Beauty Sunrise

Ulat Sumeh Agawe Renaning Wong Akeh.

Rapuhnya tiang saka Kraton

Orang yang SABAR itu memiliki pengetahuan yang luas adalah orang yang tidak akan terombang-ambing oleh keadaan.

Good Morning Flamingo

Lakonana Disik Dadi lan Becike.

Pagar Keraton

Sejatinya itu tidak ada apa-apa, yang ada itu bukan.

Red Sunset

PERCAYA itu ibarat tali yang menghubungkan Tuhan Yang Maha Esa kepada umatnya.

Showing posts with label Life Story. Show all posts
Showing posts with label Life Story. Show all posts

Friday, September 4, 2015

Es Pung-Pung Sepanjang Masa


by pandu pramudita

Pung!Pung!Pung! Suara sebuah kuningan yang berbentuk lingkar menonjol di tengah bulat kecil, seperti sebuah alat musik khas Jawa dalam rangkaian, apa yang mereka sebut sebagai gamelan, atau tepatnya seperti bonang namun hanya satu buah yang tergantung di gerobak dorong berwarna biru, di tabuh sesekali dengan pemukul yang tidak terlalu panjang, mungkin sepanjang dua jengkal telapak tangan orang dewasa, dengan karet merah terbungkus setengah dari tongkat itu. Gerobak didorong oleh seorang kakek yang tidak terlalu tinggi, atau bisa saya bilang di bawah rata-rata orang Jawa, namun dalam usianya yang bekepala 8 masih tetap gagah mendorong gerobak es itu. Es Pung-Pung Mbah Wo, itulah dia. 

Mbah Wo, orang yang tidak asing lagi bagi kami, anak-anak di gang Candi yang sekarang nama itu berganti dengan jalan Pasar Hewan. Bagaimana tidak, dari sewaktu kami kecil, Mbah Wo sudah melakukan pekerjaannya sebagai Tukang Es, yaitu Es Pung-pung, sebelum saya lahir, sampai saya sudah berumur seperempat abad, dia masih dengan gagahnya memutarkan gerobak itu di wilayah ini. Hanya harga dan porsi yang saya beli yang berubah, dimana dulu dengan uang seratus rupiah saya dapat membeli sebuah es pung-pung dengan contong krupuk merah yang menjadi tempatnya, dan terkadang ibu memberi uang lebih lima ratus rupiah untuk mendapatkan es pung-pung dengan tempat seperti gelas yang terbuat dari kertas yang mungkin bercampur lilin yang membuat kertas itu kaku dan tahan terhadap air dan bonus juga contong krupuk. Kini untuk mendapatkan es pung-pung dengan tempat contong krupuk harus mengeluarkan uang seribu rupiah, dan saya sudah malu dengan porsi itu. Dengan membawa gelas besar sendiri, saya sodorkan kepada Mbah Wo untuk mengisi gelas itu dengan es pung-pung seharga lima ribu. Jelas tidak akan habis dalam satu hari, karena saya harus mengirit-irit es itu agar tidak lekas habis.

Mbah Wo, adalah kakek dari anak-anak di gang Candi. Masyarakat sini masih saja menyebut jalan depan rumah itu dengan nama gang Candi meski sudah diganti namanya oleh pemerintah setempat. Jasanya tidak dapat dilepaskan dari kehidupan kami mengingat bahwa dewasa ini saya menyadari sudah banyak penjual jajanan untuk anak-anak yang tidak memperhatikan gizi, atau setidaknya tidak membahayakan anak. Di televisi, saya sering mendapati berita atau investigasi-investigasi mengenai jajanan anak-anak yang berada di bawah ambang batas keamanan konsumsi. Batuk, radang tenggorokan, diare, sampai muntaber banyak menjangkit anak-anak melalui jajanan jalanan itu. Tapi berbeda dengan Mbah Wo. Banyak anak-anak yang sudah tumbuh dewasa dan beberapa sudah menikah itu masih saja kangen dengan dia, saya lebih yakin bukan karena es pung-pung yang enak, tetapi doa yang masuk dalam makanan itu dan tertelan ke dalam perut dan bereaksi di sanubari. Suatu hari, Ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, saya pernah tidak berjumpa lama dengan Mbah Wo, dan sebagai ganti ada seorang penjual es serupa dengan menggunakan sepeda untuk berkeliling, dan saya membeli sebuah es darinya. Dengan harga yang sama dan tempat contong yang sama, tapi saya tidak mendapatkan rasa yang sama, sedikit serak dan sakit di tenggorokan, itulah yang saya rasakan pada es itu. Sehingga saya memutuskan, selain Es Pung-Pung Mbah Wo, saya tidak mau.

