Beauty Sunrise

Ulat Sumeh Agawe Renaning Wong Akeh.

Rapuhnya tiang saka Kraton

Orang yang SABAR itu memiliki pengetahuan yang luas adalah orang yang tidak akan terombang-ambing oleh keadaan.

Good Morning Flamingo

Lakonana Disik Dadi lan Becike.

Pagar Keraton

Sejatinya itu tidak ada apa-apa, yang ada itu bukan.

Red Sunset

PERCAYA itu ibarat tali yang menghubungkan Tuhan Yang Maha Esa kepada umatnya.

Showing posts with label Painting. Show all posts
Showing posts with label Painting. Show all posts

Wednesday, September 23, 2015

Blitz-Craftmanship: Mengapa kemampuan estetik adalah hal yang paling dicemooh pada hari ini

by lukman wijaya b

Mereka pikir inovasi teknologi secara niscaya adalah evolusi pengetahuan yang tidak boleh di tolak dan akan menggantikan jenis pengetahuan sebelumnya. Wah…ini keterlaluan. Dahulu, fotografi berambisi mengambil alih peran lukisan, wujud pertama yang dicemooh adalah para pelukis realis. Seiring dengan kemampuan teknis industri yang berkembang, fotografer belajar teknik yang diciptakan pabrik kamera dan komputer untuk lebih memperluas kemampuan teknisnya merebut gaya impresionis dan kubistik dari lukisan. Bagaimana dengan Surrealis? Mereka lahir karena belajar juxtaposisi dari mekanika kamera daripada estetika. Kemampuan estetik yang diklaim, justru telah terdapat pada lukisan dan tulisan, jauh pada era sebelumnya. Lihat saja statement Breton jika tidak percaya.

Menarik memang semua ini, efeknya melebar sampai dengan tampilan mengejutkan para penonton sinema. Tetapi orisinalitas lukisan dan ketakziman dihadapan kualitas estetik individu tetap belum pudar, belum terpatahkan. Meski telah diproklamasikan kejatuhan estetikanya lewat kemunculan peran antagonis Warhol dan Cameron.

Dibalik upaya gagal yang tidak diproklamirkan tersebut, fotografi dan sinema mungkin masih cukup nyaman apabila berpikir tentang dirinya sebagai jurnalisme, daripada masuk kedalam jurang tanpa dasar estetika, ehmm…saya teringat Capa. Dari rasa minder sebagian pengikutnya karena merasa gagal, hal demikian yang coba di eksploitasi lebih jauh oleh Banks melalui visual analysis. Seperti kelahirannya yang dididik dengan salah sehingga penuh dendam terhadap lukisan. Kini pendidikan yang salah kembali di ulang, fotografi dan sinema harus membenci tulisan. Memberikan tempat sekunder kepada tulisan sebagaimana dulu fotografi, katanya, diperlakukan demikian. Bahkan jika perlu, menggantikan tulisan dengan sinema. Hasil akhirnya meminta sebuah keahlian yang sulit dicapai seperti melukis dan menulis coba diganti hanya dengan kehandalan dalam memencet tombol dan membiarkan mesin bekerja. Kun faya kun, karya luar biasa tercipta, bahkan sebelum mata berkedip selesai membuka kelopak.

Mungkin benar apabila selama ini hanya terdapat sedikit pengakuan terhadap mereka yang pantas disebut sebagai fotografer dan sutradara melalui rangkaian acara megah dan bombastis. Namun bukankah lebih baik apabila mencurigai event semacam itu adalah upaya pabrik kamera untuk mempromosikan alat mereka, teknik visual effect mereka. Sedangkan persoalan keahlian individu seperti “pelukis”, dihargai tidak lebih “sebagai buruh yang mencetak sepatu”. Eeh..apa anda bilang, “Van Gogh mencetak sepatu”…. anda belajar estetika dimana!??? Datangi saja seminar, pelatihan, atau pameran fotografi, pertanyaan dari peserta atau pengunjungnya adalah, “apa merk kamera yang dipakai?”, “apa tele yang dipakai?”. Terakhir, yang paling konyol, saat berbisik dengan temannya atau narasumber pelatihan, “beli kamera dan tele-nya dimana, berapa harganya?”.

