Beauty Sunrise

Ulat Sumeh Agawe Renaning Wong Akeh.

Rapuhnya tiang saka Kraton

Orang yang SABAR itu memiliki pengetahuan yang luas adalah orang yang tidak akan terombang-ambing oleh keadaan.

Good Morning Flamingo

Lakonana Disik Dadi lan Becike.

Pagar Keraton

Sejatinya itu tidak ada apa-apa, yang ada itu bukan.

Red Sunset

PERCAYA itu ibarat tali yang menghubungkan Tuhan Yang Maha Esa kepada umatnya.

Showing posts with label Social Life. Show all posts
Showing posts with label Social Life. Show all posts

Monday, November 30, 2015

SELFIE DARI AKU UNTUK KALIAN: Antara Eksis, Narsis, dan Eksibisionis

by pandu pramudita

Telah menjadi populer seiring perkembangan teknologi komunikasi yang digabungkan dengan teknologi penangkap gambar yang dikenal dengan kamera, memberikan kemudahan untuk setiap orang mengabadikan momen-momen mereka tanpa harus memiliki kamera eksklusif. Di samping itu, perkembangan kamera digital dengan ukuran yang dapat digenggam dan harga terjangkau juga memberikan peluang untuk banyak orang memiliki sebuah alat pengabadian gambar. Pengabadian gambar kemudian menjadi sebuah hal yang booming dalam jagad teknologi, yang biasa disebut fotografi. Dalam tren photography ini, muncul satu gaya yang menjadi trend di berbagai kalangan, yaitu yang dikenal sebagai selfie. Selfie pada dasarnya adalah sebuah gaya fotografi dengan mengambil potret diri sendiri.

Salah satu hal yang mengitari gaya fotografi yang satu ini adalah bahwa hasil dari selfi jarang kemudian menjadi sebuah karya yang berwujud lembaran kertas yang ditempel di dinding dalam bingkai atau terpasang pada album-album foto. Hasil dari selfie ini kebanyakan langsung diteruskan pada media-media sosial, seperti facebook, whatsapp, blackberry messagger, twitter, instagram, dan lain sebagainya. Artinya bahwa, selfie ini kemudian dipamerkan langsung kepada mereka yang terhubung dengan media sosial dalam jaringan pertemanannya, atau langsung ke dunia maya yang dapat diakses oleh siapapun.

Selfie Eksis

“Aku selfie maka aku ada”, mungkin sebuah kalimat yang bisa menggambarkan tindakan yang mereka lakukan pada saat memotret diri sendiri dan menyebarkannya di media sosial. Arti keberadaan dirinya dia wujudkan pada potret diri yang kemudian disebarkan di media sosial. Biasanya mereka menyebutkan ketika dia ingin ber-selfie dengan “eksis dulu yuk”, “eksis dulu donk”, atau “eksis, tetep”, dan lain sebagainya. Dalam selfie, eksis dapat dipahami sebagai usaha seseorang untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa dirinya sedang melakukan sesuatu, bertemu seseorang atau orang-orang tertentu, ataupun berada di suatu tempat. Dengan kata lain bahwa dia ingin menunjukkan keberadaannya kepada orang lain dan menunjukkan bahwa dirinya itu ada.

Selfie Narsis

Meski tidak jauh kedengarannya dengan narsis, namun kedua hal ini, antara eksis dan narsis, memiliki perbedaan yang tajam. Bahwa narisis adalah upaya untuk menyukai, mencintai, dan membanggakan diri sendiri. Namun, nasis bukanlah egois, karena penekanan egois adalah memikirkan diri sendiri tanpa menghiraukan keberadaan orang lain, dan ini lebih pada perlawanan dari eksis, bukan narsis. Sedang narsis penekanannya pada dia ingin menunjukkan kepada dirinya sendiri bahwa ada sesuatu hal dari bagian dirinya yang dapat dibanggakan atau dia sukai. Jika dilihat pada selfie, bahwa tindakan narsis ini tidak untuk ditujukan kepada orang lain, justru dia ingin menunjukkan kepada dirinya sendiri. Antara eksis dan narsis perbedaanya bahwa, meski hasil selfie keduanya ditunjukkan kepada orang lain, narsis tidak memiliki harapan untuk ditanggapi oleh orang lain, dan dia juga tidak usah memikirkan apa yang akan dipikirkan orang lain, yang terpenting adala dirinya sendiri menyukai apa yang dia miliki. Secara positif, mereka yang memiliki narsistik, dia memiliki kepercayaan diri yang bagus, namun negatifnya adalah jika hal ini sering dilakukan maka justru dia menunjukkan ketersendiriannya.

Selfie Eksibision Salah Satu Artis-Penyanyi
Hal ketiga mengenai selfie adalah eksibisionis, dimana hal ini lebih pada seksualitas. Pada dasarnya eksibision itu adalah bagian dari narsistik, yang memiliki tujuan untuk menunjukkan sesuatu yang ada pada dirinya untuk orang lain demi kepuasan dirinya sendiri. Dikatakan sebagai sebuah seksualitas, karena pada dasarnya eksibisionis adalah suatu tindakan untuk memuaskan seksualitasnya dengan menunjukkan bagian intim tubuhnya kepada banyak orang. Pada dasarnya bagian yang ditunjukkan itu adalah bagian-bagian intim miliknya, seperti payudara, vagina, maupun penis. Namun demikian, dalam mereka menunjukkan bagian-bagian tubuhnya, meski sebagian ditunjukkan secara vulgar, banyak diantara mereka juga menunjukkannya dengan tertutup hanya saja tetap menampakkan bagian yang ditutupinya. Dalam foto-foto selfie eksibisionis, hal yang ditekankan adalah bahwa foto diambil dengan usaha sendiri tanpa ada orang lain yang terdapat di sekitarnya. Hal ini memberikan sebuah pemaknaan bahwa ini adalah sebuah usaha dirinya untuk menunjukkan bagian tubuhnya semata-mata memang ditujukan untuk dilihat oleh banyak orang.

Eksibisionis tidak akan tampak jika di dalam foto terlihat terpisah antara kamera dengan dirinya, karena hal ini memungkinkan ada orang lain di situ untuk mengambil foto mereka. Mengapa jika ada orang lain tidak dikatakan eksibisionis? Karena apa yang dia tunjukkan tidak menggambarkan ditujukan oleh orang banyak, tapi kepada orang yang mengambil gambar dirinya, jika demikian dia pada dasarnya melakukan seksualitas yang normal, hanya saja mungkin sedang penetrasi atau pemanasan seksualitas untuk merangsang hasrat. Selain itu, hanya dengan berfoto selfie terbuka di ruang terbuka tidak cukup diakatan eksibisionis. Dikatakan eksibisionis sepanjang keterbukaan tubuhnya dilihat oleh banyak orang, baik itu dilakukan di depan umum yang terdapat banyak orang, atau langsung dihadapan kamera yang kemudian disebarkan di media sosial.

Dalam eksibisionis, letak seksualitasnya adalah ketika dia bisa menunjukkan bagian tubuhnya kepada orang banyak maka dia akan mendapat kepuasa seksualitas. Namun hal ini bukan disebut narsis, karena dalam seksualitas narsis, yang menekankan kepuasan dirinya dari dirinya, dilakukan dengan masturbasi. Namun demikian, mastrubasi dikatakan narsis sejauh imajinasi yang memunculkan kepuasanya adalah dirinya sendiri bukan imajinasi atas lawan jenis lain dalam bentuk tangannya sendiri. Meski eksibisionis bukanlah narsis, tapi narsis adalah bagian dari awal untuk eksibision. 

Saya sendiri tidak dapat mengatakan bahwa selfie eksibisionis salah untuk dilakukan meski pada dasarnya dapat dikatakan sebagai penyimpangan seksualitas tapi tidak saya anggap sebagai penyimpangan sosial. Bagaimanapun seseorang memiliki hasrat seksualitasnya sendiri-sendiri. Namun demikian, bukan tanpa sebab mereka melakukan eksibisionis. Saya sendiri tidak dapat menilai sepihak, karena dimungkinkan sekali banyak hal yang mengitari mereka untuk terdorong melakukan eksibisionis. Salah satu hal yang mungkin bisa saya terima adalah bahwa dia tidak mampu untuk menyalurkan seksualitasnya atau tidak mendapat kepuasan seksualitas. Selain itu, intimidasi dari orang-orang disekitarnya terhadap tubuhnya yang menimbulkan rasa bangga akan bagian tubuhnya menjadi salah satu motivasi bagi mereka untuk melakukan eksibisionis. 

Pada kesempatan ini, gambar-gambar yang saya tampilkan adalah gambar-gambar selfie dari peremupuan Indonesia, yang tidak lain karena saya sendiri adalah seorang laki-laki yang tidak mampu membuang terlalu banyak kejijikan untuk memandang selfie yang dilakukan oleh para laki-laki lain. Namun, pada dasarnya, banyak juga diantara laki-laki yang melakukan selfie eksis, narsis, sampai eksibisionis. 

Selfie-selfie Eksibisionis Perempuan Indonesia

Friday, November 13, 2015

PETA POLITIK MASYARAKAT PURWOREJO


by pandu pramudita

Setting Sosial

Purworejo adalah sebuah daerah yang berada di wilayah Jawa Tengah bagian selatan. Daerah perbatasan Purworejo terdiri dari tiga kondisi alam, di bagian selatan yang menjadi batas akhir kabupaten, yang sekaligus sebagai batas negara, membentang pesisir selatan pulau Jawa yang berhadapan dengan Samudera Hindia. Di bagian timur membentang ke utara Pegunungan Menoreh adalah batas antara Kabupaten Purworejo dan juga Provinsi Jawa Tengah dengan Yogyakarta, sedang batas di bagian utaranya juga berbatasan dengan Kabupaten Magelang. Pegunungan juga membentang di bagian utara yaitu Pegunungan Serayu, yang berbatasan dengan Kabupaten Wonosobo. Sedang pada bagian barat Purworejo adalah dataran rendah. Dataran rendah ini juga menjadi bagian dari wilayah tengah Kabupaten Purworejo yang kemudian mewujud sebagai keunggulan Purworejo untuk membangun pertanian di daerah ini. Dua pegunungan menjadi sumber air yang mengalir menjadi sungai-sungai besar yang terpecah kecil-kecil, melintasi wilayah tengah dan juga dukungan sumber air dari daerah Wonosobo, yaitu yang berasal dari Waduk Wadaslintang, mengukuhkan pertanian menjadi dunia kehidupan masyarakat Purworejo. Maka tak akan sulit menemukan sawah di kabupaten ini, bahkan di setiap jalannya pasti akan melewati bentangan sawah-sawah. Bahkan di bagian selatan kabupaten ini muncul istilah mbulak kepik, yaitu bentangan sawah yang sangat luas yang memberi jarak yang cukup jauh antara satu desa dengan desa yang lain. Dua pegunungan ini juga mendukung tumbuhnya perkembunan di Kabupaten Purworejo. Dari dua pegunungan ini menumbuhkan dua jenis buah durian yang berbeda, dari bentuk dan rasa. Saya tidak akan berbicara banyak tentang durian ini, cukup pembaca lihat dan merasakannya secara langsung bagaimana perbedaan kedua jenis buah durian itu. Dan khusus di bagian Pegunungan Menoreh, kondisi alamnya cukup mendukung pertumbuhan peternakan kambing khas dari Kabupaten Purworejo, ialah Kambing Etawa, yang terkenal dengan tubuhnya yang gagah dan susunya yang berkhasiat.