Mbah Wo bukanlah mayarakat Kecamatan Kutoarjo, dia adalah penduduk Klaten, tepatnya di Bayat, 200 km dari kami tinggal dan dari dia mengorbitkan es pung-pungnya. Sebagai penduduk Klaten pada dasarnya dia adalah seorang petani, mengerjakan sawah sampa memanennya di tanah sendiri, bukan tanah sewa atau buruh milik orang lain. Dari warga gang Candi sendiri, termasuk saya, belum pernah ada satu orangpun yang memeriksa ke sana, apakah dia benar-benar orang Klaten ataupun seorang petani, tapi tidak ada satupun yang ragu akan ceritanya itu, seperti kejujurannya dalam es pung-pung, nikmat dirasa. Dulu dia lebih sering menjajakan es pung-pung karena dia masih punya tenaga kerja untuk menggarapkan sawahnya, setidaknya masih ada anak-anaknya dan saudara-saudara yang tinggal di sekitar. Namun kini dia tidak memiliki banyak tenaga kerja lagi, anak-anaknya telah pergi merantau setelah menikah dan mendapatkan pekerjaan kantoran di kota lain. Olah sebab itu, terkadang sampai sebulan dan berbulan-bulan dia tidak menampakkan gerobaknya di wilayah Kutoarjo. Meski waktu sudah terasa lama, saya sendiri tidak melihat adanya perubahan fisik yang berarti darinya, masih tetap gagah mendorong gerobak. Kini dia mengatakan bahwa menjual es adalah untuk hiburan, dan petani adalah pekerjaan yang utama baginya. Bertemu dan melihat anak-anak kecil yang suka dengan esnya adalah suatu hal yang mendatangkan bahagia kepadanya. Di akhir kata, saya harap dia mendapatkan kesehatan selalu dan mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.

Monday, August 31, 2015

Blandong: Si Tukang Kayu yang Ahli dan Cerdas

Blandong Si Tukang Kayu, 2015

by pandu pramudita

Minggu pagi yang tidak cerah mengawali hari. Awan mendung yang sudah nampak kelabu gelap menghiasi langit Kutoarjo. Teringat berita cuaca yang mengatakan bahwa tidak akan ada hujan sampai akhir tahun karena badai kering di samudra pasifik membuat Blandong tidak surut melihat awan kelabu itu. Dengan bersenjatakan kampak, golok, dan seutas tambang hijau menggulung, ia kemudian melihat sejenak sebuah pohon petai yang telah menjulang tinggi melampaui atap-atap rumah di sekitar yang merisaukan. Berdiri berdiam menatap pohon, kepalanya yang menengada ke atas, matanya yang melirik sejenak ke arah sekitar pohon. Tiga orang pemuda berdiri menemani tidak begitu dekat, mereka adalah penghuni-penghuni rumah-rumah yang risau akan pohon-pohon petai tersebut. Daun-daunnya yang kecil terkadang masuk ke sela-sela genteng sehingga ketika datang awan kencang daun-daun tersebut masuk ke dalam rumah dan saat hujan datang menjadi jalan air masuk ke rumah melalui sela-sela genteng-genteng itu. terlebih, seorang pemuda diantaranya, ialah sang pemilik pohon petai itu juga sudah mengatakan kalau pohon-pohon petai itu sudah dibeli oleh orang lain, hanya saja sebelum orang itu menebang terjadi masalah pada dirinya dan menghilang entah kemana tidak pernah ada kabar yang jelas. Sudah bertahun-tahun pohon-pohon itu kemudian tidak banyak di rawat, dan juga sudah jarang berbuah, dan justru hanya merisaukan.