Lagipula siapa hari ini yang tidak membawa kamera apabila keluar rumah, yang tidak memencet tombol untuk mencintai wajahnya sendiri yang jelek. Boleh saja menjadikan kamera memiliki kualitas representasi. Tapi metode pengajaran anda penuh dendam terhadap pelukis dan penulis yang justru memiliki kekuatan representasinya sendiri, terpisah dari apa yang dapat dilakukan oleh jari dan mata yang menempel kamera. Teknik massa ini lebih menunjukan kemampuan sarana produksi hari ini dan kemampuan masyarakat dalam mengkonsumsi. Sehingga degradasinya sebagai sebuah keahlian khusus mustahil terulang seperti pada awal abad 20 dimana kamera adalah deus ex machina, kamera adalah sebuah keahlian klerus di studio. Kamera bagaimanapun juga masih lebih kuat dan berarti bagi siapapun yang memegang dan mengoperasionalkannya apabila meletakkan makna dokumenter pada karyanya. Melalui sebuah kesaksian; menanggung beban agar materi, pengalaman, dan peristiwa tetap awet; bukan demi karya itu sendiri namun demi sesuatu diluar karya itu. Darinya dia akan menyadari hutangnya pada prespektif pelukis; darinya dia akan menyadari masih membutuhkan tulisan meski gambar mampu menampilkan peristiwa namun tulisan yang memberikan logika atau dialektika (ingat film bisu dan era ketika berita harus ditonton di gedung bioskop). Karena jika berharap dirinya hadir sebagai sepenuhnya estetika dan keahlian khusus, derajatnya dapat jatuh serendah mungkin kedalam kemampuan massa untuk dapat memproduksi hal yang sama. Bukan karena kemampuan estetika massa itu sendiri, namun karena produk yang konsumen pegang memang memiliki spesifikasi pabrik yang cukup baik. Jadi kalau dipikir ulang kasihan juga si Man Ray, betapa estetikanya kini terlihat lucu dan naïf. Bisa jadi dia akan sangat jengkel dengan remaja jaman sekarang, bergigi tongos dan pakai kawat suka iseng otak-atik gambar lewat corel. Atau orang mencoba berbangga ketika mengetahui yang membuat kartun Ipin Upin adalah orang Indonesia. Kebanggaanya disatu sisi adalah mengimbangi rasa minder dengan kartun produksi Disney, disisi lain kebanggaannya tidak mencermati tentang era kemunculannya; kenapa baru sekarang, kenapa tidak sejak awal abad 20 seperti Disney? Karena kebanggaannya tidak memperdulikan bahwa teknologi penciptaan image kartun telah menjadi massal dan kompak sekaligus mudah diakses oleh perusahaan manapun, biaya dan waktu yang dipakai lebih murah dibanding era Mickey Mouse hitam putih. Jadi sebenarnya kebanggaan tersebut karena apa? Karena syarat produksi telah memungkinkan atau mengobati rasa minder?

Suatu ketika Van Gogh pernah bercerita saat catnya habis dan tidak memiliki uang untuk membeli, “hanya dengan gagang kayu sebuah sapu, seniman mampu menghasilkan karya”. Tetapi hari ini tanpa kamera dan lensa yang handal, anda sulit dan mustahil menghasilkan sesuatu yang layak disebut karya. Jika diperkenankan, saya mengulang gerutu seorang teman: “Menjadi pelukis jauh lebih mudah daripada menjadi fotografer, karena anda tidak harus sangat kaya untuk membeli alatnya. Namun menjadi pelukis juga jauh lebih sulit dibanding dengan menjadi fotografer yang keahliannya dapat diasah selama beberapa hari saja, lewat seminar, lewat pelatihan”. Benarkah hal demikian dapat terjadi, mungkin saja…. ketika kondisinya tepat.