Adanya dua pegunungan ini kemudian menjadi arti bagi kehidupan petani di Purworejo, baik di sektor pertanian, perkebunan, dan perternakan. Namun tidak demikian bagi masyarakat yang bergerak di sektor perikanan dan mereka yang berada di pesisir. Meski kondisi alam, khususnya sumber air yang baik, namun tidak dapat menunjang lebih baik untuk perikanan di Purworejo. Perjalanan perikanan Purworejo untuk menjadi sektor yang diunggulkan bagi petani masih cukup jauh, yang justru dikarenakan adanya perbedaan kondisi alam ini, antara dataran tinggi dan dataran rendah. Sedangkan bagi masyarakat di pesisir, karena mereka harus menghadapi gelombang laut pantai selatan yang begitu tinggi, sehingga meski mereka memiliki laut, tapi masyarakat setempat tidak bisa menumpukan hidup mereka di laut. Hanya wilayah tertentu saja yang berani menjadi nelayan karena kondisi pesisirnya yang mendukung, seperti di Jatimalang. Maka hanya disitulah berkembang Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

Kabupaten Purworejo dilintasi jalan protokol, yaitu jalan yang menghubungkan antar daerah dan provinsi yang terletak di sisi selatan. Semua jalan protokol berada di sisi selatan Purworejo. Terdapat dua jalan protokol, yaitu yang melintasi kota yang menjadi jalan utama menghubungkan antara Kebumen-Magelang dan Kebumen-Yogyakarta, sedang jalan kedua melintasi daerah pesisir yang dikenal sebagai jalan Daendels yang menghubungkan langsung antara Yogyakarta dan Kebumen. Namun, akses jalan protokol di pesisir itu belum dapat mendukung laju perekonomian di daerah sekitarnya. Berbeda dengan yang berada di tengah, dimana sudah banyak berkembang pusat-pusat perekonomian, khususnya di Kutoarjo dan Purworejo. Perkembangan perekonomian di Kutoarjo selain didukung oleh jalan protokol yang menjadi akses utama mobilisasi darat juga berdiri sebuah stasiun kereta api. Sedangkan di Purworejo, meski tidak dilintasi jalan protokol – dalam hal ini jalan protokolo kemudian dialihkan melalui jalur lingkar, dimana yang ke Magelang melalui lingkar utara dan yang ke Yogyakarta melalui lingkar selatan –merupakan ibu kota kabupaten yang menjadi magnet bagi pengusaha sebagai pasar.

Namun demikian, tidak semua wilayah yang dilalui oleh akses besar ini dapat berkembang dengan baik, seperti halnya Banyuurip dimana di sana terdapat pusat trasnportasi umum, yaitu Terminal Purworejo. Perkembangan kendaraan pribadi, kemajuan pelayanan kereta api, dan perkembangan bisnis bus malam, memberikan dampak yang cukup besar bagi keberlangsungan terminal yang mulai ditinggalkan ini. Pada akhirnya, angkutan umum lebih banyak menunggu penumpang di pasar-pasar, baik mini bus maupun kopada. Berkaitan dengan perkembangan kota yang berpusat di dua kota, yaitu Kutoarjo dan Purworejo, sehingga penumpukan angkutan-angkutan umum tersebut juga akan terlihat di pasar-pasar kedua kota itu, Kutoarjo dengan Pasar Kutoarjo sedang Purworejo dengan Pasar Baledono. Adapun angkutan umum, khususnya angkudes atau yang di Purworejo dikenal sebagai kopada, yang menumpuk di kedua pasar itu, juga terbagi ke dalam dua wilayah. Pasar Baledono memberikan pusat akses angkutan umum untuk wilayah timur antara lain: Bener, Gebang, Loano, Kaligesing, Banyuurip, Bagelen, Purwodadi, Ngombol, Kemiri, dan Kutoarjo, sedang Pasar Kutoarjo memberikan pusat akses angkutan umum untuk wilayah barat antara lain: Bruno, Kemiri, Pituruh, Butuh, Grabag, Bayan, dan Purworejo.

Kabupaten Purworejo terbagi kedalam 16 kecamatan, yaitu Purworejo, Kutoarjo, Bener, Gebang, Loano, Kaligesing, Banyuurip, Bagelen, Purwodadi, Ngombol, Kemiri, Bruno, Pituruh, Butuh, Grabag, dan Bayan. Daerah-daerah yang berada di pegunungan yang digambarkan sebelumnya antara lain di wilayah kecamatan Bruno, Pituruh (bagian pertengahan ke utara), Kemiri (bagian pertengan ke utara), Gebang (bagian pertengan ke utara), Bener, Loano, Purworejo (sebagian kecil di sisi timur), Kaligesing, dan Bagelen. Wilayah pesisir hanya dimiliki oleh tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Grabag, Ngombol, dan Purwodadi. Sedangkan lainnya, yaitu Kecamatan Kutoarjo, Pituruh (bagian pertengahan ke selatan), Butuh, Kemiri (bagian pertengahan ke selatan), Gebang (sebagian kecil di sisi selatan), Bayan, Banyuurip, Purworejo, dan ketiga kecamatan yang memiliki pantai adalah dataran rendah. Dengan kondisi ini maka dapat dipahami mengapa pusat perekonomian Kabupaten Purworejo berada di bagian selatan, khususnya di Kutoarjo dan Purworejo yang berada di tengah antara daerah pegunungan dan pesisir, karena di wilayah ini terbentang dataran rendah yang dengan mudah untuk dibangun akses perekonomian berupa jalan protokol dan rel kereta api.

Sebagai pusat pemerintahan, Purworejo dirasa wilayah yang paling strategi untuk kabupaten ini, dimana kota ini dapat dengan mudah mengakses daerah sekitar, yaitu untuk ke Magelang, Kebumen, Wonosobo, dan DI. Yogyakarta. Wujud dari pusat pemerintahan ini adalah dengan berdirinya rumah dinas dan kantor bupati, dan gedung DPRD. Sedangkan sebagai kota berkembang kedua, yaitu Kutoarjo berdiri juga pusat pemerintahan, yaitu rumah dinas wakil bupati. Selain akses mobilisasi, memang pemilihan pusat-pusat pemerintahan ini sangat tepat juga sebagai kontrol perekonomian yang berkembang di kedua daerah itu. Namun demikian, apakah memang itu adalah pertimbangan utama pada saat mendirikan pusat pemerintahan atau tidak, saya tidak tahu, karena pendirian pusat pemerintahan di Purworejo adalah dikukuhkan oleh bupati pertamanya, ialah Raden Adipati Aryo Cakranegara I.  Sedangkan RAA. Cakranegara I, yang bernama sebelumnya yaitu Raden Ngabei Reso Diwiryo, diberi kekuasaan bupati sebagai hadiah dari pemerintahan Hindia Belanda karena berhasil mendesak perlawanan Pangeran Diponegoro sehingga P. Diponegoro harus menerima perjanjian dengan Belanda di Magelang yang berujung penangkapannya. Namun, adanya campur tangan pemerintahan Hindia Belanda nampaknya dapat membuka pandangan akses perekonomian, dimana pada waktu itu pemerintahan Hindia Belanda juga memiliki akses ekonomi ke Yogyakarta, Magelang, dan Banyumas, sehingga daerah Brengkelan, yang kini menjadi nama Purworejo, adalah tepat sebagai daerah strategis pusat pemerintahan.

Berbicara mengenai perlawanan Pangeran Diponegoro yang dikenal sebagai Perang Jawa memberikan keunikan tersendiri. Jika kita berbicara mengenai orang Jawa, apriori kita akan menggambarkan sebuah sosok yang akan mengenakan blangkon dikepala, sorjan, jarit, dan slempang dipinggang yang menggantungkan sebuah keris menyilang di belakang. Tapi gambaran ini nampak sulit digambarkan dalam Perang Jawa, dimana justru panglima-panglima perang Pangeran Diponegoro, termasuk dia, mengenakan sorban sebagai ikat kepala, jubah putih, hanya saja bersenjata keris yang terselip di pinggang, salah satunya adalah Sentot, panglima kavaleri dari Pangeran Diponegoro. Dalam hal ini kemudian dapat dipahami dua isu yang Diponegoro usung untuk mendapat dukungan dari rakyat, yaitu isu Jawa, dengan nama perang dan keris sebagai pusaka, dan Islam, dengan material lain dan tata cara spiritual yang ia lalukan. Di masa-masa akhir Diponegoro, sebelum ditangkap di Magelang, ia melakukan perlawanannya dengan basis wilayah di tanah Bagelen. Pergerakan Diponegoro di tanah Bagelen tidak dapat lepas dari situasi alam di wilayah ini, khususunya pada daerah pegunungannya dan tidak lepas juga dari dukungan seorang imam dari tanah ini, ialah Kyai Imam Puro. Kyai Imam Puro adalah seorang ulama yang menyebarkan ajaran agama Islam di tanah Bagelen. Dalam hal ini, kemudian akan terasa berapa lama sudah penyebaran agama Islam di Purworjo hingga sekarang. Makam Kyai Imam Puro sendiri berada di Geger Menjangan, daerah pegunungan di wilayah Purworejo.

Perkembangan kesenian di Purworejo telah mencapai titik hak milik, khususnya kesenian Dolalak, atau juga yang dikenal sebagai angguk. Namun demikian, tidak hanya kesenian dolalak yang ditampilkan di wilayah Purworejo, terdapat kesenian-kesenian lainnya seperti jaran kepang (Kuda Lumping), wayang kulit, terbangan, dan masih banyak lagi lainnya. Apa yang saya maksud kesenian disini adalah bahwa tidak hanya sebuah seni pertunjukkan, tetapi secara dalam bahwa kesenian adalah pengetahuan yang disampaikan secara unik melalui gerak, musik, dan lagu, dan disampaikan secar tradisi atau turun-temurun dengan ketentuan adat atau pakem-pakem-nya. Sedang apa yang terpancar pertama kali dari kesenian-kesenian yang berkembang di Purworejo memberikan ciri khas Jawa. Namun jika diperhatikan lebih dalam lagi, bahwa nuansa Islam diantara musik dan lagu akan kentara. Seperti kesenian yang diunggulkan oleh masyarakat Purworejo, ialah dolalak, dimana misi pertama pertunjukkan kesenian ini adalah untuk menghibur masyarakat yang sedang bergotong-royong mengantarkan bedug (alat yang dapat mengeluarkan suara jika dipukul, terbuat dari kayu gelondong, berbentuk tabung, yaitu berlubang ditengahnya, dimana disetiap ujung-ujungnya ditutup dengan kulit hewan, khususnya dari kerbau, sebagai tempat untuk dipukul) dari desa Pendawa ke Purworejo, sehingga bedug ini juga dikenal dengan nama Bedug Pendawa. Bedug Pendawa dikenal sebagai bedug terbesar di dunia karena terbuat dari kayu jati utuh dengan lingkar yang cukup besar, yang tidak cukup untuk dipeluk dengan dua orang. Dengan kata lain, bahwa kesenian dolalak ini membawa misi Islam, mengantarkan alat pematok waktu solat lima waktu untuk masyarakat Purworejo dan sekitarnya, yang konon dahulu jika bedug ini di tabuh dapat terdengar di wilayah yang cukup jauh.