Mungkin akal sang Blandong sudah tertata. Sebuah tangga bambu kemudian diambil dan dan terpasang di sebuah pohon petai yang tinggi itu. Tidak lebih dari setengah dari tinggi pohon tangga itu terpasang namun sudah lebih baik dari pada memanjat dari bawah menggunakan tangan kosong dengan belitan tambang di pinggang dan golok yang diselipkan di sabuk bagian belakang blandong. Dengan memanjat layaknya koala, perlahan tapi penuh kekuatan di otot-otot lengan dan kakinya, si blandong kemudian kembali diam sejenak di atas pohon dengan menyelipkan kaki di sela batang kayu yang menyabang dua dengan pantatnya yang terduduk di batang sebelah dan tangannya yang memegang batang lainnya sekedang menjaga keseimbangan, kepalanya menengada dan mengamati setiap batang, setiap cabang, dan ujung-ujung ranting, dan sesekali menengok ke bawah ke arah atap rumah dan kawat listrik bertegangan tinggi. Satu persatu cabang dan ranting yang menjulai sendiri di potong dengan goloknya dan kemudian hanya terlihat gerombolan ranting-ranting beserta dedaunan di kedua ujung cabang pohon petai itu.

Perhitungan yang tepat adalah keahlian setiap mereka tukang kayu dalam memprediksi dimana jatuhnya batang-batang kayu dan bagaimana ayunannya. Begitu juga dengan si Blandong, dengan batas kepala kemudia goloknya mulai di ayunkan, perlahan tapi dalam, hingga percikan kayu yang masih terlihat besar terlempar dari ayunannya yang kedua dan seterusnya. Hanya perlahan-lahan si Blandong mengayunkan goloknya dan akan berhenti sampai batang itu berbunyi retak meski lirih, karena kemudian hanya kan di dorong perlahan-lahan juga, sampai terayun jatuh tegak vertikal. Jika batang itu masih membujur jatuhnya akan menimpa genteng dan kawat, dan parahnya akan mengancurkan genteng dan memutuskan kawat. Namun tidak dengan kepiawaian si Blandong. Begitu pula dengan batang yang satunya, dengan perhitungannya batang kayu itu jatuh dengan tidak membahayakan sekitar, meski batang yang kedua ini sedikit menyerempet ke atap bagian pinggir rumah si pemilik pohon. Terakhir dari batang kayu ini, bagian “bongkot” atau pangkal pohon yang ditebang dengan menggunakan kampak. Sebelum Blandong mengayunkan kampaknya terlebih dahulu ia lilit dan ikat tambang itu ke bagian atas pohon petai itu kemudian diikatkan pula dengan pohon sebuah pohon alpukan di sisi sebelah barat, berjarak kurang lebih 6m, masih di dalam area kebun itu yang seluas 10x20 m persegi. Dengan keahlian tali-menali, Blandong mengamil sebatang kayu yang berdiameter ckup tebal, mungkin tebesar diameter lengannya, dan membuatnya sebagai sebuah katrol. Demikianlah Blandong si tukang kayu yang menguasai pengetahuan yang ia perlukan sebagai tukang kayu. Dengan ikatan kuat itu kemudian ia beranikan ayunan kampak menghantap sisi barat pangkal pohon itu. Tiga pemuda itu yang tadinya menonton kemudian berganti di sisi barat kebun, berdiri berbaris di alan, memegangi tali yang menarik pohon yang akan tumbang itu. Brakkkkk!!!, tumbang pohon satu tanpa ada hal yang membahayakan.