Friday, September 18, 2015

Untuk Sidkhi: Calon Seniman Lukis Legendaris Purworejo

by pandu pramudita

I. Aku menolak Kematian

L'Origine du Monde
Gustave Courbet
1866
Oil on canvas
46 cm x 55 cm

Sebuah karya lukis dari Gustave Courbet seorang pelukis dari Prancis yang berjudul “Asal-muasal Dunia”, menunjukkan sepotong tubuh wanita telanjang dengan posisi tidur dan paha yang membuka memperlihatkan bagian vulva dengan hiasan rambut kemaluan yang hitam, terbaring dalam selimut putih dengan bagian dada sedikit tertutupi selimut itu meski masih terlihat puting yang memerah. Bercerita bahwa “manusia yang membentuk dunia ini, menjalankan sebuah sistem kemasyarakatan, membentuk pengetahuan-pengetahuan, adalah tidak lain berasal dari sebuah lubang yang tidak lebih lebar dari jari telunjuk manusia dewasa. Seberapapun besarnya manusia itu, mereka hanya akan muncul dari lubang yang dikenal sebagai vulva.” Pertanyaannya adalah, siapa yang bercerita seperti itu? Apakah Coubert sang pelukis L'Origine du Monde? Atau wanita telanjang sepotong itu? Bukan, cerita itu berasal dari saya sendiri. Jadi apakah saya salah dalam menceritakan lukisan itu? Tidak sepenuhnya salah dan tidak juga sepenuhnya benar.

Kematian Sang Pengarang

Kemunculan si pengarang adalah bagian dari mempertunjukkan diri dalam sebuah prestise modern dimana karya intelektualnya akan dipahami sebagai miliknya. Sepertihalnya lukisan L'Origine du Monde, dimana Coubert menunjukkan dirinya pada dunia bahwa dia memiliki pemikiran mengenai asal muasal dunia dengan lukisan seorang wanita sepotong telanjang dengan fokus pada vulvanya. Sudah pasti, bahwa Coubert memiliki sebuah pengetahuan yang ingin ia sampaikan kepada orang lain, dan pengetahuan itu memiliki penjelasan dalam bentuk deskripsi dan narasi di balik lukisan L'Origine du Monde itu. Dalam sebuah lukisan, akan sangat jarang teks (dalam arti simbol huruf), bahkan tidak ada sama sekali, tertera dalam lukisan, sehingga apa yang dibaca oleh orang lain tidak lain hanya sebuah visual. Oleh sebab itu, seorang pembaca akan memberikan interpretasinya atau menarik pemaknaan mengenai lukisan dari pengetahuan yang dia miliki saat itu. Semakin luas pengetahuan yang dimiliki si pembaca maka akan semakin banyak juga penjelasan yang dapat ia ungkapkan dari melihat karya si pengarang. Dan hal ini berlaku sebaliknya. Dalam hal ini, si pembaca dengan si pengarang terjadi ketika mereka terpisah.

Lalu apa yang memisahkan mereka? Tidak lain adalah karya itu sendiri. Sebelum L'Origine du Monde itu muncul dalam lukisan, konsep itu dimiliki seutuhnya oleh Coubert dalam benaknya. Namun ketika L'Origine du Monde menjadi material (benda yang dapat diinderawi) sebagai lukisan, maka material itu sudah keluar dari dirinya. Ini yang oleh Roland Barthes, bahwa pengarang menghadapi kematiannya. Kematian Sang Pengarang, dalam pandangan Barthes itu mengungkapkan bahwa, sebuah karya akan dengan bebas diterjemahkan oleh pembaca dalam rangkaian narasinya, sedang si pengarang pada waktu itu sudah dianggap mati. Mungkin mati dalam arti sebenarnya, tetapi “mati” disini diartikan bahwa sesungguhnya pemaknaan karya terletak pada pembaca karya itu. Sedang si pembaca bukan berarti mereka memiliki kebenaran dalam pemaknaan karya, tetapi sesungguhnya pembaca hanya mengada. Mengada dalam hal ini bukan karena pembaca “asal” (dalam bahasa Jawa, ngawur) tapi pembaca memiliki, yang oleh Hegel disebut pra-persepsi, dimana hal yang dibaca adalah material-material yang melekat pada objek dan dihubungkan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca. Lalu, apakah pengarang harus melawan pembaca dengan cara terus-menerus menarasikan karyanya?