Namun demikian, kesenian dolalak hari ini juga sulit untuk dipahami sebagai kesenian yang membawa misi Islam karena memang gerak dan lagunya masih samar-samar untuk menunjukkan pengetahuan Islam-nya. Begitu juga dengan jaran kepang, gerak dan materialitasnya tidak memberikan nuansa Islam, namun dalam pembagian waktu tampil tidak akan lepas dari waktu sholat, khususnya sholat dzuhur yang menjadi waktu jeda antara penampilan pembukaan dan penutupannya. Selain itu juga, dibeberapa bagian lirik kita bisa memperhatikan mengenai peringatan waktu sholat. Meski demikian, kedua kesenian ini, dolalak dan kuda lumping lebih terlihat dengan pementasan seni kesurupannya dari pada pesan yang disampaikan. Hal ini agak mirip dengan keadaan pementasan wayang kulit, dimana wayang kulit yang kita kenal sampai hari ini adalah gubahan dari Sunan Kalijaga, salah satu Walisongo penyebar agama Islam di Jawa. Sayangnya, kesenian-kesenian ini adalah kesenian Islam yang sangat sulit dipahami melebih pentas penikmatan mata.

Berbeda halnya dengan kesenian-kesenian perkusi yang berkembang di daerah-daerah Purworejo, yang berwujud rebana, kendang, dan jidur. Meski terkadang mucul alat musik lainnya, tetapi alat-alat itu adalah alat pokok, dan ada juga yang tanpa menggunakan kendang. Berbagai nama juga muncul untuk memberikan identitas kesenian yang mereka bawakan, seperti jidur, terbangan, janjakan, qosidahan, dan lain sebagainya. Apapun itu namanya, kemudian kesenian perkusi ini terbagi menjadi dua aliran, yaitu yang terdiri dari rebana dan jidur dan yang dengan menggunakan kendang. Perbedaan yang mencolok juga terletak  ketika mereka menampilkan kesenian itu, dimana pakaian yang memiliki nilai Islam, pria menggunakan kopiah, berkoko, dan bersarung, sedang jika itu adalah wanita biasanya menggunakan jilbab dan menggunakan pakaian gamis. Sedangkan kesenian perkusi yang menggunakan kedang, biasanya terdapat idenitas Jawa yang masih melekat, seperti menggunakan blangkon, bersorjan, sedang bawahannya menggunakan sarung. Kedua kesenian ini tidak hanya menyajikan musik saja, tetapi juga diiringi dengan lagu atau nyanyian, yang keduanya akan memberikan nuansa Islam dalam lagu-lagunya yang diselingi juga dengan pengetahuan-pengetahuan setempat. Bagaimana pun bentuk kesenian itu, lirik-lirik yang disusun, bahwa kesenian ini pada dasarnya dibentuk dan dilestarikan oleh intelektual tradisional khususnya intelektual Islam setempat.

Kabupaten Purworejo dihuni oleh dua etnis, yaitu Jawa dan Cina/Tionghoa. Meski tidak menutup kemungkinan bahwa terdapat warganya yang di luar etnis itu, seperti sunda, melayu, arab, atau yang lain sebagainya. Namun demikian, bahwa etnis yang disebutkan tersebut adalah etnis yang telah bernegosiasi dengan masyaraka Purworejo akan identitasnya melalui pementasan budaya di publik. Selain kesenian-kesenian yang telah disebutkan sebelumnya, dimana telah menunjukkan idenitas Jawa. Idenitas Jawa ini kemudian dikukuhkan kembali dengan mempertunjukkan budaya Bagelen dalam arak-arak pasukan Mataraman di jalan protokol ibu kota, bahwa diketahui Mataram adalah kerajaan Jawa yang sampai saat ini masih dikukuhkan keberadaannya. Sedang etnis Cina atau juga dikenal sebagai etnis Tionghoa, meski saya tidak tahu bagaimana cara membedakan keduanya, telah memiliki kebebasannya sejak tahun 2005, dimana hal ini diwujudkan di waktu tertentu, seperti Tahun Baru Imlek, yang menampilkan seni Barongsai di jalan-jalan teretentu. Meskipun tidak sebesar atau sekerap kesenian Jawa, kesenian dari etnis Cina ini kemudian berani muncul di publik. Artinya bahwa, selain masyarakat Jawa di Purworejo, bahwa Cina juga telah diperhitungkan dalam kehidupan masyarakat di Purworejo.

Mereka yang Terlupakan dalam Arena Politik Purworejo

Dari pemaparan di atas, pada dasarnya sudah jelas bagaimana kondisi persebaran kekuatan politik di dalam masyarakat Purworejo. Namun, dalam hal ini saya akan mempertajam sasaran apa yang saya maksud. Bahwa sangat penting memetakan kekuatan politik di Purworejo untuk menentukan arah pembangunan dan perekonomian daerah ini. Dalam hal ini, politik janganlah dibuat dangkal dengan mengikut sertakan pengertian politik dari partai-partai saat ini. Karena hal ini mudah dilihat dan dirasakan, bahwa setiap pemilu akan tiba, justru kampanye-kampanyelah yang disebarluaskan, bukan propaganda politik. Menjadi dua hal yang berbeda antara kampanye dan propaganda, dimana kampanye adalah sebuah usaha mengenalkan diri untuk mendapatkan dukungan suara politik, sedangkan propaganda adalah menyebarluaskan atau menerangkan sebuah ideologi yang berbasis dari pengetahuan daerah untuk dikembangkan sebagai kekuatan politik. Meski keduanya adalah sama-sama untuk mencapai kekuasaan politik dengan meraih dukungan suara politik, namun propaganda justru berusaha mencerdaskan masyarakat dengan turut menanggapi isu-isu yang mereka hadapi, baik sedang maupun yang akan dihadapi. Dan propaganda tidak dapat dilaksanakan jika mereka yang akan melakukan pengumpulan suara politik tidak mengetahui isu-isu yang berkembang di masyarakat yang ada di wilayah gerakan politiknya.

Pada dasarnya, partai politik sebelum pemilu tahun 1966, menjadi populer di kalangan mereka untuk membuat divisi propaganda, dimana orang-orang di dalamnya akan membuat sebuah pengumpulan pengetahuan dari daerah yang akan menjadi basis pergerakannya dan akan menyelaraskan dengan ideologi yang mereka usung, dan kemudian hal itulah yang akan mereka sebarkan pada masyarakat sasaran. Namun bagaimana dengan sekarang? Untuk memotong kompas, kampanye adalah menjadi cukup sebagai kegiatan peraihan suara politik, selebihnya diserahkan pada orang-orang parpolnya yang memiliki kekuasaan di daerah-daerah untuk menggali dukungan lebih dalam. Bagaimana caranya, saya tidak tahu, yang jelas mereka berbasis pada kekuasaan di daerahnya, baik berupa kekuasaan ekonomi, kesenian, atau lain sebagainya. Hal ini telah melompati berbagai kelompok sosial yang ada di masyarakat, terutama di Purworejo dalam kekuasaan politik.

Setidaknya terdapat 3 kategori pengelompokan kekuatan politik di Kabupaten Purworejo, yaitu kaum Purworejo, wong Purworejo, dan etnis Purworejo. Purworejo memiliki tiga kaum, yaitu kaum petani, kaum pedagang, dan kaum santri, tiga jenis wong Purworejo yaitu wong pasar, wong pereng, dan wong kidul, dan dua etnis yaitu Jawa dan Cina.

Kaum Petani, Pedagang, dan Santri

Saya menggunakan kata kaum disini karena bahwa istilah kaum lebih dekat dengan kelompok yang menyatukan diri mereka dalam ikatan kekerabatan. Begitu juga pada kaum petani dan kaum pedagang. Perlu diketahui bahwa petani adalah sebuah pekerjaan yang tidak membuka lowongan pekerjaan kepada masyarakat untuk membuka lahan dan bercocok tanam. Kebanyakan dan sangat mudah dipastikan bahwa pekerjaan petani berasal dari turun-temurun para orang tua dan sesepuh mereka. Disamping mereka punya atau tidak punya lahan garapan, bahwa kecakapan dan pengetahuan mengenai petani tidak dapat diperoleh hanya dengan belajar di lembaga-lembaga pendidikan, baik sekolah menengah atas maupun perguruan tinggi. Mereka harus secara turun-temurun mengerti pengetahuan petani dari tradisi-tradisi yang diikutinya. Sedangkan mereka yang belajar di sekolah menengah sampai perguruan tinggi hanya menciptakan elite-elitenya saja, sebagai penyuluh dan lain sebagainya yang tidak menyentuh langsung kehidupan petani.

Pembentukan kekerabatan ini kemudian memunculkan kekuatan politik di dalam masyarakat petani, dimana dasar dari kekuatan itu adalah rasa kekeluargaan antar sesama petani. Hal ini mewujud dalam tradisi-tradisi petani yang selalu melibatkan semua anggota petani untuk dapat memahami dan melaksanakan dengan tertib, seperti kapan mereka harus menanam dan memanen, dan siapa yang terlebih dahulu melaksanakan itu, karena hal ini akan memberikan jalan keluar untuk mengatasi masalah hama saat panen tiba. Hal ini terjadi pada petani padi. Namun tidak berbeda dengan petani-petani lainnya, dengan tradisi-tradisi yang mereka bangun berdasarkan pengetahuan dan kebutuhan mereka masing-masing tentunya.

Tidak jauh berbeda juga dengan kaum pedagang. Meskipun pekerjaan pedagang lebih terbuka dari pada petani, namun bakat dalam pengetahuan dagang juga lebih banyak di dapatkan dari turun-temurun. Dikatakan lebih terbuka karena pengetahuan mengenai perdagangan dapat diakses oleh banyak orang, baik yang dari keturunan kaum pedagang maupun yang tidak, dan pengetahuan itu dapat dilakukan secara mandiri dengan memiliki modal, tentu saja. Namun demikian, kekuatan politik dari pedagang juga sangat diperhitungkan dalam masyarakat, karena merekalah yang memutar roda perekonomian daerah. Dalam hal ini masih belum dibedakan antara pedagang modern dan tradisional. Hanya saja, meski pedagang modern memiliki akses untuk memutarkan perekonomian lebih cepat namun kekuatan politik kaum pedagang modern masih jauh dari kekuatan politik kaum pedagang tradisional. Pedagang tradisional memiliki ikatan kekeluargaan yang lebih kental antar sesama pedagang dan yang kemudian menciptakan kekuatan politik di dalamnya. Hal ini terasa misal ketika seorang pedagang lombok diminta menyediakan lombok 2kg dan ternyata stoknya hanya sekitar 1,5 kg kurang, maka dia akan mencari pedagang lainnya untuk meminjam lombok 1kg untuk memenuhi pesanan pelanggannya sedang dia akan mengembalikan lombok itu kepada pemiliknya dengan bentuk uang hasil penjualannya. Relasi ini kemudian berubah menjadi saling dukung antar pedagang, baik yang memiliki kesamaan barang yang di jual maupun yang berbeda.

