by pandu pramudita
I. Aku menolak Kematian

L'Origine du Monde
Gustave Courbet
1866
Oil on canvas
46 cm x 55 cm
Sebuah
karya lukis dari Gustave Courbet seorang pelukis dari Prancis yang berjudul
“Asal-muasal Dunia”, menunjukkan sepotong tubuh wanita telanjang dengan posisi
tidur dan paha yang membuka memperlihatkan bagian vulva dengan hiasan rambut
kemaluan yang hitam, terbaring dalam selimut putih dengan bagian dada sedikit
tertutupi selimut itu meski masih terlihat puting yang memerah. Bercerita bahwa
“manusia yang membentuk dunia ini, menjalankan sebuah sistem kemasyarakatan,
membentuk pengetahuan-pengetahuan, adalah tidak lain berasal dari sebuah lubang
yang tidak lebih lebar dari jari telunjuk manusia dewasa. Seberapapun besarnya
manusia itu, mereka hanya akan muncul dari lubang yang dikenal sebagai vulva.”
Pertanyaannya adalah, siapa yang bercerita seperti itu? Apakah Coubert sang
pelukis L'Origine du Monde? Atau
wanita telanjang sepotong itu? Bukan, cerita itu berasal dari saya sendiri.
Jadi apakah saya salah dalam menceritakan lukisan itu? Tidak sepenuhnya salah
dan tidak juga sepenuhnya benar.
Kematian
Sang Pengarang
Kemunculan
si pengarang adalah bagian dari mempertunjukkan diri dalam sebuah prestise
modern dimana karya intelektualnya akan dipahami sebagai miliknya.
Sepertihalnya lukisan L'Origine du Monde,
dimana Coubert menunjukkan dirinya pada dunia bahwa dia memiliki pemikiran mengenai
asal muasal dunia dengan lukisan seorang wanita sepotong telanjang dengan fokus
pada vulvanya. Sudah pasti, bahwa Coubert memiliki sebuah pengetahuan yang
ingin ia sampaikan kepada orang lain, dan pengetahuan itu memiliki penjelasan
dalam bentuk deskripsi dan narasi di balik lukisan L'Origine du Monde itu. Dalam sebuah lukisan, akan sangat jarang
teks (dalam arti simbol huruf), bahkan tidak ada sama sekali, tertera dalam
lukisan, sehingga apa yang dibaca oleh orang lain tidak lain hanya sebuah visual.
Oleh sebab itu, seorang pembaca akan memberikan interpretasinya atau menarik
pemaknaan mengenai lukisan dari pengetahuan yang dia miliki saat itu. Semakin
luas pengetahuan yang dimiliki si pembaca maka akan semakin banyak juga
penjelasan yang dapat ia ungkapkan dari melihat karya si pengarang. Dan hal ini
berlaku sebaliknya. Dalam hal ini, si pembaca dengan si pengarang terjadi
ketika mereka terpisah.
Lalu
apa yang memisahkan mereka? Tidak lain adalah karya itu sendiri. Sebelum L'Origine du Monde itu muncul dalam
lukisan, konsep itu dimiliki seutuhnya oleh Coubert dalam benaknya. Namun
ketika L'Origine du Monde menjadi
material (benda yang dapat diinderawi) sebagai lukisan, maka material itu sudah
keluar dari dirinya. Ini yang oleh Roland Barthes, bahwa pengarang menghadapi
kematiannya. Kematian Sang Pengarang, dalam pandangan Barthes itu mengungkapkan
bahwa, sebuah karya akan dengan bebas diterjemahkan oleh pembaca dalam
rangkaian narasinya, sedang si pengarang pada waktu itu sudah dianggap mati. Mungkin
mati dalam arti sebenarnya, tetapi “mati” disini diartikan bahwa sesungguhnya
pemaknaan karya terletak pada pembaca karya itu. Sedang si pembaca bukan
berarti mereka memiliki kebenaran dalam pemaknaan karya, tetapi sesungguhnya
pembaca hanya mengada. Mengada dalam hal ini bukan karena pembaca “asal” (dalam
bahasa Jawa, ngawur) tapi pembaca
memiliki, yang oleh Hegel disebut pra-persepsi, dimana hal yang dibaca adalah
material-material yang melekat pada objek dan dihubungkan dengan pengetahuan
yang dimiliki oleh pembaca. Lalu, apakah pengarang harus melawan pembaca dengan
cara terus-menerus menarasikan karyanya?