Suatu ketika, pengarangpun juga akan mati dalam arti sesungguhnya, sedang pembaca akan selalu bermunculan dalam rentan waktu sepanjang karya itu masih ada. Sudah barang tentu Coubert itu sudah mati, tetapi karyanya itu masih ada, dapat saya indera, dan kemudian saya mengada dengan narasi yang saya bangun mengenai L'Origine du Monde itu. Meskipun pada satu kesempatan yang masih tersisa si pengarang membuat sebuah narasi tertulis, bukan berarti itu juga akan menjadi narasi tunggal, bisa jadi narasi itu akan dimusnahkan dan tak dianggap oleh pembaca. Lalu, apakah nasib pengarang hanya akan “dibuang” oleh zaman?

Pendidikan Masyarakat

Karya adalah sebuah bentuk material pengetahuan yang disajikan oleh pengarangnya. Berbagai karya itu muncul dalam masyarakat yang berjalan secara fungsional maupun estetika. Baik itu fungsional maupun estetika, pengetahuan adalah hal yang utama yang ingin pengarang sampaikan kepada pembaca karya-karyanya. Dalam hal ini, pengarang telah menyususn sebuah narasi panjang di balik karyanya, yaitu pengetahuan yang ingin disampaikan oleh para pembaca. Tetapi, narasi itu bukanlah sebuah penceritaan ulang karya. Pengetahuan yang Coubert sampaikan bukan ketika Coubert menceritakan L'Origine du Monde. Jika itu terjadi, justru Coubert pada saat itu tidak lagi sebagai si pengarang tapi berubah menjadi si pembaca. Sebagai si pengarang, yang dilakukan oleh Coubert adalah memberikan pengetahuan bagi calon-calon pembaca karyanya, khususnya L'Origine du Monde, mengenai dunia, manusia, feminisme, ataupun seksualitas.

Hal yang dapat dilakukan oleh pengarang untuk menepis kematiannya adalah memberikan pengetahuan yang dimilikinya kepada calon-calon pembaca. Sehingga, apa yang dibaca oleh pembaca akan sedikit-banyak seperti apa yang disampaikan oleh pengarang dalam karyanya. Reinkarnasi si pengarang adalah terletak pada bagaimana pembaca dapat mengerti dan atau memahami pengetahuan yang pengarang sampaikan. Pada waktu itu sudah pasti pengarang sudah mati, hanya pembaca jugalah yang dapat menghidupkan mereka kembali dengan dapat menggali apa pengetahuan dibalik hasil karya. Sangat penting bahwa si pengarang setelah ataupun sebelum memunculkan karyanya, mempersiapkan pembaca-pembaca karyanya. Apalah arti jika karya itu hanyalah sebagai “ornamen” sampingan dalam tata ruang yang estetis maupun fungsional. Baik sebagai karya estetis maupun fungsional, hanya akan berarti sejauh karya itu menyajikan sebuah pengetahuan dalam kehadirannya di dalam tata ruang.

Mempersiapkan pembaca adalah bagian dari tindakan, yaitu mengenai pendidikan masyarakat. Paulo Friere mengatakan, bahwa “dalam pemikiran dialektis, dunia dan tindakan adalah dua hal yang saling berkait satu sama lain. Tetapi tindakan hanya manusiawi jika ia bukan semata-mata sebuah pekerjaan rutin tetapi juga merupakan suatu perenungan yang mendalam, yakni bila ia tidak dibedakan secara dikotomis (terpisah) dari refleksi.” Dalam dunia ideologi, lukisan itu hanyalah sebatas karya, sedang tindakannya adalah menyampaikan pengetahuan yang tersirat dalam karya itu dengan narasi yang sama ketika membangun lukisan itu. Sudah barang tentu, sebelum pelukis menggoreskan cat-cat berwarna dalam kain kanvas, narasi sebuah masyarakat dibangun dalam benaknya, sedang komposisi warna yang membentuk sebuah objek adalah media yang akan menyimpan pengetahuannya secara estetis. Sedangkan, apa yang disampaikan kepada masyarakat bukan lukisan hasil karyanya, tetapi justru narasi yang dibangunnya itu. Lukisan itu adalah sebuah refleksi antara dunia dan tindakan. Artinya, lukisan tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan yang membangunnya dengan kewajiban penyampaian pengetahuan tersebut kepada masyarakat.