Kata pujian selalu si pemilik pohon itu bisikkan ke pada dua orang pemuda itu tentang aksi Blandong. Tapi nampaknya itu bukanlah akhir dari pujian itu kepada Blandong ketika Blandong menunjukkan keahliannya yang mengagetkan semua yang melihat sebuah batang kayu pohon petai kedua jatuh meluncur dengan mulus. Sebelum si Blandong menebang pohon petai yang kedua, yang sama berdiri menjulang tinggi di atas atap dan tepat di atas kawat listrik bertegangan tinggi, ia terlebih dahulu memanjat pohon kelapa yang jauh dari pohon petai itu. Ketiga pemuda itu berpikir pohon kelapa itu hanya sebagai patok penarik pohon petai yang di tumbangkan itu. Tanpa berkata dan hanya mengerjakan apa yang menjadi tugasnya, si Blandong kemudian meneruskan pekerjaannya sebagai penebang pohon. Satu persatu ranting yang tumbuh tidak beraturan dipangkas satu persatu, hingga sebuah cabang kecil tapi cukup panjang dan berat tampak menjulang, dan sangat berbahaya untuk memotongnya. Ketiga pemuda itu cukup heran ketika Blandong hanya mengaitkan tambang itudi sela cabang yang menyabang dua. "Mas, jangan di situ ya" teriak Blandong kepada salah seorang pemuda yang duduk di bawah pohon kelapa yang diikatkan tambang, pangkal dari tambang yang terikat di atas. Ayunan golok perlahan kemudian dihantamkan di bawah tambang yang melewati sela cabang itu. Dengan sedikit takut, ketiga pemuda itu saling berbisik, "apakah tidak mengenai kawat dan genteng jika tambangnya hanya dilewatkan begitu?". Preketek, zuuuuuuuuutzzz!!! "Edian" teriak seorang pemuda melihat cabang kayu yang bukannya jatuh tegak vertikal justru berayun kebawah mengikuti tambang yang membentang dari pohon itu sampai ke pohon kelapa. "Wah, padainya kamu" kata pemilik pohon. "Kalau tukang yang lain aku harus bayar 50 ribu untuk nyopot kawat listrik itu. Tidak ada tukang yang berani motong pohon itu kalau kawatnya tidak di copot dulu" lanjutnya. "Tidak main-main, Be, ini hasil nimba ilmu di Jepang" jawab si Blandong yang disambut sedikit tidak percaya oleh ketiga pemuda itu kalau Blandong pernah ke Jepang. Dan seperti cara Blandong menebang batang pohon pertama, demikian juga pohon petai yang kedua tumbang, dengan memanfaatkan sebuah kayu yang dijadikannya katrol penarik pohon agar ketika tumbang dapat di arahkan ket tempat yang aman.

Sunday, August 30, 2015

Wanita Berkerudung Merah

by: pandu pramudita

Sebenarnya catatan ini saya alami di pertengahan tahun 2014, hanya saja saya lupa menyimpan di file mana. Baru kali ini saya menemukan dan berkesempatan untuk mengunggahnya. Cerita Wanita Berkerudung Merah itu memperlihatkan mimik dan laku berbeda dengan maksud dari tindakannya. Hanya dengan terus-menerus merenungkannyalah kita dapat memahami apa yang dimaksud si wanita itu.

Seminggu itu, tradisi makan malam sebelum menjelang tidur tumbuh dalam kebiasaan saya. Jalanan yang mulai menyepi di jalanan Yogyakarta dini hari tak memberikan kesunyian bagi perut yang lapar menjelang mata terpejam. Nasi lempok dengan lauk ayam goreng dicampur pecel, tak lupa terong goreng yang disantap dengan sambal tomat yang pedas. Rasa pedas bercampur manis membuat saya lupa jika saya adalah seorang yang tidak tahan dengan pedas, kata orang adalah lidah Jawa yang suka manis. Seperti malam sebelumnya, malam ini pun saya berjalan menuju sebuah tenda pedagang kaki lima di sisi Jalan Kaliurang, dekat tempat saya tinggal di Yogyakarta. Dan seminggu itu pula, saya selalu membeli makanan dengan menu makanan yang sama di warung yang sama.

