. Leninisme, yang mempertahankan kepercayaan Marx bahwa revolusi merupakan satu-satunya jalan untuk memerangi masyarakat kelas lama, berpengaruh besar di Eropa Timur, Asia, dan Afrika. Dengan caranya masing-masing, kedua gerakan itu melancarkan perang melawan kesengsaraan dan penindasan.”
“Tapi tidaklah itu menciptakan bentuk penindasan baru? Misalnya di Rusia dan Eropa Timur?”
“Tidak ada keraguan dalam hal itu, dan di sini lagi-lagi kita mengetahui bahwa dalam tindakan manusia tercampur kebaikan dan kejahatan. Di lain pihak, tidaklah masuk akal menyalahkan Marx karena faktor-faktor negatif di dalam apa yang dinamakan negeri-negeri sosialis lima puluh atau seratus tahus setelah kematiannya. Tapi mungkin dia tidak terlalu memikirkan orang-orang yang akan menjadi administrator masyarakat komunis. Mungkin tidak akan pernah ada ‘tanah yang dijanjikan’. Umat manusia akan selalu menciptakan masalah-masalah baru yang harus dipecahkan.”
..........................................................................................................................................................................................................................................................................

Jelas tidak hanya Marx yang mereka berdua bicarakan. Seperti satu petikan di awal, ialah Socrates yang memang menjadi bapak filsafat dunia, dia lah yang mengawali filsafat itu, kemudian ada pula Plato, dan tokoh-tokoh filsafat lainnya, termasuk Hegel, Kierkegaard, Marx, Darwin, dan lain sebagainya. Anda kemudian akan hanyut ke dalam percakapan mereka berdua, yang sekaligus akan ikut mempelajari filsafat dengan bahasa yang ringan. Anda dapat membaca selengkapnya dalam buku Novel Filsafat ini yang berjudul “DUNIA SOPHIE” karya Jostein Gaarder yang diterbitkan oleh penerbit Mizan. Novel setebal 798 halaman ini sangat disarankan bagi Anda yang suka mengolah nalar. Namun demikian, Bambang Sugiharto, seorang filsuf Indonesia yang menuliskan review di dalam novel ini mengatakan “Meskipun filsafat adalah kegiatan olah nalar, yang sebenarnya digumuli di sana adalah kebutuhan terdalam ruh dalam dinamika jatuh-bangunnya pengalaman: kebutuhan mendasar atas makna dan arah kehidupan, kebutuhan tentang bagaimana misteri-misteri kehidupan bisa dijelaskan dan dipahami, kebutuhan untuk mengerti apa yang sesungguhnya diinginkan oleh jiwa itu sendiri.” Selain prakata yang ditulis oleh Bambang Sugiharto, tiga filsuf Indonesia juga ikut memberikan testimoniumnya dalam novel ini, ialah Franz Magnis-Suseno, Sindhunata, dan F. Budi Hardiman. Bagi mereka yang telah sejak awal konsen dalam filsafat pasti tidak asing mendengar empat tokoh filsuf Indonesia tersebut. Selamat berburu buku.