II. Antara (Aku) Ada dan Tiada

Seorang makhluk gua suatu hari menyalakan api di dalam gua. Ketika dia menengok ke belakang, dia melihat sosok hitam tinggi besar. Tapi ketika dia perhatikan betul, sosok itu tidak bergerak sama sekali. Dan dia terkaget ketika justru dia bergerak, sosok hitam besar itu juga bergerak. Lalu ia berusaha mendekati sosok itu, tapi yang terjadi sosok itu malah mengecil hingga tidak tampak seiring gelapnya gua. Ia pun kembali ke sumber api itu dan sosok itu kembali menjadi besar. Kemudian dia tersadar bahwa sosok itu adalah bayangannya sendiri. Namun dia menjadi bertanya-tanya, “jika sosok itu adalah aku, jadi aku yang sebenarnya apakah badan ini, bayangan itu, atau api ini?

Fenomenologi

Di atas adalah gambaran garis besar dari pemikiran Plato mengenai “Manusia Gua” yang menjelaskan gagasannya mengenai “ide”, bahwa dunia itu berpusat pada pikiran manusia. Gagasan Plato tentang ide ini kemudian dikembangkan oleh Rene Descartes ketika dia mempertanyakan tentang keber-ada-an, apakah dirinya itu sungguh-sungguh nyata ada di dunia ini atau hanyalah bayangan dari skenario ilahi. Sebuah kalimat yang tidak asing mengenai gagasannya berbunyi “Cogito ergo Sum” yang artinya “Aku berpikir maka Aku ada”. Letak keber-ada-an manusia adalah pada kesadaran atau cogito, yaitu ketika manusia berpikir maka saat itu juga dia akan meyakini bahwa dirinya nyata di dunia ini. Namun demikian, pemikiran Descartes ini dibawa secara radikal oleh Edmund Husserl, dimana dia menyangkal mengenai gagasan Descartes. Menurut Husserl, kesadaran yang dijelaskan di dalam cogito ergo sum Descartes itu masih pada taraf kesadaran tertutup. Bagi Husserl bahwa kesadaran itu pasti terhadap sesuatu, jadi manusia itu tidak hanya berpikir, tetapi juga ada sesuatu yang dipikirkannya, suatu objek. Dalam cogito ergo sum, Husserl menjelaskannya bahwa aku berpikir mengenai pikirannya itu sendiri. Aku yang sedang berpikir adalah kesadaran subjek, sedang mengenai pikiran yang sedang dipikirkan itu adalah kesadaran objek. Kita tidak mungkin memikirkan tanpa ada objeknya, pasti ada sesuatu yang dipikirkan.

Kesadaran adalah kunci dari keber-ada-an diri di dalam dunia ini. Aku ada karena aku berpikir, sedang kesadaran itu pasti terhadap sesuatu. Manusia selalu mencari-cari tentang keber-ada-an dirinya, yaitu mengenal dirinya dari objek-objek yang mampu dia masukkan ke dalam kesadarannya. Misalnya, kain kanvas dan cat-cat warna adalah bagian dari hidupku karena aku adalah seorang pelukis. Namun demikian, mencapai kesadaran itu tidak kemudian datang dengan semena-mena. Di dalamnya terdapat suatu penundaan atau epoche, yaitu sebuah refleksi diri mengenai objek yang dipikirkannya itu. Penundaan ini terjadi karena pada dasarnya objek telah memiliki sebuah makna yang dipahami oleh khalayak umum. Misal, kain kanvas itu adalah media lukis sedang cat dan kua adalah bahan utama untuk bervisualisasi. Setelah ada makna umum itu, sebagai seorang pelukis yang tidak dapat bekerja ketika tidak ada hal-hal itu maka dia memaknai bahwa kanvas, cat, dan kuas adalah bagian dari kehidupannya, karena tanpa itu dia tidak dapat memvisualisasikan apa yang ada di benaknya.