Suatu
ketika, pengarangpun juga akan mati dalam arti sesungguhnya, sedang pembaca
akan selalu bermunculan dalam rentan waktu sepanjang karya itu masih ada. Sudah
barang tentu Coubert itu sudah mati, tetapi karyanya itu masih ada, dapat saya
indera, dan kemudian saya mengada dengan narasi yang saya bangun mengenai L'Origine du Monde itu. Meskipun pada
satu kesempatan yang masih tersisa si pengarang membuat sebuah narasi tertulis,
bukan berarti itu juga akan menjadi narasi tunggal, bisa jadi narasi itu akan
dimusnahkan dan tak dianggap oleh pembaca. Lalu, apakah nasib pengarang hanya
akan “dibuang” oleh zaman?
Pendidikan
Masyarakat
Karya
adalah sebuah bentuk material pengetahuan yang disajikan oleh pengarangnya.
Berbagai karya itu muncul dalam masyarakat yang berjalan secara fungsional
maupun estetika. Baik itu fungsional maupun estetika, pengetahuan adalah hal
yang utama yang ingin pengarang sampaikan kepada pembaca karya-karyanya. Dalam
hal ini, pengarang telah menyususn sebuah narasi panjang di balik karyanya,
yaitu pengetahuan yang ingin disampaikan oleh para pembaca. Tetapi, narasi itu
bukanlah sebuah penceritaan ulang karya. Pengetahuan yang Coubert sampaikan
bukan ketika Coubert menceritakan L'Origine
du Monde. Jika itu terjadi, justru Coubert pada saat itu tidak lagi sebagai
si pengarang tapi berubah menjadi si pembaca. Sebagai si pengarang, yang
dilakukan oleh Coubert adalah memberikan pengetahuan bagi calon-calon pembaca
karyanya, khususnya L'Origine du Monde,
mengenai dunia, manusia, feminisme, ataupun seksualitas.
Hal
yang dapat dilakukan oleh pengarang untuk menepis kematiannya adalah memberikan
pengetahuan yang dimilikinya kepada calon-calon pembaca. Sehingga, apa yang
dibaca oleh pembaca akan sedikit-banyak seperti apa yang disampaikan oleh
pengarang dalam karyanya. Reinkarnasi si pengarang adalah terletak pada
bagaimana pembaca dapat mengerti dan atau memahami pengetahuan yang pengarang sampaikan.
Pada waktu itu sudah pasti pengarang sudah mati, hanya pembaca jugalah yang
dapat menghidupkan mereka kembali dengan dapat menggali apa pengetahuan dibalik
hasil karya. Sangat penting bahwa si pengarang setelah ataupun sebelum
memunculkan karyanya, mempersiapkan pembaca-pembaca karyanya. Apalah arti jika
karya itu hanyalah sebagai “ornamen” sampingan dalam tata ruang yang estetis
maupun fungsional. Baik sebagai karya estetis maupun fungsional, hanya akan
berarti sejauh karya itu menyajikan sebuah pengetahuan dalam kehadirannya di
dalam tata ruang.
Mempersiapkan
pembaca adalah bagian dari tindakan, yaitu mengenai pendidikan masyarakat. Paulo
Friere mengatakan, bahwa “dalam pemikiran dialektis, dunia dan tindakan adalah
dua hal yang saling berkait satu sama lain. Tetapi tindakan hanya manusiawi
jika ia bukan semata-mata sebuah pekerjaan rutin tetapi juga merupakan suatu
perenungan yang mendalam, yakni bila ia tidak dibedakan secara dikotomis
(terpisah) dari refleksi.” Dalam dunia ideologi, lukisan itu hanyalah sebatas
karya, sedang tindakannya adalah menyampaikan pengetahuan yang tersirat dalam
karya itu dengan narasi yang sama ketika membangun lukisan itu. Sudah barang
tentu, sebelum pelukis menggoreskan cat-cat berwarna dalam kain kanvas, narasi
sebuah masyarakat dibangun dalam benaknya, sedang komposisi warna yang
membentuk sebuah objek adalah media yang akan menyimpan pengetahuannya secara
estetis. Sedangkan, apa yang disampaikan kepada masyarakat bukan lukisan hasil
karyanya, tetapi justru narasi yang dibangunnya itu. Lukisan itu adalah sebuah
refleksi antara dunia dan tindakan. Artinya, lukisan tidak dapat dipisahkan
dari pengetahuan yang membangunnya dengan kewajiban penyampaian pengetahuan
tersebut kepada masyarakat.