Kaum ketiga adalah kaum santri, yaitu mereka yang memiliki basis pengetahuan agama Islam. Persebaran ajaran agama Islan di Purworejo ini mungkin ada hubungannya dengan jasa kyai Imam Puro, namun tidak menutup kemungkinan ulama-ulama lain yang datang ke Purworejo. Di Purworejo sendiri juga banyak berdiri pondok-pondok pesantren. Namun demikian, kaum santri yang saya maksud bukanlah mereka yang tinggal di pondok pesantren, melainkan mereka yang mengukuhkan ajaran agama Islam di daerah-daerah. Seperti yang saya ungkap mengenai kesenian di Purworejo, bahwa banyak intelektual santri mengembangkan kesenian dalam bentuk musik dan lagu yang dapat dimainakan dengan mudah oleh masyarakat. Penciptaan kesenian dan melestarikannya adalah salah satu wujud keseriusan kaum santri dalam menyebarkan dan mengukuhkan ajaran Islam di daerah-daerah. Selain itu, basis kaum ini tidak hanya kembali ke pondok pesantren, juga diperhitungkan di setiap daerah hingga desa yang memiliki masjid yang menjadi pusat beribadah di wilayahnya, seperti terlihat pad amasjid-masjid yang mengadakan ibadah sholat Jumat dan sholat Id, pasti memiliki pengurus takmir. Di situlah kaum santri di daerah-daerah memperkuat basis mereka. Kekuatan santri ini juga sangat diperhitungkan dalam politik, karena kaum santri memiliki hegemoni di dalam masyarakat melalui penyebarluasan ajaran agamanya. Hegemoni yang dimiliki kaum santri ini dikatakan cukup besar karena mereka dipandang sebagai salah satu tokoh masyarakat yang dapat memecahkan permasalahan yang terdapat di daerah cangkupan wilayahnya. Selain itu, kaum santri yang kemudian dianggap sebagai pemuka agama yang kedudukannya setara dengan pemegang adat setempat diberi sebuah porsi tingkatan sosial atas di masyarakatnya.

Hubungan kekerabatan memiliki kekuatan politik yang cukup besar di Negara Indonesia secara umum, dan Purworejo secara khusus. Hal ini banyak bekerja pada saat pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan baik bersama, kelompok, maupun individu. Dasar dari pengambilan keputusan ini juga sangat terbuka dengan melalui musyawarah, terlebih jika didasari atas kekeluargaan. Namun kekeluargaan ini bukan diartikan dalam nepotisme, yang hanya memberikan pengaruh secara sepihak, tetapi lebih pada hegemoni dari pengetahuan yang disusun secara bersama. Yang menjadi pertimbangan kekuatan lainnya adalah, bahwa keadaan alam yang mendukung pertanian di Purworejo memberikan cangkupan kaum petani yang tersebar luas di berabagai daerah di Purworejo. Kaum pedagang Purworejo adalah mereka yang memiliki akses paling dekat dengan akses mobilitas di Purworejo, yaitu jalan protokol dan pusat transportasi. Meski kedua hal itu adalah yang mempengaruhi laju perekonomian untuk kaum pedagang, sudah dipastikan bahwa di masing-masing daerah di Purworejo memiliki pusat perekonomiannya masing-masing. Sedangkan kaum santri, adalah kaum yang secara eksklusif dapat masuk ke dalam kekuatan politik karena posisi mereka yang mencapai posisi hegemoni yang tinggi di masyarakat.

Wong Pasar, Wong Pereng, dan Wong Kidul

Berbeda dengan kekuatan politik yang dimiliki oleh kelompok kaum, dalam kolompok Wong di Purworejo, pergerakan mereka terbagi berdasarkan kewilayahan di dalam kehidupan sehari-hari. Juga berbeda dengan kelompok kaum yang memiliki identitas yang jelas. Bukan berarti kelompok wong tidak memiliki identitas yang jelas, tetapi mereka samar dalam mendeklarasikan diri sebagai kelompoknya. Setidaknya terdapat tiga kelompok wong, yaitu wong pasar, wong pereng, dan wong kidul.

Seperti namanya, wong pasar adalah kelompok masyarakat yang dalam kesehariannya berada di wilayah pasar, khususnya pasar tradisional. Wong pasar sendiri terdiri dari pedagang, tukang parkir, tukang becak, supir angkot, dan kuli angkut. Meski pedagang sendiri memiliki beberapa klasifikasi, seperti pedagang tetap yang berjualan di kios atau kapling, pedagang emperan, dan pedagang asonga, namun klasifikasi tersebut tidak banyak artinya dalam kekuatan politik bersama mereka, dimana mereka saling mendukung dan melengkapi saat roda perekonomian sedang berjalan di pasar itu. Memang pedagang adalah unsur pokok keberadaan pasar, tetapi tukang parkir sampai kuli angkut adalah unsur-unsur pedukung dalam keberlangsungan peningkatan laju perekonomian di pasar tersebut. Seperti halnya keberadaan pasar di Kutoarjo dan Purworejo, dimana antrian parkir angkutan umum dari berbagai daerah tujuan menandakan bahwa pasar tersebut adalah pasar yang memiliki tingkat perkembangan ekonomi yang baik. Kekuatan politik wong pasar ini terletak pada negosiasi keberlangsungan ekonomi daerah tentu saja. Bahwa pasar adalah tempat dimana laju barang di daerah setempat berlangsung dan itu yang memberikan kesejahteraan ekonomi di daerah tersebut. Dan apabila salah satu unsur itu hilang, kekacauan mungkin akan terjadi di dalam sitem perekonomian, terutama di pasar, yang akan berdampak pada perputaran ekonomi di daerah tersebut.

Wong Pasar ini memiliki basis kewilayahan dan pengetahuan yang jelas ketika mereka bergerak, berbeda dengan dua wong lainya, yaitu wong pereng dan wong kidul. Wong pereng dan wong kidul memang memiliki kewilayahan yang jelas, tetapi pengetahuan mereka tidak banyak memiliki kejelasan. Wong pereng yang dimaksud ialah masyarakat yang bertempat tinggal di bantaran atau di sekitar sungai meski tidak setiap bantaran sungai yang didiami oleh masyarakat menjadi wilayah wong pereng. Sedang wong kidul adalah mereka yang tinggal di selatan jauh dari rel kereta api dan mendekati pesisir. Meski juga saya tekankan tidak tiap masyarakat yang tinggal diantara selatan rel kereta api dan utara pesisir adalah wong kidul, tetapi basis wong kidul berada di antara kedua tempat itu. Saya katakan sebelumnya bahwa wong pereng dan wong kidul tidaklah memiliki pengetahuan yang jelas, karena apa yang mereka tonjolkan dalam hal ini bukan pengetahuan yang membentuk sebuah budaya, tapi tradisi dari unjuk kekuatan fisik. Dalam hal ini saya tidak sedang menjustifikasi bahwa wong pereng dan wong kidul adalah kelompok preman yang menggunakan kekuatan fisik meraih keuntungan untuk kehidupan mereka, tetapi bahwa mereka memiliki kekuatan politik dengan negosiasi kekuatan fisik. Hal ini terjadi apabila kelompok atau masyarakat mereka mengalami kerugian politik yang merambah pada perekonomian dan bidang-bidang lainnya, sehingga negosiasi politik mereka dengan menawarkan kekuatan fisik.

Jawa dan Cina

Kelompok ketiga yang berkembang di Purworejo adalah etnis Purworejo. Terdapat dua etnis yang hidup secara budaya di Purworejo. Tidak menutup kemungkinan bahwa di Purworejo juga hidup orang-orang dari luar etnis yang disebutkann itu. Namun demikian, hanya Jawa dan Cina-lah yang berani menegosiasikan budaya mereka di ruang publik Purworejo, sedang etnis lain tidak melakukan hal demikian. Bahwa secara sejarah, Purworejo yang semula dikenal sebagai tanah Bagelen adalah sebuah bagian dari rentetan sejarah kerajaan Mataram yang dikenal saat ini sebagai pusat peradaban Jawa. Sehingga tidak mengherankan jika Purworejo mengukuhkan sebagian besar etnisnya adalah dari Jawa. Kesenian-kesenian yang berkembang di daerah, yang tampil secara tunggal juga memberikan identitas yang kental dengan tradisi Jawa. Persebaran etnis Jawa ini mencakup seluruh wilayah di Kabupaten Purworejo. Etnis kedua yang hidup di Kabupaten Purworejo adalah etnis Cina. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa kini etnis Cina berani melakukan negosiasi idenitasnya di ruang publik. Salah satunya ketika merayakan imlek, dimana beberapa kali mereka menampilkan pertunjukan seni Barongsai di jalan-jalan kota.

Lalu, bagaimana persebaran kekuatan politik pada etnis-etnis tersebut? Adanya dua kekuatan politik dalam satu daerah, maka hal ini mengakibatkan dinamika yang lebih keras dari pada hanya satu etnis atau beberapa etnis. Dinamika yang keras ini berwujud pada tarik-menarik hingga perebutan kekuatan politik. Etnis Jawa dengan basis masyarakat dan pertaniannya sedang Cina dengan dominasi ekomoni yaitu memiliki penguasaan pusat-pusat perekonomia, seperti banyak deretan-deretan toko di kota dikuasai oleh Cina sebagai pemilik dari toko-toko tersebut. Maka tidak sulit menemukan pemukiman tempat tinggal etnis Cina diantara etnis Jawa, yaitu di pusat-pusat perekonomian kota, demikian juga etnis Cina yang berada di daerah. Namu demikian, etnis Jawa yang memiliki basis masyarakat dan persebaran yang lebih luas, dan memiliki berbagai golongan di antaranya, maka etnis Jawa memiliki kekuatan yang berimbang dengan etnis Cina. Sehingga, tarik-menarik kekuasaan politik dan usaha perebutannya tidak jarang menimbulkan sentimen etnisitas.

Sentimen ini kemudian muncul dalam dua istilah yang mencerminkan masing-masing, bahwa karena dominasi ekonomi, etnis Cina atau mereka yang memiliki perilaku seperti etnis Cina akan disebut dengan cino atau singkek, namun ada juga yang sebutan lebih halus, yaitu tacik (untuk perempuan tuan) dan koh (untuk laki-laki tua). Pada etnis Jawa sering muncul dengan sebutan wong kere (orang miskin atau orang yang memiliki daya beli rendah) atau wong ndeso (orang desa atau orang yang dianggap tidak tahu apa-apa), sedang sebutan yang sering didengar lebih halus adalah cah ayu (anak cantik atau wanita yang memiliki tabiat baik) atau cah bagus (anak ganteng atau laki-laki yang memiliki tabiat baik). Dalam sentimen ini, timbul dua pengertian, bahwa Cina adalah mereka yang memiliki ekonomi kelas menenga ke atas dan dianggap lebih tua sedang Jawa adalah mereka yang memiliki ekonomi kelas menengan ke bawah dan dianggap lebih muda.