Eksistensialisme

Fokus eksistensialisme tidak jauh berbeda dengan fenomenologi, karena Jean Paul Sartre, yang mengemukakan tentang pandangan ini juga berawal dari fenomenologi. Eksistensialisme juga mengemukakan mengenai keber-ada-an dan kenyataan. Hal yang ditekankan dalam eksistensialisme Sartre adalah mengenai dua hal, esensi dan eksistensi, lebih khususnya dia memandang bahwa eksistensi mendahului esensi. Apa itu eksistensi dan esensi? Esensi biasa dijelaskan dengan hakekat, definisi, sifat, ide, fungsi, yang muncul dari benak manusia, sedang eksistensi adalah bentuk material. Pada awalnya, esensi itu mendahului eksistensi, seperti sebelum adanya sebuah benda yang namanya “kuas”, pelukis memikirkan sesuatu hal yang dapat menjadi medianya untuk mengambil warna dan memoles-moleskan, digunakan dengan mudah dan praktis, maka terciptalah sesuatu yang berbentuk batang dengan ujung yang berserabut yang disebut dengan kuas. Namun, setelah ada kuas itu, si pencipta tidak akan terus-menerus memertahankan esensi itu dengan hukum dan aturan yang ketat yang akan mengenakan sanksi pada setiap pemakai yang membuat esensi baru dari kuas. Sebaliknya, bahwa eksistensi kuas itu akan tetap, dimana benda itu dapat dengan mudah dibuat atau dicari di toko-toko. Di saat itulah esensi dari kuas akan beraneka ragam. Bagi seorang pedagang, kuas itu adalah barang dagangan yang dapat menghasilkan uang, namun bagi pelukis, kuas itu adalah bagian mediasi dari inspirasinya. Oleh sebab itu, eksistensi itu mendahului esensi.

Tidak juga jauh dari pemikiran Sartre dan Husserl, Martin Heidegger juga berpikiran mengenai fenomenologi dan eksistensialisme. Pandangan Heidegger memfokuskan pada “Yang ADA”. “Ada” (selalu dengan huruf besar) merupakan syarat awal atau dasar yang memungkinkan segala sesuatu “yang lain” menjadi ada. Heidegger menyebut “yang lain” sebagai “ada atau pengada” (selalu dengan huruf kecil). Kita mengetahui yang Ada itu melalui pengada-pengadanya. Lawan dari Ada adalah Ketiadaan. Dicontohkan dengan Sinar, bahwa dengan sinar kita dapat melihat kerbau, rumput, pohon, belalang, awan, langit, dan material-material yang muncul di sekitar kita. Tapi sebaliknya, tanpa sinar, kita tidak dapat melihat apapun, semua menjadi gelap, kosong. Lalu, sebenarnya apa itu eksistensi dan Ada? Jawabannya sesungguhnya cukup sederhana, yaitu aku, kamu, dia, kita, mereka, kalian, ialah manusia yang mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Manusia itu juga termasuk pengada, tetapi pengada yang khusus, yang dimungkinkan sekali menjadi Ada. Heidegger mengatakan bahwa manusia itu memiliki kemampuan untuk mengangkat permasalahan-permasalahan yang berarti manusia mempunyai hubungan khusus dengan mereka (permasalahan-permasalahan itu) dan dengan cara tertentu mempunyai cara untuk menjawabnya. Dalam eksistensialisme Heidegger, manusia bukan mengukuhkan eksitensi pengada lainnya, tetapi justru sebagai usaha untuk menyingkap eksistensi dirinya sendiri. Memahami permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar adalah sebuah usaha memahami diri kita sendiri, siapakah diri kita. Sedangkan bagi manusia yang gagal dalam memahami eksistensinya, mereka akan mengalami yang disebut Heidegger sebagai Keterlemparan.