II.
Antara (Aku) Ada dan Tiada
Seorang
makhluk gua suatu hari menyalakan api di dalam gua. Ketika dia menengok ke
belakang, dia melihat sosok hitam tinggi besar. Tapi ketika dia perhatikan
betul, sosok itu tidak bergerak sama sekali. Dan dia terkaget ketika justru dia
bergerak, sosok hitam besar itu juga bergerak. Lalu ia berusaha mendekati sosok
itu, tapi yang terjadi sosok itu malah mengecil hingga tidak tampak seiring
gelapnya gua. Ia pun kembali ke sumber api itu dan sosok itu kembali menjadi
besar. Kemudian dia tersadar bahwa sosok itu adalah bayangannya sendiri. Namun
dia menjadi bertanya-tanya, “jika sosok itu adalah aku, jadi aku yang
sebenarnya apakah badan ini, bayangan itu, atau api ini?
Fenomenologi
Di
atas adalah gambaran garis besar dari pemikiran Plato mengenai “Manusia Gua”
yang menjelaskan gagasannya mengenai “ide”, bahwa dunia itu berpusat pada
pikiran manusia. Gagasan Plato tentang ide ini kemudian dikembangkan oleh Rene
Descartes ketika dia mempertanyakan tentang keber-ada-an, apakah dirinya itu
sungguh-sungguh nyata ada di dunia ini atau hanyalah bayangan dari skenario
ilahi. Sebuah kalimat yang tidak asing mengenai gagasannya berbunyi “Cogito ergo Sum” yang artinya “Aku
berpikir maka Aku ada”. Letak keber-ada-an manusia adalah pada kesadaran atau cogito, yaitu ketika manusia berpikir
maka saat itu juga dia akan meyakini bahwa dirinya nyata di dunia ini. Namun
demikian, pemikiran Descartes ini dibawa secara radikal oleh Edmund Husserl,
dimana dia menyangkal mengenai gagasan Descartes. Menurut Husserl, kesadaran
yang dijelaskan di dalam cogito ergo sum
Descartes itu masih pada taraf kesadaran tertutup. Bagi Husserl bahwa kesadaran
itu pasti terhadap sesuatu, jadi manusia itu tidak hanya berpikir, tetapi juga
ada sesuatu yang dipikirkannya, suatu objek. Dalam cogito ergo sum, Husserl menjelaskannya bahwa aku berpikir mengenai
pikirannya itu sendiri. Aku yang sedang berpikir adalah kesadaran subjek,
sedang mengenai pikiran yang sedang dipikirkan itu adalah kesadaran objek. Kita
tidak mungkin memikirkan tanpa ada objeknya, pasti ada sesuatu yang dipikirkan.
Kesadaran
adalah kunci dari keber-ada-an diri di dalam dunia ini. Aku ada karena aku
berpikir, sedang kesadaran itu pasti terhadap sesuatu. Manusia selalu
mencari-cari tentang keber-ada-an dirinya, yaitu mengenal dirinya dari
objek-objek yang mampu dia masukkan ke dalam kesadarannya. Misalnya, kain
kanvas dan cat-cat warna adalah bagian dari hidupku karena aku adalah seorang
pelukis. Namun demikian, mencapai kesadaran itu tidak kemudian datang dengan
semena-mena. Di dalamnya terdapat suatu penundaan atau epoche, yaitu sebuah refleksi diri mengenai objek yang
dipikirkannya itu. Penundaan ini terjadi karena pada dasarnya objek telah
memiliki sebuah makna yang dipahami oleh khalayak umum. Misal, kain kanvas itu
adalah media lukis sedang cat dan kua adalah bahan utama untuk bervisualisasi.
Setelah ada makna umum itu, sebagai seorang pelukis yang tidak dapat bekerja
ketika tidak ada hal-hal itu maka dia memaknai bahwa kanvas, cat, dan kuas
adalah bagian dari kehidupannya, karena tanpa itu dia tidak dapat
memvisualisasikan apa yang ada di benaknya.