Seorang wanita berkerudung merah, berpakaian hitam, duduk menunggu di kursi pelanggan, menengok ke sepanjang jalan, barang kali akan ada pelanggan yang berjalan atau singgah di warung nasi lempoknya, dan seorang pria yang duduk di belakang gerobak berdiam tak memberikan suatu aksi yang lebih bagi dagangannya, tak tahu tidak seperti biasa ketika saya datang yang menyambut menanyakan pesanan kepada si pembeli. Selalu wanita berkerudung merah itu yang melayani setiap apa yang saya pesan dengan di dampingi pria itu yang hanya duduk tak beranjak dari kursinya. Pada waktu saya datang dan masuk ke tenda tersebut, terlihat dua pasang, laki-laki dan perempuan yang sedang menyantap pesanan mereka di meja pelanggan, yang memanjang dari selatan-utara, diterangi lampu putih. Seperti biasa, nasi lempok dengan lauk ayam dan terong goreng yang saya pesan pada wanita itu. Belum kelar pesanan saya matang, salah satu pasangan telah menyelesaikan makan malamnya dan membayar sejumlah uang pada wanita berkerudung merah, si pria tetap duduk di belakang gerobak. Setelah sepasang pelanggan itu pergi, si pria ingin beranjak pergi, mungkin akan memberesi piring kotor yang telah usai dipakai oleh pelanggan tadi untuk makan di situ, namun dengan seketika si wanita menarik bajunya dan menyeret untuk duduk kembali sambil berkata “tak saduk sampeyan (aku tendang (di bagian kaki) kamu)” dengan nada layaknya orang Lamongan. Pria itu hanya membalasnya dengan cengengesan (cengar-cengir). “Apa yang sedang terjadi?”, tanya saya dalam pikiran. Setelah si wanita usai menggoreng ayam dan terong yang saya pesan dan kemudian membungkusnya beserta nasi dan sambal, kemudia dia menghampiri saya untuk memberikan pesanan tersebut seraya menyebutkan harga pesanan tersebut. Lalu saya beranjak dari tempat duduk dan berjalan menghampiri seraya mengeluarkan uang dari dompet. Sekelebat saya melihat ke arah pria itu dengan heran, mengapa celana yang satunya panjang dan yang satunya digulung? Mataku terfokus di lututnya yang pada waktu itu dia angkat sedikit menyender di palang kursi yang didudukinya, kemudian aku melihat sebuah luka yang ada di lututnya, aku rasa luka itu baru namun sudah agak kering tapi masih kemerahan.

Ialah Wanita Berkerudung Merah yang mungkin terlihat sedikit garang dalam perkataan dan mungkin tindakannya, tetapi maksud di balik itu menunjukkan rasa kepeduliannya kepada pria itu, yang saya yakini bukanlah suami atau kekasihnya, tetapi orang yang membentu si wanita berjualan nasi lempok. Pada akhirnya, tindakan maupun perkataan orang yang terlihat di mata dan terdengar di telinga tidak selalu nampa seperti kenyataan yang utuh. Hanya dengan selalu berkesadaran, merenungkan, memikirkan terus-menerus dengan teliti pada setiap hal yang uncul di sekitar adalah kebijaksanaan dalam hati manusia.