Penutup

Kekuatan politik di Kabupaten Purworejo tersebar ke dalam kelompok-kelompok sosial, yaitu pada kaum Purworejo, wong Purworejo, dan etnis Purworejo. Namun demikian, terdapat juga golongan-golongan yang sulit untuk mencari akses politik yang pasti, yaitu mereka yang terdapat pada golongan karyawan, pegawai, buruh, dan pelajar. Karyawan adalah mereka yang bekerja baik secara tetap maupun sementara pada pemiliki usaha perekonomian dengan tingkat kesejahteraan menengah ke bawah, seperti karyawan kantoran, montir bengkel, pramuniaga (penjaga atau pelayan toko). Karayawan ini dekat juga dengan mereka yang tergolong buruh, namun buruh disini saya bedakan menjadi dua, yang pertama adalah mereka yang bekerja di industri khususnya di pabrik yang masih berdiri beberapa di Purworejo, dan pekerja serabutan yang tidak pasti seperti buruh bangunan, buruh cuci pakaian, dan pekerja rumah tangga. Buruh yang pertama, yaitu buruh pabrik, tidak cukup memiliki kekuatan politik karena sedikitnya industri besar yang berdiri di Purworejo memberikan persaingan di antara mereka untuk mendapatkan posisi kerja di dalam pabrik untuk kehidupan mereka. Sedang buruh yang keuda, yaitu buruh serabutan, karena ketidaktetapan mereka dalam bekerja, yang mengikuti arus perputaran ekonomi atas, tidak pada saat perekonomian berbutar di bawah, maka kekuatan mereka sangat lemah untuk negosiasi politik.

Pegawai dan pelajar sering digemborkan sebagai kaum intelektual di masyarakat. Namun, saya harus memberikan porsi mereka pada kekuatan politik yang samar. Pada golongan pegawai, baik struktural maupun fungsional, mereka memiliki kekuatan sendiri untuk menentukan politik mereka. Karena memiliki kekuatan memilih, maka kekuatan politik mereka tidak dapat mengalami penyatuan. Dalam hal ini saya tidak mencoba mengenang masa orba, tetapi pada kesatuan mereka yang tergabung dalam Korpri tidak memberikan banyak peluang untuk menyatukan kekuatan politik dalam negosiasi ke pemerintahan untuk pembangunan daerah dan kesejahteraan. Hanya mereka yang telah tergabung pada afiliasi gerakan politik tertentulah yang dapat bernegosiasi akan dirinya sendiri dan kelompoknya, selebihnya hanya akan mengikuti gelombang era pemerintahan.


Tidak jauh berbeda dengan kaum pelajar, dimana kekuatan politik mereka juga harus dikatakan samar. Secara hukum penduduk dapat memiliki akses politik jika mereka memiliki KTP sebagai bukti kewarganegaraan, sehingga ini diperkirakaan basis pelajar yang memiliki kekuatan politik berada pada kelas atas di sekolah menengah atas atau kejuruan sampai pada perguruan tinggi. Di Kabupaten Purworejo, terdapat puluhan sekolah menengah atas dan kejuruan, namun sedikit memiliki perguruan tinggi, yaitu hanya terdapat 6 perguruan tinggi dan semuanya tergolong swasta. Tidak seperti pegawai, kesamaran golongan terpelajar ini karena mereka tidak memiliki negosiasi dalam politik, karena sederhana, mereka tidak memiliki dinamika diskusi yang membentuk ideologi yang jelas untuk bernegosiasi dalam politik. Sehingga, kekuatan politik di kalangan pelajar Purworejo belum dapat menjadi salah satu peta politik di Purworejo.

Saturday, October 17, 2015

ETNIS PURWOREJO: Dalam Peta Politik untuk Pilkada Purworejo


by pandu pramudita

Hari senin di minggu kedua bulan kesepuluh 2015, siang hari, saya memperoleh pesan singkat elektronik dimana esok saya diminta untuk hadir dalam acara “dialog interaktif” yang diadakan salah satu kelompok pemerintahan dengan mewakili atas nama DHC’45 (Dewan Harian Cabang ’45), sebuah bagian yang masih berada dalam lingkungan ke-pramuka-an. Kegiatan ini dibawahi oleh Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Purworejo, dimana “dialog interaktif” ini dibentuk oleh sebuah kelompok di dalam dinas itu, yaitu FPBI (Forum Persaudaraan Bangsa Indonesia) dimana tema yang mereka usung adalah “Harmonisasi Kehidupan Antar Etnis Memperkuat Negara Kesatuan Republik Indonesia Menghadapi Pilkada Kabupaten Purworejo Tahun 2015”. Dalam kegiatan ini diisi oleh narasumber yang berasal dari FPBI, Kodim, dan Staf Ahli Bupati bagian Hukum dan Politik. Di awal saya membaca tema ini saya telah memiliki pertanyaan yang cukup mendasar dari apa yang akan dibicarakan di dalam “dialog interaktif” ini. Saya selalu memberikan tanda kutip dalam istilah “dialog interaktif” karena pada dasarnya itu seperti seminar, dan tidak ada percakapan yang interaktif di dalamnya, yang ada hanyalah tanya jawab antara peserta dan pemateri. Apa yang saya tangkap dalam tema itu kira-kira akan memberikan materi bahwa: keharmonisan kehidupan etnis yang ada di negara Indonesia akan membawa pengaruh pada keberhasilan Pilkada Purworejo 2015. Hal ini harus dipertanyakan lebih jauh, apakah kejadian-kejadian yang ada di wilayah Indonesia, khususnya kejadian dalam lingkup konflik yang berkenaan dengan isu SARA, memberikan pemicu pada kehidupan SARA di Purworejo sendiri? Kejadian disharmonisasi yang berkenaan dengan SARA di Purworejo mungkin pernah terjadi, dan terdapat beberapa, namun apakah itu adalah bawaan dari “luar sana”? Misalkan pernah terjadi perusakan sebuah toko kelontong di wilayah Kota Purworejo oleh sekolompok santri setempat karena seorang pelayan toko tersebut menyinggung perasaan dari seorang santri ketika membeli sesuatu di toko tersebut.

Dalam tema yang diusung itu, terdapat dua hal yang harus digaris bawahi, yang dikenal sebagai kata kunci, yaitu Harmonisasi Etnis dan Pilkada Kabupaten Purworejo. Apa yang disampaikan oleh pemateri, saya pada dasarnya tidak tahu secara persis apa yang dimaksud dengan Etnis yang mereka bicarakan, apa yang saya tangkap sebagai Etnis itu di sana adalah mengenai SARA: Suku, Agama, dan Ras. Suku adalah berkaitan dengan garis kebudayaan yang disusung, seperti Jawa, Sunda, Melayu, Bali, Batak, Asmat, Dayak, dsb. Adapun Agama adalah sebuah keyakinan yang dilembagakan dan diakui oleh pemerintah, dimana terdapat enam agama yang diakui, yaitu Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katolik, dan Konghuchu. Sedangkan, Ras adalah genetika yang dibawa sejak lahir dengan ciri-ciri fisik tertentu dan berasal dari kelompok besar dalam wilayah tertentu di dunia, seperti Kaukasoid, Mongoloid, Negroid, dsb. Namun, seperti yang kita sadari bersama, bahwa manusia memiliki sebuat sikap yang tidak hanya mencirikan identitas tunggal, bahwa seseorang dapat terlahir dengan genetika Kaukasoid, dengan budaya Jawa, dan beragama Islam, atau dia yang bergenetika Mongoloid, berbudaya Sunda, dan beragama Katolik, dan lain sebagainya. Maka kemudian etnis akan memberikan pengertian yang kompleks mengenai ketiga hal tersebut yang kemudian akan muncul dalam sebuah budaya yang dipahami oleh masyarakat, meski pada waktu-waktu tertentu akan muncul dalam keprivasian mereka. Namun yang menjadi pertanyaan besar saya adalah apakah Purworejo memiliki keragaman yang demikian sehingga dapat menimbulkan konflik yang cukup besar untuk masuk ke dalam konflik SARA?

Purworejo itu tidak meiliki keragaman yang cukup kental untuk membatasi setiap SARA yang dimiliki oleh penduduk Purworejo. Saya tidak menyangkal jika Purworejo didiami suku, agama, dan ras yang berbeda-beda, namun tidak ada satu perbedaanpun yang muncul secara ekslusif dari itu. Hal ini disebabkan karena telah ada sebuah kebudayaan pendahulunya yang disebut sebagai Bagelenan. Dan berbicara mengenai Pilkada Kabupaten Purworejo 2015, seharusnya pembicaraan ini muncul dalam bentuk pembicaraan peta politik dari etnis-etnis yang ada. Sedangkan etnis di Purworejo justru tidak memberikan banyak kekuasaan politik dalam setiap perbedaannya. Apa yang dimaksud politik dalam hal ini tidak dalam bingkai dangkal dan praktis, yaitu lebih pada ideologis dan mendalam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Saya tidak ingin membicarakan kepartaian yang kini hanyalah bualan belaka untuk memperoleh suara tapi sebuah kekuatan yang dimiliki oleh masyarakat Purworejo yang memiliki kekuasaan disendi-sendi kehidupan mereka.

Etnis yang saya maksudkan justru lebih mendalam dari sekedar perbedaan SARA di Kabupaten Purworejo. Mereka muncul secara turun-temurun meski tidak memiliki legitimasi namun diakui dalam kehidupan bermasyarakat. Hal ini justru sedikit muncul dari peserta, yang diwakili oleh Raden Junaidi Jazuli dan seorang kakek yang saya tidak tahu namanya, dia peserta yang memiliki kesempatan terakhir berbicara, meski tidak secara frontal. Petani tidaklah dianggap hanya sebelah mata sebagai pekerjaan bercocok tanam, tetapi sebuah, apa yang disebut dengan “kaum”, yaitu kelompok yang memiliki kekuatan ketahanan pangan. Mereka mengungkapkan bahwa kini petani hanyalah dikerjakan oleh mereka secara turun-temurun, tidak didasarkan dalam sebuah keinginan dalam arti minat. Mungkin beliau-beliau mengatakan jika ini adalah sebuah kelemahan, karena dibandang sebagai bidang yang tidak diminati, tetapi disisi lain adalah sebuah kekuatan politik yang hanya diperoleh dari keturunan, sehingga ketika menciptakan sebuah kelompok petani mereka memiliki kekuatan dalam bentuk kekerabatan maupun kekeluargaan untuk mendukung sebuah kekuasaan. Hal ini muncul dalam budaya mereka, yaitu ketika mereka harus memulai tanam, mereka selalu bermusyawarah kapan dan siapa yang harus menanam pertamakali, karena akan berpengaruh penanggulangan hama wereng ketika mereka memanennya. Sedangkan tradisi yang mengikutinya adalah pementasan wayang maupun slametan.