Eksistensialisme
Fokus
eksistensialisme tidak jauh berbeda dengan fenomenologi, karena Jean Paul Sartre,
yang mengemukakan tentang pandangan ini juga berawal dari fenomenologi.
Eksistensialisme juga mengemukakan mengenai keber-ada-an dan kenyataan. Hal
yang ditekankan dalam eksistensialisme Sartre adalah mengenai dua hal, esensi
dan eksistensi, lebih khususnya dia memandang bahwa eksistensi mendahului
esensi. Apa itu eksistensi dan esensi? Esensi biasa dijelaskan dengan hakekat,
definisi, sifat, ide, fungsi, yang muncul dari benak manusia, sedang eksistensi
adalah bentuk material. Pada awalnya, esensi itu mendahului eksistensi, seperti
sebelum adanya sebuah benda yang namanya “kuas”, pelukis memikirkan sesuatu hal
yang dapat menjadi medianya untuk mengambil warna dan memoles-moleskan,
digunakan dengan mudah dan praktis, maka terciptalah sesuatu yang berbentuk
batang dengan ujung yang berserabut yang disebut dengan kuas. Namun, setelah
ada kuas itu, si pencipta tidak akan terus-menerus memertahankan esensi itu
dengan hukum dan aturan yang ketat yang akan mengenakan sanksi pada setiap
pemakai yang membuat esensi baru dari kuas. Sebaliknya, bahwa eksistensi kuas
itu akan tetap, dimana benda itu dapat dengan mudah dibuat atau dicari di
toko-toko. Di saat itulah esensi dari kuas akan beraneka ragam. Bagi seorang
pedagang, kuas itu adalah barang dagangan yang dapat menghasilkan uang, namun
bagi pelukis, kuas itu adalah bagian mediasi dari inspirasinya. Oleh sebab itu,
eksistensi itu mendahului esensi.
Tidak
juga jauh dari pemikiran Sartre dan Husserl, Martin Heidegger juga berpikiran
mengenai fenomenologi dan eksistensialisme. Pandangan Heidegger memfokuskan
pada “Yang ADA”. “Ada” (selalu dengan huruf besar) merupakan syarat awal atau
dasar yang memungkinkan segala sesuatu “yang lain” menjadi ada. Heidegger
menyebut “yang lain” sebagai “ada atau pengada” (selalu dengan huruf kecil). Kita
mengetahui yang Ada itu melalui pengada-pengadanya. Lawan dari Ada adalah
Ketiadaan. Dicontohkan dengan Sinar, bahwa dengan sinar kita dapat melihat
kerbau, rumput, pohon, belalang, awan, langit, dan material-material yang
muncul di sekitar kita. Tapi sebaliknya, tanpa sinar, kita tidak dapat melihat
apapun, semua menjadi gelap, kosong. Lalu, sebenarnya apa itu eksistensi dan
Ada? Jawabannya sesungguhnya cukup sederhana, yaitu aku, kamu, dia, kita,
mereka, kalian, ialah manusia yang mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan.
Manusia itu juga termasuk pengada, tetapi pengada yang khusus, yang dimungkinkan
sekali menjadi Ada. Heidegger mengatakan bahwa manusia itu memiliki kemampuan
untuk mengangkat permasalahan-permasalahan yang berarti manusia mempunyai
hubungan khusus dengan mereka (permasalahan-permasalahan itu) dan dengan cara
tertentu mempunyai cara untuk menjawabnya. Dalam eksistensialisme Heidegger,
manusia bukan mengukuhkan eksitensi pengada lainnya, tetapi justru sebagai
usaha untuk menyingkap eksistensi dirinya sendiri. Memahami
permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar adalah sebuah usaha memahami diri
kita sendiri, siapakah diri kita. Sedangkan bagi manusia yang gagal dalam
memahami eksistensinya, mereka akan mengalami yang disebut Heidegger sebagai
Keterlemparan.
|
Self Portrait with
Jewish Identity Card
Felix Nussbaum
1943
Oil on canvas
56 cm x 49 cm
|
Auschwitz / Prisoner
Felix Nussbaum
1944
Oil on canvas
47 cm x 42,5 cm
|
Felix
Nussbaum, seorang pelukis jerman yang hidup sebagai salah seorang Yahudi. Dua
karya Nussbaum yang terkenal yaitu Self
Portrait with Jewish Identity Card dan Auschwitz.