Thursday, August 27, 2015

Kejutan Yang Sudah Diduga

By: Pandu Pramudita

Hari Kamis, 18 Juni 2015, seperti hari menegangkan lainnya, harap-harap cemas, menanti kelulusan tes AcEPT, satu versi tes toefl dari perguruan tinggi terkemuka di Indonesia yang berdiri di tanah Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Karena dengan modal tes inilah saya bisa memenuhi syarat untuk mengikuti sidang tesis. Semua persyaratan bisa saya penuhi diawal acc, hanya saja terganjal dengan belum terpenuhinya skor tes ini. Maka sangat wajar bagi saya jika saya harus mencemaskan hasil tes bahasa inggris ini, dimana tes inilah yang akan menentukan cepat lambatnya saya bertahan di UGM (Universitas Gajah Mada) ini. Namun kabar gembira pertama saya dapatkan setelah pagi yang masih petang, ketika saya membuka pengumuman itu lewat online meski sebenarnya saya masih ragu apakah itu skor saya atau bukan. Pasalnya skor yang saya dapatkan adalah ambang batas dari skor minimal. 209 adalah angka kramat yang harus saya peroleh untuk mendapatkan pintu masa depan selanjutnya. Memang benar, modal untuk mencapai tujuan adalah dengan belajar sedang modal belajar itu hanya satu, tidak lain adalah sabar. Dengan kesabaran, menapaki tahap demi tahap maka akan sampai pada apa yang menjadi tujuan kita. Begitu juga dengan perolehan angka kramat itu. Sebelum saya mendaftar program S-2 ini, sekali saya mengikuti tes rutin AcEPT namun pada waktu itu saya hanya memperoleh skor 160 sekian – saya tidak ingat persisnya berapa, apakah 163, 164, atau 165, karena saya tahu saya tidak mencapai skor minimal lantas saya tidak mengambil sertifikatnya. Yang saya ingat adalah skor itu setara dengan 410 skor toefl dari batas skor 450. Bahkan untuk standar S-1 UGM saya tidak lulus. Setelah tes itu, saya tetap mengikuti ujian masuk, dimana salah satu tesnya adalah AcEPT. Skor meningkat tapi tidak berarti, karena masih jauh dari standar, yaitu 165. Skor 209 saya peroleh kali keempat setelah tesis saya di-acc oleh dosen pembimbing, dimana pertama meningkat menjadi 184, kemudian 203, dan 205. Jika semua dapat dinilai dengan angka, memang betapa mudahnya kita menilai diri sendiri, seberapa jauhkan kita sudah meningkat? Tapi kenyataannya, kita tidak hidup dalam angka-angka, jauh lebih banyak hal yang tidak dapat diwujudkan dengan angka, semisal seberapa jauhkah tingkat kesabaran kita?
Modal angka 209, dengan langkah percaya diri, saya berangkat ke Yogyakarta. Semangat semakin bertambah ketika saya menerima selembar kertas berukuran panjang sejengkal lebih sedikit dengan lebar setengah dari jarak ujung jari telunjuk dan ujung jempol ketika dibentang, sertifikat AcEPT dengan terbubuhnya angka 209 yang disertai rincian skor yang membentuk angka itu. Kabar gembira ini kemudian saya sampaikan kepada orang-orang yang selama ini mendukung saya, kedua orang tua, kekasih, dan seorang teman. Hanya empat orang? Setidaknya merekalah yang benar-benar ada di sisi saya ketika saya sedang berjuang. Tidak ada yang utama dari keempat orang tersebut, karena masing-masing dari mereka memberikan dukungan yang berbeda dari perjuangan saya. Kedua orang tua yang mendukung dari sisi finansial dan moral yang disokong juga oleh kekasih saya, sedang seorang teman saya selain moral juga tempat saya berdiskusi, mencurahkan apa yang menjadi kepusingan saya, teman penyusun strategi “perang”. Di hari itu pula, setelah saya memberikan kabar baik ini, saya menuju kampus, menemui petugas akademik fakultas untuk meminta persyaratan yang dapat saya ambil setelah skor bahasa inggri saya itu lulus dan dilanjutkan menuju langkah penuh percaya diri ke lantai 3, kantor sekretaris jurusan yang akan melanjutkan berkas-berkas saya untuk dapat didaftarkan sidang tesis. Tidak ada lagi kendala lain yang menghalangi saya untuk dapat mengikuti sidang tesis. Saya pulang dengan sedikit berbangga hati. Sedikit? Ya, karena saya harus tetap menanti kapan hari ujian itu dijadwalkan, karena saya harus berdebar menghadapi ujian itu. Meski kemudian dengan tidak saya duga, karena saya kira kabar itu akan saya dapatkan seminggu kemudian, pada hari jumat siang saya dihubungi oleh sekretaris jurusan untuk mengikuti sidang tesis yang dijadwalkan pada hari Selasa tanggal 23 Juni 2015. Langsung saja, kabar ini saya lanjutkan ke orang-orang terdekat saya tadi. Salah satunya kepada kekasih saya, August Lely.