Seperti yang saya utarakan, bahwa ini bukanlah sekedar pekerjaan semata, tapi adalah sebuah basis politik di masyarakat. Layaknya yang diungkapkan oleh seorang ahli Antropologi Amerika, yaitu Clifford Geertz, yang membagi basis kekuatan politik masyarakat dalam tiga golongan, yaitu abangan, santri, dan priyayi. Hal ini mungkin tidak hanya muncul di Purworejo, tetapi juga muncul di wilayah-wilayah lain. Disamping kaum petani ada juga kaum pedagang. Selain itu juga ada yang muncul dalam kewilayahannya, yaitu wong kidul, wong pereng, dan wong pasar. Dan terakhir kaum yang sudah muncul pada saat berdirinya Purworejo yaitu kaum santri. Mungkin secara umum mereka dianggap sebagai kelompok sosial, tapi bagi saya mereka adalah etnis-etnis dalam masyarakat Purworejo, yang membagi penduduk Purworejo dalam basis politik mereka. Inilah yang saya maksud sebagai pemetaan politik, dan yang saya harapkan disampaikan dalam forum itu. Memang membutuhkan waktu panjang untuk mengetahui kekuatan politik dari masing-masing etnis itu, tetapi keseriusan dalam perpolitikan adalah sebuah hal yang harus dikerjakan juga. Saya akui bahwa pendapat saya adalah barulah sebuah kemungkinan yang harus dikaji secara panjang, dan saya pada dasarnya hanya memiliki data kasar secara pengalaman kehidupan bukan dalam dokumenter. Namun social sense saya cukup untuk memperkuat apa yang saya utarakan di atas.

Wednesday, September 23, 2015

Blitz-Craftmanship: Mengapa kemampuan estetik adalah hal yang paling dicemooh pada hari ini

by lukman wijaya b

Mereka pikir inovasi teknologi secara niscaya adalah evolusi pengetahuan yang tidak boleh di tolak dan akan menggantikan jenis pengetahuan sebelumnya. Wah…ini keterlaluan. Dahulu, fotografi berambisi mengambil alih peran lukisan, wujud pertama yang dicemooh adalah para pelukis realis. Seiring dengan kemampuan teknis industri yang berkembang, fotografer belajar teknik yang diciptakan pabrik kamera dan komputer untuk lebih memperluas kemampuan teknisnya merebut gaya impresionis dan kubistik dari lukisan. Bagaimana dengan Surrealis? Mereka lahir karena belajar juxtaposisi dari mekanika kamera daripada estetika. Kemampuan estetik yang diklaim, justru telah terdapat pada lukisan dan tulisan, jauh pada era sebelumnya. Lihat saja statement Breton jika tidak percaya.

Menarik memang semua ini, efeknya melebar sampai dengan tampilan mengejutkan para penonton sinema. Tetapi orisinalitas lukisan dan ketakziman dihadapan kualitas estetik individu tetap belum pudar, belum terpatahkan. Meski telah diproklamasikan kejatuhan estetikanya lewat kemunculan peran antagonis Warhol dan Cameron.

Dibalik upaya gagal yang tidak diproklamirkan tersebut, fotografi dan sinema mungkin masih cukup nyaman apabila berpikir tentang dirinya sebagai jurnalisme, daripada masuk kedalam jurang tanpa dasar estetika, ehmm…saya teringat Capa. Dari rasa minder sebagian pengikutnya karena merasa gagal, hal demikian yang coba di eksploitasi lebih jauh oleh Banks melalui visual analysis. Seperti kelahirannya yang dididik dengan salah sehingga penuh dendam terhadap lukisan. Kini pendidikan yang salah kembali di ulang, fotografi dan sinema harus membenci tulisan. Memberikan tempat sekunder kepada tulisan sebagaimana dulu fotografi, katanya, diperlakukan demikian. Bahkan jika perlu, menggantikan tulisan dengan sinema. Hasil akhirnya meminta sebuah keahlian yang sulit dicapai seperti melukis dan menulis coba diganti hanya dengan kehandalan dalam memencet tombol dan membiarkan mesin bekerja. Kun faya kun, karya luar biasa tercipta, bahkan sebelum mata berkedip selesai membuka kelopak.

Mungkin benar apabila selama ini hanya terdapat sedikit pengakuan terhadap mereka yang pantas disebut sebagai fotografer dan sutradara melalui rangkaian acara megah dan bombastis. Namun bukankah lebih baik apabila mencurigai event semacam itu adalah upaya pabrik kamera untuk mempromosikan alat mereka, teknik visual effect mereka. Sedangkan persoalan keahlian individu seperti “pelukis”, dihargai tidak lebih “sebagai buruh yang mencetak sepatu”. Eeh..apa anda bilang, “Van Gogh mencetak sepatu”…. anda belajar estetika dimana!??? Datangi saja seminar, pelatihan, atau pameran fotografi, pertanyaan dari peserta atau pengunjungnya adalah, “apa merk kamera yang dipakai?”, “apa tele yang dipakai?”. Terakhir, yang paling konyol, saat berbisik dengan temannya atau narasumber pelatihan, “beli kamera dan tele-nya dimana, berapa harganya?”.

Lagipula siapa hari ini yang tidak membawa kamera apabila keluar rumah, yang tidak memencet tombol untuk mencintai wajahnya sendiri yang jelek. Boleh saja menjadikan kamera memiliki kualitas representasi. Tapi metode pengajaran anda penuh dendam terhadap pelukis dan penulis yang justru memiliki kekuatan representasinya sendiri, terpisah dari apa yang dapat dilakukan oleh jari dan mata yang menempel kamera. Teknik massa ini lebih menunjukan kemampuan sarana produksi hari ini dan kemampuan masyarakat dalam mengkonsumsi. Sehingga degradasinya sebagai sebuah keahlian khusus mustahil terulang seperti pada awal abad 20 dimana kamera adalah deus ex machina, kamera adalah sebuah keahlian klerus di studio. Kamera bagaimanapun juga masih lebih kuat dan berarti bagi siapapun yang memegang dan mengoperasionalkannya apabila meletakkan makna dokumenter pada karyanya. Melalui sebuah kesaksian; menanggung beban agar materi, pengalaman, dan peristiwa tetap awet; bukan demi karya itu sendiri namun demi sesuatu diluar karya itu. Darinya dia akan menyadari hutangnya pada prespektif pelukis; darinya dia akan menyadari masih membutuhkan tulisan meski gambar mampu menampilkan peristiwa namun tulisan yang memberikan logika atau dialektika (ingat film bisu dan era ketika berita harus ditonton di gedung bioskop). Karena jika berharap dirinya hadir sebagai sepenuhnya estetika dan keahlian khusus, derajatnya dapat jatuh serendah mungkin kedalam kemampuan massa untuk dapat memproduksi hal yang sama. Bukan karena kemampuan estetika massa itu sendiri, namun karena produk yang konsumen pegang memang memiliki spesifikasi pabrik yang cukup baik. Jadi kalau dipikir ulang kasihan juga si Man Ray, betapa estetikanya kini terlihat lucu dan naïf. Bisa jadi dia akan sangat jengkel dengan remaja jaman sekarang, bergigi tongos dan pakai kawat suka iseng otak-atik gambar lewat corel. Atau orang mencoba berbangga ketika mengetahui yang membuat kartun Ipin Upin adalah orang Indonesia. Kebanggaanya disatu sisi adalah mengimbangi rasa minder dengan kartun produksi Disney, disisi lain kebanggaannya tidak mencermati tentang era kemunculannya; kenapa baru sekarang, kenapa tidak sejak awal abad 20 seperti Disney? Karena kebanggaannya tidak memperdulikan bahwa teknologi penciptaan image kartun telah menjadi massal dan kompak sekaligus mudah diakses oleh perusahaan manapun, biaya dan waktu yang dipakai lebih murah dibanding era Mickey Mouse hitam putih. Jadi sebenarnya kebanggaan tersebut karena apa? Karena syarat produksi telah memungkinkan atau mengobati rasa minder?

Suatu ketika Van Gogh pernah bercerita saat catnya habis dan tidak memiliki uang untuk membeli, “hanya dengan gagang kayu sebuah sapu, seniman mampu menghasilkan karya”. Tetapi hari ini tanpa kamera dan lensa yang handal, anda sulit dan mustahil menghasilkan sesuatu yang layak disebut karya. Jika diperkenankan, saya mengulang gerutu seorang teman: “Menjadi pelukis jauh lebih mudah daripada menjadi fotografer, karena anda tidak harus sangat kaya untuk membeli alatnya. Namun menjadi pelukis juga jauh lebih sulit dibanding dengan menjadi fotografer yang keahliannya dapat diasah selama beberapa hari saja, lewat seminar, lewat pelatihan”. Benarkah hal demikian dapat terjadi, mungkin saja…. ketika kondisinya tepat.

Friday, September 18, 2015

Untuk Sidkhi: Calon Seniman Lukis Legendaris Purworejo

by pandu pramudita

I. Aku menolak Kematian

L'Origine du Monde
Gustave Courbet
1866
Oil on canvas
46 cm x 55 cm

Sebuah karya lukis dari Gustave Courbet seorang pelukis dari Prancis yang berjudul “Asal-muasal Dunia”, menunjukkan sepotong tubuh wanita telanjang dengan posisi tidur dan paha yang membuka memperlihatkan bagian vulva dengan hiasan rambut kemaluan yang hitam, terbaring dalam selimut putih dengan bagian dada sedikit tertutupi selimut itu meski masih terlihat puting yang memerah. Bercerita bahwa “manusia yang membentuk dunia ini, menjalankan sebuah sistem kemasyarakatan, membentuk pengetahuan-pengetahuan, adalah tidak lain berasal dari sebuah lubang yang tidak lebih lebar dari jari telunjuk manusia dewasa. Seberapapun besarnya manusia itu, mereka hanya akan muncul dari lubang yang dikenal sebagai vulva.” Pertanyaannya adalah, siapa yang bercerita seperti itu? Apakah Coubert sang pelukis L'Origine du Monde? Atau wanita telanjang sepotong itu? Bukan, cerita itu berasal dari saya sendiri. Jadi apakah saya salah dalam menceritakan lukisan itu? Tidak sepenuhnya salah dan tidak juga sepenuhnya benar.

Kematian Sang Pengarang

Kemunculan si pengarang adalah bagian dari mempertunjukkan diri dalam sebuah prestise modern dimana karya intelektualnya akan dipahami sebagai miliknya. Sepertihalnya lukisan L'Origine du Monde, dimana Coubert menunjukkan dirinya pada dunia bahwa dia memiliki pemikiran mengenai asal muasal dunia dengan lukisan seorang wanita sepotong telanjang dengan fokus pada vulvanya. Sudah pasti, bahwa Coubert memiliki sebuah pengetahuan yang ingin ia sampaikan kepada orang lain, dan pengetahuan itu memiliki penjelasan dalam bentuk deskripsi dan narasi di balik lukisan L'Origine du Monde itu. Dalam sebuah lukisan, akan sangat jarang teks (dalam arti simbol huruf), bahkan tidak ada sama sekali, tertera dalam lukisan, sehingga apa yang dibaca oleh orang lain tidak lain hanya sebuah visual. Oleh sebab itu, seorang pembaca akan memberikan interpretasinya atau menarik pemaknaan mengenai lukisan dari pengetahuan yang dia miliki saat itu. Semakin luas pengetahuan yang dimiliki si pembaca maka akan semakin banyak juga penjelasan yang dapat ia ungkapkan dari melihat karya si pengarang. Dan hal ini berlaku sebaliknya. Dalam hal ini, si pembaca dengan si pengarang terjadi ketika mereka terpisah.