Lukisan yang berujudul Self Portrait with
Jewish Identity Card memberikan pengetahuan pada zaman itu kebebasan
beragama sangat nyata, sedang Nussbaum telah menemukan eksistensinya sebagai
seorang Yahudi. Lukisan yang berjudul Auschwitz
atau Prisoner – mungkin sebelum
kematiannya, Nussbaum belum memberikan judul, sehingga kepastian judul tidak
dapat dipastikan, Auschwitz adalah
nama tempat dimana ia ditahan (en.wikipedia.org) sedang Prisoner adalah tahanan (the-athenaeum.org), namun keduanya saya
yakin menceritakan hal sama meski memiliki spirit yang berbeda – adalah karya
terakhirnya sebelum ia dibunuh di Auschwitz Camp seminggu setelah lukisan itu
selesai. Lukisan ini dipercaya sebagai lukisan eksistensialisme (huffingtonpost.com).
Dia melukis pada saat berkembang-nya paham Nazi di Jerman. Dia harus melarikan
diri dari kejaran tentara Jerman. Alasannya sederhana, Nussbaum adalah seorang
Yahudi. Sebagai catatan sejarah terburuk, Nazi adalah yang bertanggung jawab
terbunuhnya beribu nyawa Yahudi. Dalam lukisan Auschwitz beberapa mengatakan lukisan itu menceritakan bagaimana
kondisi bencana luar biasa, yaitu bencana sosial (english.illinois.edu). Dalam
pandangan eksistensialisme bahwa Nussbaum menderita karena eksistensinya
sebagai seorang Yahudi, karena eksistensinya yang justru membuatnya ditangkap,
ditahan di Auschwitz Camp dan dibunuh oleh tentara Nazi. Pada lukisan Nussbaum
di sebelah kiri, yang berjudul Self
Portrait with Jewish Identity Card, bahwa Nussbaum sedang bercerita bahwa
dia bangga akan eksistensinya sebagai seorang Yahudi, namun menjadi hal yang
berbeda pada lukisan yang berjudul Auschwitz,
dimana nampak Nussbaum mengalami Keterlemparannya dari dunia.
III.
Sedikit Mengenai Diri
Psikoanalisis
Terkadang
kita lupa dengan diri kita, atau justru tidak mengetahui diri kita sama sekali.
Apa yang kita ketahui hanyalah tindakan yang dapat kita lakukan, sedangkan
orang lain mengenali diri kita dari tindakan yang kita lakukan itu. Oleh sebab
itu, mengenali jati diri adalah hal yang penting. Dalam tulisan Emile Durkheim,
kehampaan jati diri lebih banyak mendorong orang untuk melakukan bunuh diri.
Apa yang dilakukan manusia lebih banyak mencerminkan apa yang mereka inginkan.
Manusia biasanya melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan mereka. Keinginan
juga biasa disebut dengan hasrat. Tetapi, hal ini juga seperti apa yang
dilakukan oleh hewan. Satu hal yang tidak dilakukan oleh hewan, yaitu dia tidak
dapat melakukan diluar apa yang mereka inginkan, sedang manusia lebih banyak
demikian. Misalkan saja, karena lapar kemudian makan, tapi tidak semua manusia
bisa makan setelah dia lapar, mungkin tidak ada bahan makanan, tidak ada hal
yang bisa dimakan, tidak ada uang untuk dibelikan makanan, tidak ada barang
yang dapat ditukarkan sebagai makanan, akhirnya untuk mengatasi lapar dia
tidur, dia minum air putih yang banyak sedikit dikasih gula, dia merokok, atau
mungkin bertamu ke rumah teman berharap mendapat makan.
Dalam
membicarakan keinginan atau hasrat, Jacquas Lacan lebih banyak berbicara
mengenai seks, yaitu mengenai Penikmatan, yaitu sesuatu yang memuncak seperti
dalam orgasme, namun melampauinya dan mempunyai gejala-gejala. Hewan adalah
makhluk yang sangat jujur dalam melampiaskan seksnya, yang akan mencari lain
jenisnya untuk berhubungan seks. Hewan tidak memiliki arti tetap mengenai seks.