Seminggu yang lalu, saya dan Bunda Lely, begitulah panggilan sayang saya kepada kekasihku, kami merencanakan untuk jalan-jalan seminggu penuh, pada minggu keempat bulan Juni itu, karena memang sudah lama sekali kami tidak berjumpa karena jarak yang teramat jauh. Namun, karena kesibukannya sebagai tenaga pendidik sekaligus tenaga sekolah untuk mengurus beberapa kegiatan di sekolahnya, ia harus mengurungkan niatnya bermain ke Jogja, kota awal dari hubungan yang sebentar lagi akan kami lanjutkan ke jengjang rumah tangga. Karena hal itu juga saya kemudian tidak begitu berharap banyak, dengan kata lain saya masih berharap kedatangannya. Namun, seingat saya, dulu saya juga pernah megatakan kepada Bunda Lely bahwa dia tidak perlu datang pada saat saya ujian tesis, cukup pada saat saya wisuda saja. Kemudian pada malam minggunya, Bunda Lely bertanya mengenai jam berapa saya ujian, dengan terbesit harapan dia datang saya menjawab dengan lengkap, jam 11 di ruang sidang jurusan sosiologi, lantai 3, fakultas ilmu sosial dan politik UGM.
Minggu malam, saya sedang belajar, memberi tanda setiap bab yang akan saya bicarakan. Sampai pada ponsel saya berbunyi, tanda sms masuk, dari kakak angkat saya yang menanyakan kesibukan malam itu. Saya mengatakan sedang belajar. Dia meminta saya untuk ke Kemiri. Entah urusan apa yang menyeret saya untuk ke Kemiri. Dalam pikiran saya, jangan-jangan Bunda Lely sudah ada di sana. Dengan sedikit senyam-senyum saya menggunakan celana panjang dan berjalan menuju ke lemari bawah tangga untuk mengambil jaket yang tergantung disana. Ibu kemudian bertanya kepada saya, mengenai tujuan saya, dan saya jawab mas Dika menyuruh saya ke Kemiri. Karena mulut saya sedikit tersungging sehingga ibu kembali bertanya “ada apa?”, dan saya menjawab “tidak apa-apa”. “GR” itulah yang biasa orang utarakan kepada seseorang yang terburu-buru berprasangka sebuah keuntungan atau hal baik akan datang kepadanya. Begitu juga saya. Dalam perjalanan saya juga berpikiran, dimana saya akan bertemu dengan Bunda Lely, apakah di Kemiri ada sebuah rumah makan dimana saya akan bertemu dengannya? Pemikiran saya tidak tanpa alasan, mengingat mereka dekat, leli dan keluarga mas Dika, dan kemungkinan bisa bekerja sama untuk mengejutkan saya. Tapi ternyata benar, itu hanya ke-GR-an saya, karena ternyata saya diminta mas Dika untuk membantunya menata kios pakaian yang baru saja dia sewa.
Senin pagi, saya berangkat ke Jogja, menuju ke tempat kos teman, untuk bermalam disana, agar di hari saya ujian tidak terburu-buru. Karena biasanya, dalam ujian, mahasiswa menyediakan makanan atau menitipkan sejumlah uang kepada admin jurusan untuk menyediakan makanan, maka saya memutuskan untuk ke kampus bersama teman saya, dimana dia juga memiliki urusan serupa, ia akan mendaftar ujian. Karena urusan kami sudah selesai, kami tidak tahu lagi mau kemana, maka kami memutuskan untuk tetap di kampus, duduk-duduk sambil berbincang. Teringat teman perempuan, Rhyme namanya, teman yang kami jadikan curhatan mengenai persiapan ujian. Kemudian saya diminta Lukmanovski untuk menghubungi Rhyme. Salah satu penggalan percakapan kami, saya menanyakan keberadaan dia pada waktu itu. Dia berkata sedang di kos, dan saya diminta Lukmanovski untuk menanyakan alamat kosnya, pikir Lukmanovski karena tidak tahu mau apalagi, kami ingin main ke sana sambil ngobrol-ngobrol. Tapi Rhyme melarang kami untuk berkunjung, karena dia sedang ingin bermalas-malasan. Namun, terbesit dalam pikiran saya, jangan-jangan Bunda Lely sedang di kosnya Rima, mengingat Bunda Lely dan Rhyme akan sangat mudah akrab, Rhyme dengan orang yang terbuka berteman dan Bunda Lely yang dapat berbincang dengan siapapun. Kemudian saya bertanya, apakah dia di kos sendirian atau ada orang lain? Tapi dia menjawab hanya sendiri. Rhyme bukanlah orang yang pintar berbohong sehingga saya tidak banyak berharap bahwa Bunda Lely akan ada disana meski tetap saja pikiran saya mencoba meraba kejutana itu dibersamai Rima. Karena gagal menemukan tempat membuang waktu, kemudian kami berpikir untuk ke toko-toko peralatan kantor mencari penjepit kertas berukuran besar untuk Lukmanovskiovski, mengingat tesis Lukmanovski setebal hampir satu rim dan tidak banyak klip kertas yang dapat menggigit kertas setebal itu. Koperasi kampus menjadi lokasi pertama yang kami kunjungi. Terlihat sebua rumah tingkat sedikit mewah, teringat disitu dulu adalah rumah kost adik kelas Bunda Lely, kemudian pertanyaan menduga-duga terngiang dikepala “jangan-jangan Bunda Lely di sana, ditempat adik kelasnya”. Tapi bayangan itu segera saya redam untuk memfokuskan ke pencarian klip kertas, yang akhirnya kami temukan di toko ketiga yang kami kunjungi. Malam hari sebelum hari “pengadilan terakhir”, pikiran ini tidak banyak lagi terfokus dalam ujian besok pagi. Masih bertanya-tanya dan bahkan meranang sebuah kalimat yang akan saya lontarkan kepadanya ketiga Bunda Lely benar-benar memberikan kejutan “Aku bertanya-tanya, kapankah kejutan itu akan muncul?”. Sedikit mengobrol dengan teman kemudian kantuk harus saya paksakan agar besok pagi saya siap “bertempur” menghadapi pertanyaan-pertanyaan “para dewa”.