Lalu apa yang memisahkan mereka? Tidak lain adalah karya itu sendiri. Sebelum L'Origine du Monde itu muncul dalam lukisan, konsep itu dimiliki seutuhnya oleh Coubert dalam benaknya. Namun ketika L'Origine du Monde menjadi material (benda yang dapat diinderawi) sebagai lukisan, maka material itu sudah keluar dari dirinya. Ini yang oleh Roland Barthes, bahwa pengarang menghadapi kematiannya. Kematian Sang Pengarang, dalam pandangan Barthes itu mengungkapkan bahwa, sebuah karya akan dengan bebas diterjemahkan oleh pembaca dalam rangkaian narasinya, sedang si pengarang pada waktu itu sudah dianggap mati. Mungkin mati dalam arti sebenarnya, tetapi “mati” disini diartikan bahwa sesungguhnya pemaknaan karya terletak pada pembaca karya itu. Sedang si pembaca bukan berarti mereka memiliki kebenaran dalam pemaknaan karya, tetapi sesungguhnya pembaca hanya mengada. Mengada dalam hal ini bukan karena pembaca “asal” (dalam bahasa Jawa, ngawur) tapi pembaca memiliki, yang oleh Hegel disebut pra-persepsi, dimana hal yang dibaca adalah material-material yang melekat pada objek dan dihubungkan dengan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca. Lalu, apakah pengarang harus melawan pembaca dengan cara terus-menerus menarasikan karyanya?

Suatu ketika, pengarangpun juga akan mati dalam arti sesungguhnya, sedang pembaca akan selalu bermunculan dalam rentan waktu sepanjang karya itu masih ada. Sudah barang tentu Coubert itu sudah mati, tetapi karyanya itu masih ada, dapat saya indera, dan kemudian saya mengada dengan narasi yang saya bangun mengenai L'Origine du Monde itu. Meskipun pada satu kesempatan yang masih tersisa si pengarang membuat sebuah narasi tertulis, bukan berarti itu juga akan menjadi narasi tunggal, bisa jadi narasi itu akan dimusnahkan dan tak dianggap oleh pembaca. Lalu, apakah nasib pengarang hanya akan “dibuang” oleh zaman?

Pendidikan Masyarakat

Karya adalah sebuah bentuk material pengetahuan yang disajikan oleh pengarangnya. Berbagai karya itu muncul dalam masyarakat yang berjalan secara fungsional maupun estetika. Baik itu fungsional maupun estetika, pengetahuan adalah hal yang utama yang ingin pengarang sampaikan kepada pembaca karya-karyanya. Dalam hal ini, pengarang telah menyususn sebuah narasi panjang di balik karyanya, yaitu pengetahuan yang ingin disampaikan oleh para pembaca. Tetapi, narasi itu bukanlah sebuah penceritaan ulang karya. Pengetahuan yang Coubert sampaikan bukan ketika Coubert menceritakan L'Origine du Monde. Jika itu terjadi, justru Coubert pada saat itu tidak lagi sebagai si pengarang tapi berubah menjadi si pembaca. Sebagai si pengarang, yang dilakukan oleh Coubert adalah memberikan pengetahuan bagi calon-calon pembaca karyanya, khususnya L'Origine du Monde, mengenai dunia, manusia, feminisme, ataupun seksualitas.

Hal yang dapat dilakukan oleh pengarang untuk menepis kematiannya adalah memberikan pengetahuan yang dimilikinya kepada calon-calon pembaca. Sehingga, apa yang dibaca oleh pembaca akan sedikit-banyak seperti apa yang disampaikan oleh pengarang dalam karyanya. Reinkarnasi si pengarang adalah terletak pada bagaimana pembaca dapat mengerti dan atau memahami pengetahuan yang pengarang sampaikan. Pada waktu itu sudah pasti pengarang sudah mati, hanya pembaca jugalah yang dapat menghidupkan mereka kembali dengan dapat menggali apa pengetahuan dibalik hasil karya. Sangat penting bahwa si pengarang setelah ataupun sebelum memunculkan karyanya, mempersiapkan pembaca-pembaca karyanya. Apalah arti jika karya itu hanyalah sebagai “ornamen” sampingan dalam tata ruang yang estetis maupun fungsional. Baik sebagai karya estetis maupun fungsional, hanya akan berarti sejauh karya itu menyajikan sebuah pengetahuan dalam kehadirannya di dalam tata ruang.

Mempersiapkan pembaca adalah bagian dari tindakan, yaitu mengenai pendidikan masyarakat. Paulo Friere mengatakan, bahwa “dalam pemikiran dialektis, dunia dan tindakan adalah dua hal yang saling berkait satu sama lain. Tetapi tindakan hanya manusiawi jika ia bukan semata-mata sebuah pekerjaan rutin tetapi juga merupakan suatu perenungan yang mendalam, yakni bila ia tidak dibedakan secara dikotomis (terpisah) dari refleksi.” Dalam dunia ideologi, lukisan itu hanyalah sebatas karya, sedang tindakannya adalah menyampaikan pengetahuan yang tersirat dalam karya itu dengan narasi yang sama ketika membangun lukisan itu. Sudah barang tentu, sebelum pelukis menggoreskan cat-cat berwarna dalam kain kanvas, narasi sebuah masyarakat dibangun dalam benaknya, sedang komposisi warna yang membentuk sebuah objek adalah media yang akan menyimpan pengetahuannya secara estetis. Sedangkan, apa yang disampaikan kepada masyarakat bukan lukisan hasil karyanya, tetapi justru narasi yang dibangunnya itu. Lukisan itu adalah sebuah refleksi antara dunia dan tindakan. Artinya, lukisan tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan yang membangunnya dengan kewajiban penyampaian pengetahuan tersebut kepada masyarakat.


II. Antara (Aku) Ada dan Tiada

Seorang makhluk gua suatu hari menyalakan api di dalam gua. Ketika dia menengok ke belakang, dia melihat sosok hitam tinggi besar. Tapi ketika dia perhatikan betul, sosok itu tidak bergerak sama sekali. Dan dia terkaget ketika justru dia bergerak, sosok hitam besar itu juga bergerak. Lalu ia berusaha mendekati sosok itu, tapi yang terjadi sosok itu malah mengecil hingga tidak tampak seiring gelapnya gua. Ia pun kembali ke sumber api itu dan sosok itu kembali menjadi besar. Kemudian dia tersadar bahwa sosok itu adalah bayangannya sendiri. Namun dia menjadi bertanya-tanya, “jika sosok itu adalah aku, jadi aku yang sebenarnya apakah badan ini, bayangan itu, atau api ini?

Fenomenologi

Di atas adalah gambaran garis besar dari pemikiran Plato mengenai “Manusia Gua” yang menjelaskan gagasannya mengenai “ide”, bahwa dunia itu berpusat pada pikiran manusia. Gagasan Plato tentang ide ini kemudian dikembangkan oleh Rene Descartes ketika dia mempertanyakan tentang keber-ada-an, apakah dirinya itu sungguh-sungguh nyata ada di dunia ini atau hanyalah bayangan dari skenario ilahi. Sebuah kalimat yang tidak asing mengenai gagasannya berbunyi “Cogito ergo Sum” yang artinya “Aku berpikir maka Aku ada”. Letak keber-ada-an manusia adalah pada kesadaran atau cogito, yaitu ketika manusia berpikir maka saat itu juga dia akan meyakini bahwa dirinya nyata di dunia ini. Namun demikian, pemikiran Descartes ini dibawa secara radikal oleh Edmund Husserl, dimana dia menyangkal mengenai gagasan Descartes. Menurut Husserl, kesadaran yang dijelaskan di dalam cogito ergo sum Descartes itu masih pada taraf kesadaran tertutup. Bagi Husserl bahwa kesadaran itu pasti terhadap sesuatu, jadi manusia itu tidak hanya berpikir, tetapi juga ada sesuatu yang dipikirkannya, suatu objek. Dalam cogito ergo sum, Husserl menjelaskannya bahwa aku berpikir mengenai pikirannya itu sendiri. Aku yang sedang berpikir adalah kesadaran subjek, sedang mengenai pikiran yang sedang dipikirkan itu adalah kesadaran objek. Kita tidak mungkin memikirkan tanpa ada objeknya, pasti ada sesuatu yang dipikirkan.

Kesadaran adalah kunci dari keber-ada-an diri di dalam dunia ini. Aku ada karena aku berpikir, sedang kesadaran itu pasti terhadap sesuatu. Manusia selalu mencari-cari tentang keber-ada-an dirinya, yaitu mengenal dirinya dari objek-objek yang mampu dia masukkan ke dalam kesadarannya. Misalnya, kain kanvas dan cat-cat warna adalah bagian dari hidupku karena aku adalah seorang pelukis. Namun demikian, mencapai kesadaran itu tidak kemudian datang dengan semena-mena. Di dalamnya terdapat suatu penundaan atau epoche, yaitu sebuah refleksi diri mengenai objek yang dipikirkannya itu. Penundaan ini terjadi karena pada dasarnya objek telah memiliki sebuah makna yang dipahami oleh khalayak umum. Misal, kain kanvas itu adalah media lukis sedang cat dan kua adalah bahan utama untuk bervisualisasi. Setelah ada makna umum itu, sebagai seorang pelukis yang tidak dapat bekerja ketika tidak ada hal-hal itu maka dia memaknai bahwa kanvas, cat, dan kuas adalah bagian dari kehidupannya, karena tanpa itu dia tidak dapat memvisualisasikan apa yang ada di benaknya.

Eksistensialisme

Fokus eksistensialisme tidak jauh berbeda dengan fenomenologi, karena Jean Paul Sartre, yang mengemukakan tentang pandangan ini juga berawal dari fenomenologi. Eksistensialisme juga mengemukakan mengenai keber-ada-an dan kenyataan. Hal yang ditekankan dalam eksistensialisme Sartre adalah mengenai dua hal, esensi dan eksistensi, lebih khususnya dia memandang bahwa eksistensi mendahului esensi. Apa itu eksistensi dan esensi? Esensi biasa dijelaskan dengan hakekat, definisi, sifat, ide, fungsi, yang muncul dari benak manusia, sedang eksistensi adalah bentuk material. Pada awalnya, esensi itu mendahului eksistensi, seperti sebelum adanya sebuah benda yang namanya “kuas”, pelukis memikirkan sesuatu hal yang dapat menjadi medianya untuk mengambil warna dan memoles-moleskan, digunakan dengan mudah dan praktis, maka terciptalah sesuatu yang berbentuk batang dengan ujung yang berserabut yang disebut dengan kuas. Namun, setelah ada kuas itu, si pencipta tidak akan terus-menerus memertahankan esensi itu dengan hukum dan aturan yang ketat yang akan mengenakan sanksi pada setiap pemakai yang membuat esensi baru dari kuas. Sebaliknya, bahwa eksistensi kuas itu akan tetap, dimana benda itu dapat dengan mudah dibuat atau dicari di toko-toko. Di saat itulah esensi dari kuas akan beraneka ragam. Bagi seorang pedagang, kuas itu adalah barang dagangan yang dapat menghasilkan uang, namun bagi pelukis, kuas itu adalah bagian mediasi dari inspirasinya. Oleh sebab itu, eksistensi itu mendahului esensi.