Berbeda dengan manusia, yang dapat memperoleh kepuasan atau kenikmatan
seksualitas melalui kata-kata, bahasa, dan aneka ragam lainnya seperti sutra,
karet, jaket kulit berwarna hitam, bahkan tiang lampu. Bagi Lacan dan Sigmun
Freud, seks itu melampaui dari sekedar bersetubuh. Apa yang mereka cari dari
seks tidak lain adalah penikmatan itu. Namun demikian, ada juga manusia yang
mencari kenikmatan dengan suatau cara yang masih berhubungan dengan keintiman
langsung mereka, misalnya masturbasi, phone
sex, atau mencambuk tubuhnya.
The Persistence of Memory
Salvador Dali
1931
Oil on canvas
24 cm x 33 cm
Tidak
semua keinginan manusia itu dapat disampaikan atau dilampiaskan. Itu sebabnya
psikoanalisis masih dianggap penting. Dalam tradisi Amerika, psikoanalisis
tidak banyak dianggap, karena mereka beranggapan psikoanalisis sulit untuk
dapat diukur, dan itu sudah diakui oleh Sigmund Freud dimana dia sendiri
mengatakan bahwa tidak ada arti yang tetap pada setiap perkataan manusia. Manusia
pada dasarnya memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengekspresikan diri,
namun untuk bisa dipahami oleh orang lain hanya dengan bahasa yang memiliki
makna terbatas. Untuk menjaga agar keinginan itu dapat berjalan terus, manusia
biasanya akan menciptakan khayalan-khayalan atau fantasi, karena hanya dalam
fantasi-lah keinginan-keinginan yang sulit atau bahkan mustahil dapat terjadi.
Namun, hal ini kemudian menjadi bagian dari ketidaksadaran manusia, dimana
kadang-kadang dia akan mengalami yang oleh Lacan disebut sebagai pengandaian.
Lagi-lagi Lacan menggiringnya ke dalam ruang seks. Lacan lebih mencontohkan,
saya mencintai Lusi, dan ketika saya bersetubuh dengan Jeni sebenarnya saya
sedang bersetubuh dengan Lusi, dan saat itu saya tidaklah sedang berselingkuh,
karena yang saya hadapi sebuah pengandaian dengan Lusi.
Pandangan
mengenai pengalihan ini dibawa lebih jauh oleh Slavoj Zizek, dimana Zizek lebih
menyebutnya dengan sublimasi. Sublimasi menurut Zizek tidak jauh berbeda dengan
Pengalihan menurut Lacan, tetapi Zizek lebih menekankan bahwa dalam mengalihkan
keinginan manusia, mereka tidak harus melakukan hal yang sama dengan mengenakan
objek yang berbeda, seperti yang dicontohkan itu. Tetapi sublimasi dapat
dilakukan dengan tindakan yang berbeda dengan objek yang berbeda pula.
Contohnya, ketika melampiaskan hasrat seksualitas, saya menggambar segumpal air
yang terjun dari tebing tanpa ada aliran sungai yang mengawalinya.
Pada tahun 1920an dan
1930an, adalah masa kejayaan psikoanalisis, dimana psikoanalisis merambah juga
ke dunia seni lukis, khususnya kaum surialisme. Banyak kaum surialisme
mendalami psikoanalisis di era itu, termasuk Salvador Dali, seorang pelukis
surialisme asal Spanyol. Salah satu lukisannya yang juga didasari tentang
psikoanalisis adalah yang berjudul The
Persistence of Memory. Jam saku yang meleleh adalah konsep yang diusung
oleh Dali mengenai “kelembutan” dan “kekerasan”. Dawn Ades mengatakan bahwa jam
saku yang meleleh adalah sebuah simbol ketidaksadaran relativitas mengenai
ruang dan waktu. Dali sedang memfisualisasikan pandangannya mengenai teori
relativitas yang dikemukakan oleh Albert Einstein. Pada dasarnya psikoanalisis
digunakan sebagai psikoterapi, dimana psikoanalis akan mengobati pasien yang
jiwanya sedang terguncang. Namun, hari ini psikoanalisis lebih dipandang
sebagai aliran filsafat ketimbang sebagai aliran psikologi.