Self Portrait with Jewish Identity Card
Felix Nussbaum
1943
Oil on canvas
56 cm x 49 cm
Auschwitz / Prisoner
Felix Nussbaum
1944
Oil on canvas
47 cm x 42,5 cm

Felix Nussbaum, seorang pelukis jerman yang hidup sebagai salah seorang Yahudi. Dua karya Nussbaum yang terkenal yaitu Self Portrait with Jewish Identity Card dan Auschwitz. Lukisan yang berujudul Self Portrait with Jewish Identity Card memberikan pengetahuan pada zaman itu kebebasan beragama sangat nyata, sedang Nussbaum telah menemukan eksistensinya sebagai seorang Yahudi. Lukisan yang berjudul Auschwitz atau Prisoner – mungkin sebelum kematiannya, Nussbaum belum memberikan judul, sehingga kepastian judul tidak dapat dipastikan, Auschwitz adalah nama tempat dimana ia ditahan (en.wikipedia.org) sedang Prisoner adalah tahanan (the-athenaeum.org), namun keduanya saya yakin menceritakan hal sama meski memiliki spirit yang berbeda – adalah karya terakhirnya sebelum ia dibunuh di Auschwitz Camp seminggu setelah lukisan itu selesai. Lukisan ini dipercaya sebagai lukisan eksistensialisme (huffingtonpost.com). Dia melukis pada saat berkembang-nya paham Nazi di Jerman. Dia harus melarikan diri dari kejaran tentara Jerman. Alasannya sederhana, Nussbaum adalah seorang Yahudi. Sebagai catatan sejarah terburuk, Nazi adalah yang bertanggung jawab terbunuhnya beribu nyawa Yahudi. Dalam lukisan Auschwitz beberapa mengatakan lukisan itu menceritakan bagaimana kondisi bencana luar biasa, yaitu bencana sosial (english.illinois.edu). Dalam pandangan eksistensialisme bahwa Nussbaum menderita karena eksistensinya sebagai seorang Yahudi, karena eksistensinya yang justru membuatnya ditangkap, ditahan di Auschwitz Camp dan dibunuh oleh tentara Nazi. Pada lukisan Nussbaum di sebelah kiri, yang berjudul Self Portrait with Jewish Identity Card, bahwa Nussbaum sedang bercerita bahwa dia bangga akan eksistensinya sebagai seorang Yahudi, namun menjadi hal yang berbeda pada lukisan yang berjudul Auschwitz, dimana nampak Nussbaum mengalami Keterlemparannya dari dunia.

III. Sedikit Mengenai Diri
Psikoanalisis

Terkadang kita lupa dengan diri kita, atau justru tidak mengetahui diri kita sama sekali. Apa yang kita ketahui hanyalah tindakan yang dapat kita lakukan, sedangkan orang lain mengenali diri kita dari tindakan yang kita lakukan itu. Oleh sebab itu, mengenali jati diri adalah hal yang penting. Dalam tulisan Emile Durkheim, kehampaan jati diri lebih banyak mendorong orang untuk melakukan bunuh diri. Apa yang dilakukan manusia lebih banyak mencerminkan apa yang mereka inginkan. Manusia biasanya melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan mereka. Keinginan juga biasa disebut dengan hasrat. Tetapi, hal ini juga seperti apa yang dilakukan oleh hewan. Satu hal yang tidak dilakukan oleh hewan, yaitu dia tidak dapat melakukan diluar apa yang mereka inginkan, sedang manusia lebih banyak demikian. Misalkan saja, karena lapar kemudian makan, tapi tidak semua manusia bisa makan setelah dia lapar, mungkin tidak ada bahan makanan, tidak ada hal yang bisa dimakan, tidak ada uang untuk dibelikan makanan, tidak ada barang yang dapat ditukarkan sebagai makanan, akhirnya untuk mengatasi lapar dia tidur, dia minum air putih yang banyak sedikit dikasih gula, dia merokok, atau mungkin bertamu ke rumah teman berharap mendapat makan.