Tidak juga jauh dari pemikiran Sartre dan Husserl, Martin Heidegger juga berpikiran mengenai fenomenologi dan eksistensialisme. Pandangan Heidegger memfokuskan pada “Yang ADA”. “Ada” (selalu dengan huruf besar) merupakan syarat awal atau dasar yang memungkinkan segala sesuatu “yang lain” menjadi ada. Heidegger menyebut “yang lain” sebagai “ada atau pengada” (selalu dengan huruf kecil). Kita mengetahui yang Ada itu melalui pengada-pengadanya. Lawan dari Ada adalah Ketiadaan. Dicontohkan dengan Sinar, bahwa dengan sinar kita dapat melihat kerbau, rumput, pohon, belalang, awan, langit, dan material-material yang muncul di sekitar kita. Tapi sebaliknya, tanpa sinar, kita tidak dapat melihat apapun, semua menjadi gelap, kosong. Lalu, sebenarnya apa itu eksistensi dan Ada? Jawabannya sesungguhnya cukup sederhana, yaitu aku, kamu, dia, kita, mereka, kalian, ialah manusia yang mampu mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Manusia itu juga termasuk pengada, tetapi pengada yang khusus, yang dimungkinkan sekali menjadi Ada. Heidegger mengatakan bahwa manusia itu memiliki kemampuan untuk mengangkat permasalahan-permasalahan yang berarti manusia mempunyai hubungan khusus dengan mereka (permasalahan-permasalahan itu) dan dengan cara tertentu mempunyai cara untuk menjawabnya. Dalam eksistensialisme Heidegger, manusia bukan mengukuhkan eksitensi pengada lainnya, tetapi justru sebagai usaha untuk menyingkap eksistensi dirinya sendiri. Memahami permasalahan-permasalahan yang ada di sekitar adalah sebuah usaha memahami diri kita sendiri, siapakah diri kita. Sedangkan bagi manusia yang gagal dalam memahami eksistensinya, mereka akan mengalami yang disebut Heidegger sebagai Keterlemparan.

Self Portrait with Jewish Identity Card
Felix Nussbaum
1943
Oil on canvas
56 cm x 49 cm
Auschwitz / Prisoner
Felix Nussbaum
1944
Oil on canvas
47 cm x 42,5 cm

Felix Nussbaum, seorang pelukis jerman yang hidup sebagai salah seorang Yahudi. Dua karya Nussbaum yang terkenal yaitu Self Portrait with Jewish Identity Card dan Auschwitz. Lukisan yang berujudul Self Portrait with Jewish Identity Card memberikan pengetahuan pada zaman itu kebebasan beragama sangat nyata, sedang Nussbaum telah menemukan eksistensinya sebagai seorang Yahudi. Lukisan yang berjudul Auschwitz atau Prisoner – mungkin sebelum kematiannya, Nussbaum belum memberikan judul, sehingga kepastian judul tidak dapat dipastikan, Auschwitz adalah nama tempat dimana ia ditahan (en.wikipedia.org) sedang Prisoner adalah tahanan (the-athenaeum.org), namun keduanya saya yakin menceritakan hal sama meski memiliki spirit yang berbeda – adalah karya terakhirnya sebelum ia dibunuh di Auschwitz Camp seminggu setelah lukisan itu selesai. Lukisan ini dipercaya sebagai lukisan eksistensialisme (huffingtonpost.com). Dia melukis pada saat berkembang-nya paham Nazi di Jerman. Dia harus melarikan diri dari kejaran tentara Jerman. Alasannya sederhana, Nussbaum adalah seorang Yahudi. Sebagai catatan sejarah terburuk, Nazi adalah yang bertanggung jawab terbunuhnya beribu nyawa Yahudi. Dalam lukisan Auschwitz beberapa mengatakan lukisan itu menceritakan bagaimana kondisi bencana luar biasa, yaitu bencana sosial (english.illinois.edu). Dalam pandangan eksistensialisme bahwa Nussbaum menderita karena eksistensinya sebagai seorang Yahudi, karena eksistensinya yang justru membuatnya ditangkap, ditahan di Auschwitz Camp dan dibunuh oleh tentara Nazi. Pada lukisan Nussbaum di sebelah kiri, yang berjudul Self Portrait with Jewish Identity Card, bahwa Nussbaum sedang bercerita bahwa dia bangga akan eksistensinya sebagai seorang Yahudi, namun menjadi hal yang berbeda pada lukisan yang berjudul Auschwitz, dimana nampak Nussbaum mengalami Keterlemparannya dari dunia.

III. Sedikit Mengenai Diri
Psikoanalisis

Terkadang kita lupa dengan diri kita, atau justru tidak mengetahui diri kita sama sekali. Apa yang kita ketahui hanyalah tindakan yang dapat kita lakukan, sedangkan orang lain mengenali diri kita dari tindakan yang kita lakukan itu. Oleh sebab itu, mengenali jati diri adalah hal yang penting. Dalam tulisan Emile Durkheim, kehampaan jati diri lebih banyak mendorong orang untuk melakukan bunuh diri. Apa yang dilakukan manusia lebih banyak mencerminkan apa yang mereka inginkan. Manusia biasanya melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan mereka. Keinginan juga biasa disebut dengan hasrat. Tetapi, hal ini juga seperti apa yang dilakukan oleh hewan. Satu hal yang tidak dilakukan oleh hewan, yaitu dia tidak dapat melakukan diluar apa yang mereka inginkan, sedang manusia lebih banyak demikian. Misalkan saja, karena lapar kemudian makan, tapi tidak semua manusia bisa makan setelah dia lapar, mungkin tidak ada bahan makanan, tidak ada hal yang bisa dimakan, tidak ada uang untuk dibelikan makanan, tidak ada barang yang dapat ditukarkan sebagai makanan, akhirnya untuk mengatasi lapar dia tidur, dia minum air putih yang banyak sedikit dikasih gula, dia merokok, atau mungkin bertamu ke rumah teman berharap mendapat makan.

Dalam membicarakan keinginan atau hasrat, Jacquas Lacan lebih banyak berbicara mengenai seks, yaitu mengenai Penikmatan, yaitu sesuatu yang memuncak seperti dalam orgasme, namun melampauinya dan mempunyai gejala-gejala. Hewan adalah makhluk yang sangat jujur dalam melampiaskan seksnya, yang akan mencari lain jenisnya untuk berhubungan seks. Hewan tidak memiliki arti tetap mengenai seks. Berbeda dengan manusia, yang dapat memperoleh kepuasan atau kenikmatan seksualitas melalui kata-kata, bahasa, dan aneka ragam lainnya seperti sutra, karet, jaket kulit berwarna hitam, bahkan tiang lampu. Bagi Lacan dan Sigmun Freud, seks itu melampaui dari sekedar bersetubuh. Apa yang mereka cari dari seks tidak lain adalah penikmatan itu. Namun demikian, ada juga manusia yang mencari kenikmatan dengan suatau cara yang masih berhubungan dengan keintiman langsung mereka, misalnya masturbasi, phone sex, atau mencambuk tubuhnya.

The Persistence of Memory
Salvador Dali
1931
Oil on canvas
24 cm x 33 cm

Tidak semua keinginan manusia itu dapat disampaikan atau dilampiaskan. Itu sebabnya psikoanalisis masih dianggap penting. Dalam tradisi Amerika, psikoanalisis tidak banyak dianggap, karena mereka beranggapan psikoanalisis sulit untuk dapat diukur, dan itu sudah diakui oleh Sigmund Freud dimana dia sendiri mengatakan bahwa tidak ada arti yang tetap pada setiap perkataan manusia. Manusia pada dasarnya memiliki kemampuan yang luar biasa dalam mengekspresikan diri, namun untuk bisa dipahami oleh orang lain hanya dengan bahasa yang memiliki makna terbatas. Untuk menjaga agar keinginan itu dapat berjalan terus, manusia biasanya akan menciptakan khayalan-khayalan atau fantasi, karena hanya dalam fantasi-lah keinginan-keinginan yang sulit atau bahkan mustahil dapat terjadi. Namun, hal ini kemudian menjadi bagian dari ketidaksadaran manusia, dimana kadang-kadang dia akan mengalami yang oleh Lacan disebut sebagai pengandaian. Lagi-lagi Lacan menggiringnya ke dalam ruang seks. Lacan lebih mencontohkan, saya mencintai Lusi, dan ketika saya bersetubuh dengan Jeni sebenarnya saya sedang bersetubuh dengan Lusi, dan saat itu saya tidaklah sedang berselingkuh, karena yang saya hadapi sebuah pengandaian dengan Lusi.

Pandangan mengenai pengalihan ini dibawa lebih jauh oleh Slavoj Zizek, dimana Zizek lebih menyebutnya dengan sublimasi. Sublimasi menurut Zizek tidak jauh berbeda dengan Pengalihan menurut Lacan, tetapi Zizek lebih menekankan bahwa dalam mengalihkan keinginan manusia, mereka tidak harus melakukan hal yang sama dengan mengenakan objek yang berbeda, seperti yang dicontohkan itu. Tetapi sublimasi dapat dilakukan dengan tindakan yang berbeda dengan objek yang berbeda pula. Contohnya, ketika melampiaskan hasrat seksualitas, saya menggambar segumpal air yang terjun dari tebing tanpa ada aliran sungai yang mengawalinya.

Pada tahun 1920an dan 1930an, adalah masa kejayaan psikoanalisis, dimana psikoanalisis merambah juga ke dunia seni lukis, khususnya kaum surialisme. Banyak kaum surialisme mendalami psikoanalisis di era itu, termasuk Salvador Dali, seorang pelukis surialisme asal Spanyol. Salah satu lukisannya yang juga didasari tentang psikoanalisis adalah yang berjudul The Persistence of Memory. Jam saku yang meleleh adalah konsep yang diusung oleh Dali mengenai “kelembutan” dan “kekerasan”. Dawn Ades mengatakan bahwa jam saku yang meleleh adalah sebuah simbol ketidaksadaran relativitas mengenai ruang dan waktu. Dali sedang memfisualisasikan pandangannya mengenai teori relativitas yang dikemukakan oleh Albert Einstein. Pada dasarnya psikoanalisis digunakan sebagai psikoterapi, dimana psikoanalis akan mengobati pasien yang jiwanya sedang terguncang. Namun, hari ini psikoanalisis lebih dipandang sebagai aliran filsafat ketimbang sebagai aliran psikologi.