Keesokan hari, hari dimana “pengadilan terakhir” akan segera dijatuhkan. Mungkin “terpaksa”, saya menyentuh air-air pagi untuk membasahi sekujur tubuh. Siraman air mungkin mengglontorkan busa-busa sabun yang ada di tubuh, tetapi tidak merontokkan pikiran saya kepada Bunda Lely. Justru saya tidak banyak terfokus mengenai apa-apa yang akan saya hadapi dalam ujian tesis, pikiran saya hanya tertuju pada Bunda Lely. Bahkan sebelum saya masuk ke ruang sidang, hanya sekali saya membuka transkrip tesis saya, dan itupun malam hari tadi. Menunggu waktu sidang, saya ditemani oleh Lukmanovski di kursi tunggu jurusan dengan kalimat-kalimat penggoda dari Lukmanovski mencoba merontokkan kepercayaan diri menghadapi sidang tesis. Namun nampakkan dia tidak pandai untuk merontokkan kepercayaan diri saya, karena pada waktu itu justru bukan tesis yang saya pikirkan tetapi Bunda Lely. Dengan tetap berpikiran Bunda Lely akan datang, saya duduk menghadap jendela yang dapat menembuskan pandangan ke muka tangga lantai ketiga, berharap akan muncul muka Bunda Lely dari bawah tangga itu dan saya dapat melihat kemunculannya. Mungkin karena mereka tidak mengetahui struktur tata letak ruangan di kampus UGM khususnya Fisipol, Putri, adik kelas Bunda Lely, melongok dari bawah tangga dan saya mengetahui kehadirannya, sontak saya langsung berdiri dan melongok ke jendela melihat siapakah yang ada di bawah sana. Benar saja dugaanku, Bunda Lely telah datang memberikan dukungan batin kepada saya dalam menghadapi sidang tesis. Seharusnya saya yang terkejut dalam keadaan itu, tetapi justru mereka, Putri dan Bunda Lely lah yang terkejut karena saya sudah tahu akan kehadiran mereka, ditambah saya bercerita bahwa saya sedang menduga-duga kehadiran Bunda Lely. Setelah sidang tesis saya berakhir, Bunda Lely bercerita bahwa sebenarnya dia masih sulit membagi waktu di sana, sampai hari minggu dia tidak terpikirkan untuk dapat datang ke sidang tesis saya, dan hari senin siang dia bertekat untuk pulang dan melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta, menuju belahan hatinya yang sedang memikirkan kedatangannya.