Dalam membicarakan keinginan atau hasrat, Jacquas Lacan lebih banyak berbicara mengenai seks, yaitu mengenai Penikmatan, yaitu sesuatu yang memuncak seperti dalam orgasme, namun melampauinya dan mempunyai gejala-gejala. Hewan adalah makhluk yang sangat jujur dalam melampiaskan seksnya, yang akan mencari lain jenisnya untuk berhubungan seks. Hewan tidak memiliki arti tetap mengenai seks. Berbeda dengan manusia, yang dapat memperoleh kepuasan atau kenikmatan seksualitas melalui kata-kata, bahasa, dan aneka ragam lainnya seperti sutra, karet, jaket kulit berwarna hitam, bahkan tiang lampu. Bagi Lacan dan Sigmun Freud, seks itu melampaui dari sekedar bersetubuh. Apa yang mereka cari dari seks tidak lain adalah penikmatan itu. Namun demikian, ada juga manusia yang mencari kenikmatan dengan suatau cara yang masih berhubungan dengan keintiman langsung mereka, misalnya masturbasi, phone sex, atau mencambuk tubuhnya.

The Persistence of Memory
Salvador Dali
1931
Oil on canvas
24 cm x 33 cm

Tidak semua keinginan manusia itu dapat disampaikan atau dilampiaskan. Itu sebabnya psikoanalisis masih dianggap penting. Dalam tradisi Amerika, psikoanalisis tidak banyak dianggap, karena mereka beranggapan psikoanalisis sulit untuk dapat diukur, dan itu sudah diakui oleh Sigmund Freud dimana dia sendiri mengatakan bahwa tidak ada arti yang tetap pada setiap perkataan manusia. Manusia pada dasarnya memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengekspresikan diri, namun untuk bisa dipahami oleh orang lain hanya dengan bahasa yang memiliki makna terbatas. Untuk menjaga agar keinginan itu dapat berjalan terus, manusia biasanya akan menciptakan khayalan-khayalan atau fantasi, karena hanya dalam fantasi-lah keinginan-keinginan yang sulit atau bahkan mustahil dapat terjadi. Namun, hal ini kemudian menjadi bagian dari ketidaksadaran manusia, dimana kadang-kadang dia akan mengalami yang oleh Lacan disebut sebagai pengandaian. Lagi-lagi Lacan menggiringnya ke dalam ruang seks. Lacan lebih mencontohkan, saya mencintai Lusi, dan ketika saya bersetubuh dengan Jeni sebenarnya saya sedang bersetubuh dengan Lusi, dan saat itu saya tidaklah sedang berselingkuh, karena yang saya hadapi sebuah pengandaian dengan Lusi.

Pandangan mengenai pengalihan ini dibawa lebih jauh oleh Slavoj Zizek, dimana Zizek lebih menyebutnya dengan sublimasi. Sublimasi menurut Zizek tidak jauh berbeda dengan Pengalihan menurut Lacan, tetapi Zizek lebih menekankan bahwa dalam mengalihkan keinginan manusia, mereka tidak harus melakukan hal yang sama dengan mengenakan objek yang berbeda, seperti yang dicontohkan itu. Tetapi sublimasi dapat dilakukan dengan tindakan yang berbeda dengan objek yang berbeda pula. Contohnya, ketika melampiaskan hasrat seksualitas, saya menggambar segumpal air yang terjun dari tebing tanpa ada aliran sungai yang mengawalinya.

Pada tahun 1920an dan 1930an, adalah masa kejayaan psikoanalisis, dimana psikoanalisis merambah juga ke dunia seni lukis, khususnya kaum surialisme. Banyak kaum surialisme mendalami psikoanalisis di era itu, termasuk Salvador Dali, seorang pelukis surialisme asal Spanyol. Salah satu lukisannya yang juga didasari tentang psikoanalisis adalah yang berjudul The Persistence of Memory. Jam saku yang meleleh adalah konsep yang diusung oleh Dali mengenai “kelembutan” dan “kekerasan”. Dawn Ades mengatakan bahwa jam saku yang meleleh adalah sebuah simbol ketidaksadaran relativitas mengenai ruang dan waktu. Dali sedang memfisualisasikan pandangannya mengenai teori relativitas yang dikemukakan oleh Albert Einstein. Pada dasarnya psikoanalisis digunakan sebagai psikoterapi, dimana psikoanalis akan mengobati pasien yang jiwanya sedang terguncang. Namun, hari ini psikoanalisis lebih dipandang sebagai aliran filsafat ketimbang sebagai aliran psikologi.